
“nama saya Nathanael kim. Umur saya 22 tahun. Mulai hari ini, saya akan menjadi guru pembina di klub Esperia” Pemuda itu, membuka pertemuan.
Eric tidak tahu, reaksi macam apa yang harus ia tunjukan ketika pemuda itu mulai memperkenalkan diri sebagai pembina klub. Jadi, ia refleks bertepuk tangan dengan canggung, diikuti anggota klub lain nya, termasuk Elvira dan hantu yang duduk di sebelah nya.
“pertama tama… saya akan menjelaskan tentang tujuan dibentuk nya klub ini. Esperia adalah klub yang didirikan untuk mewadahi anak anak dengan Extra sensory perception, atau biasa disebut sebagai Esper. Atau istilah awam nya, indra ke enam. Tapi… karena satu dan lain hal, untuk sementara kita juga bisa menerima anak non-Esper untuk bergabung juga” Nathanael mengalihkan pandangan nya pada Yukiya.
“eh, non-Esper… maksud nya gue?” Yukiya menoleh ke kanan dan kiri nya. “semua anak disini punya indra ke enam? Termasuk lo Ric?” tanya Yukiya tak percaya.
“yah… anggap aja kaya gitu” jawab eric Asal.
“perlu diketahui, Esper itu ada. Orang orang dengan kemampuan ekstra sensory perception itu ada. Namun tidak ada indicator khusus yang dapat menilai hal tersebut sehingga pengetahuan mengenai Esper hanya dianggap sebagai bagian dari pseudo-science. banyak Esper yang tidak memahami fungsi dari kemampuan istimewa nya, sehingga kemampuan itu kerap di salah gunakan. Esper juga sering disalah pahami oleh masyarakat awam, karena itu… klub ini didirikan agar kalian mendapat pembinaan mengenai kemampuan spesial kalian sedini mungkin” Nathanael melanjutkan penjelasan nya. “baik, selanjutnya kita bisa memulai kegiatan di klub ini dari perkenalan. Sebutkan nama, kelas, dan kemampuan yang kalian miliki” Nathanael menunjuk Alfian untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
“nama saya Alfian dari kelas 2-S. kemampuan saya… gimana jelasin nya ya?” Alfian berpikir sejenak. “saya bisa mempengaruhi gelombang otak seseorang sehingga perintah macam apapun yang saya berikan, akan langsung di patuhi oleh orang itu. tapi Cuma dalam interval beberapa saat. Contoh nya..” Alfian mengacungkan jari telunjuk nya kea rah eric. “Eric, gampar orang disebelah lo!”
PLAAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Yukiya. Untuk beberapa saat, Eric sama sekali tidak menyadari tindakan nya. tangan nya seolah bergerak sendiri di luar kendali nya. dan tiba tiba saja Yukiya sudah mengerang kesakitan.
“sialan!! Kak Alfian, kenapa gak gue aja yang dipake buat nge gampar Eric?” Yukiya protes.
“karena dia anak yang punya sekolahan… bakal gawat kalo dia kenapa napa” Alfian beralasan. Sementara itu Eric masih berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
“yang barusan gak usah terlalu dipikirin, gue Cuma bisa mempengaruhi area Subconsious selama kurang lebih lima detik. Perintah yang bisa dipakai juga sederhana. Contohnya berhenti, pukul, ngehindar, diam, jangan berisik. Mungkin gara gara ini juga gue sering dijadiin ketua kelas…” lanjutnya. “kemampuan gue, basic nya Cuma ini sih. gue juga punya kemampuan lain yang disebut Possesion-Conjuration. Tapi karena resiko nya tinggi, gue gak bakal praktekin disini”
“possession-Conjuration itu, artinya kamu bisa jadi mediator Makhluk Ekstraterestrial atau Roh tanpa kehilangan kesadaran kamu sepenuh nya. dan kamu juga bisa menggunakan Kemampuan makhluk itu seolah kemampuan itu adalah kemampuan kamu sendiri. Misalnya, kalau Makhluk yang masuk ke badan Alfian bisa Pyrokinesis… maka Alfian bisa menggunakan kemampuan itu selama si makhluk masih ada di badan dia” Nathanael menjelaskan.
“oke, selanjutnya… Elvira” Nathanael menunjuk Elvira. Elvira pun bangkit dari tempatnya duduk dan mulai memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Nama saya Elvira, dari kelas 1 – S. kemampuan saya adalah membaca pikiran orang lain.” ucap Elvira singkat.
“oke, bisa kamu praktekan?” pinta nathanael.
“bisa” Elvira menyanggupi. “kak Alfian, coba sebut sepuluh digit angka dalam hati” Elvira memberi instruksi.
“5-0-1-2-1-4-8-9-5-4”Alfian menyebut angka angka itu dalam hati.
“5-0-1-2-1-4-8-9-5-4” Elvira menyebutkan semua digit angka itu persis seperti yang Alfian ucapkan dalam hati. “ada yang butuh pembuktian lain?”
Yukiya bisa mempercayai Elvira begitu saja dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sangat keren. Sedangkan eric enggan membahas kemampuan Elvira lagi karena sudah pernah mengalami nya sendiri beberapa waktu yang lalu.
“oke, sepertinya sudah cukup. Silahkan selanjutnya…”
Kini Giliran Eric memperkenalkan diri nya.
“Nama saya Eric Gildereich, dari kelas 1-S. kemampuan saya adalah… membaca masa lalu orang lain. semakin lama saya menghabiskan waktu untuk membaca masa lalu seseorang, semakin dalam pula rahasia yang bisa saya gali. Ada yang mau coba