Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Prejudice


__ADS_3

1 hari yang lalu…


“kita ketemu lagi ya… anak nakal” bisik Elvira di telinga Yukiya.”eh, kita udah pernah ketemu kan sebelum nya? kamu beneran anak yang waktu itu ketemu aku di rumah sakit kan?”


“Iya… ini aku. Yukiya” jawab yukiya.


“Yuki! Kamu beneran Yuki!”


            Elvira mendorong pemuda itu hingga kaki Yukiya tersandung pembatas jalan. Pemuda itu jatuh terduduk. Namun Elvira dengan cepat langsung **** nya, menduduki perut Yukiya hingga pemuda itu kesulitan untuk bangkit.


“Vira, kita udah gede loh… entar orang yang lewat ngira nya kita lagi ngapain” protes Yukiya. Elvira langsung mengeluarkan sesuatu dari saku baju nya, sebuah gunting besi yang terlihat mengkilat.


“Yuki… rambut kamu kayak nya udah panjang. Aku potong ya?”


            Gadis itu langsung mengarahkan gunting nya ke rambut Yukiya. Tentu saja Yukiya tak bisa membiarkan nya begitu saja, ia berusaha menahan tangan Elvira sebisa mungkin.


“Vira… nanti rambut aku jadi nggak rapi” protes nya.


“sedikiiiittt aja… ya? Please?”


            Walau yukiya menahan tangan nya, pada akhirnya Elvira berhasil memotong rambut Yukiya beberapa senti. Yukiya kemudian Mengangkat tubuh Elvira agar gadis itu berhenti menindihnya, sehingga ia bisa bangkit dari posisi nya.


“Yuki sekarang udah besar ya… padahal dulu nggak pernah ngelawan” ucap Elvira sambil memainkan potongan rambut Yukiya di tangan nya.


“jadi, Vira masih hidup? Aku pikir kamu udah nggak ada” ucap Yukiya kemudian.


“aku masih ada, tapi nggak tau kenapa… aku dikurung di suatu tempat yang gelap dan kosong. Makasih udah manggil aku, sekarang aku bisa lihat matahari lagi” Elvira melepaskan pandangan nya kea rah matahari yang hampir tenggelam.


            Walau bagaimana pun moment itu tak akan berlangsung lama. Tangan Elvira tiba tiba bergerak sendiri. Dengan gunting di tangan nya, ia kembali melukai tangan sendiri, membuat darah segar menetes dari luka yang terbuka itu. Yukiya sendiri tak melakukan apa apa, hanya diam dan menyaksikan perubahan orang yang barusan ia panggil Vira kembali menjadi Elvira.


“Yukiya!!!” Elvira berteriak, tangan nya mengepal kuat. darah yang


menetes dari tangan nya yang terluka tak ia hiraukan.


“oh, lo udah balik lagi. Hai” ucap Yukiya datar.

__ADS_1


“gue udah ngeduga, kalau ada yang nggak beres dari lo!”


“yang nggak beres itu bukan nya lo? Cewek yang punya kepribadian ganda?”


***


            Yukiya kembali keatap sekolah, ke tempat dimana Eric dan Alfian berada walau dengan tangan kosong.


“gue udah minta anak Jurnalistik buat nge desain poster kita. Nanti bayar nya patungan ya” ucap Yukiya sesampai nya di atap.


“oke” jawab Alfian singkat. “ngomogin kegiatan udah, masalah poster on process… tadi nya gue mau nunjuk wakil ketua dan bendahara. Tapi, karena Elvira gak ada... kayak nya kita tunda dulu sampai semua nggota lengkap” ucap Alfian kemudian.


“kalau ruang kegiatan klub? Kayak nya kita nggak bisa pake ruangan pak Nathanael selamanya” Eric berpendapat.


“sampai kita dapet kegiatan yang bisa narik perhatian seisi sekolah, pilihan nya Cuma ruangan pak Nathanael atau jadi Nomaden. Kalau mau nginduk ke klub lain pun, kita harus bisa nunjukin sesuatu dulu.” Jawab Alfian. “buat kegiatan selanjutnya, kalau ruangan pak Nathanael nggak bisa dipake lagi, gue bakal cari tempat selain atap deh. Kalau memungkinkan, di luar lingkungan sekolah juga boleh” lanjut nya.


“kalau gitu, pembahasan buat hari ini udah beres.” Eric bangkit dari tempat nya duduk dan mengambil tas nya.


“gue juga masih ada urusan lain, jadi gue duluan ya” ucap Alfian seraya meninggalkan atap.


“gue mau langsung pulang, mumpung ada waktu buat rebahan…” Yukiya juga hendak meninggalkan atap, namun Eric langsung menahan pemuda itu untuk pergi. “kenapa? Ada yang mau diomongin?” tanya Yukiya heran.


Yukiya memasang senyum misterius.


“nggak ada apa apa kok. Kalau lo nggak percaya, kenapa nggak tanya Elvira langsung? Kejadian satu hari yang lalu juga termasuk bagian dari masa lalu gue. Kenapa nggak lo coba periksa aja pake kemampuan lo?”


***


            Gadis itu berdiri disana, menunggu seseorang sambil memainkan ponsel di genggaman nya. sesekali,


ia melihat ke sekitar, kalau kalau orang yang ia tunggu menunjukan batang hidung nya.


            Eric menghampiri gadis itu dengan langkah santai. Ia tahu ia terlambat, tapi ia tak mau repot repot mempercepat langkah nya. toh pertemuan ini pun bukan atas keinginan nya.


“udah nunggu lama ya, kak Julia?” ucap Eric tanpa nada bersalah sedikit pun.

__ADS_1


“enggak juga, gue juga ke ruang Jurnalistik dulu kok sampe ada anak kelas A yang gantiin jaga” Julia menyanggah.


“langung ke inti nya aja. jadi, kak Julia mau ngomongin soal apa?” Eric berusaha langsung ke inti pembicaraan. “kak Julia itu pacar nya kak Alfian kan? Bahkan acara ketemuan sepulang sekolah di belakang GOR ini juga tanpa


sepengetahuan kak Alfian kan? Reputasi gue udah jelek sejak kejadian kemaren. Gue gak mau dituduh jadi PHO (Perusak Hubungan Orang) kalau sewaktu waktu kalian putus”


“ini nggak ada hubungan nya sama Alfian” ucap Julia tegas.


“nggak ada hubungan nya sama Kak Alfian gimana? Kemaren dia sempet marah loh gara gar ague nggak cerita soal alasan lo nge gampar gue”


“Alfian nanyain soal itu?”


“tadi pagi juga nanyain lagi”


            Wajah Julia berubah pucat. Bagaimana kalau Alfian tahu? Bagaimana kalau Eric terlanjur membocorkan rahasia nya pada Alfian?


“tenang, gue bukan tipikal orang yang suka ngumbar aib orang lain” Eric berusaha meyakinkan Julia.


“soal nyokap gue… sejauh mana lo tau?” tanya Julia kemudian. “jadi apa yang Yukiya bilang bener? Soal lo yang bisa liat masa lalu orang lain?”


Eric menganggukan kepala nya. dilihat dari reaksi Julia, tampak nya… memegang rahasia gadis ini akan memberinya keuntungan juga.


“ibu kak Julia itu… istilah halus nya, ‘wanita panggilan’ kan? Dari kecil kak Julia udah biasa liat ibu kak Julia pulang dalam keadaan mabuk sambil bawa laki laki ke rumah—“


“Cukup!” Julia memotong. “nggak usah lo jelasin lagi, gue nggak mau nginget nginget kejadian yang nggak perlu”


Julia menghela nafas panjang.


“jadi, gimana cara nya supaya lo tutup mulut?”


Eric langsung tersenyum begitu mendengar perkataan Julia.


“gue udah pernah bilang kan, kalo kita sama busuk nya? yang pasti, kelemahan kak Julia yang satu ini bakal gue manfaatin buat kepentingan gue”


Julia mendengus kesal. Ia tak habis pikir kalau dirinya bisa terjebak dalam situasi seperti ini. rasa nya seperti Karma.

__ADS_1


“gue pengen kak Julia nyari tau informasi tentang seseorang”


***


__ADS_2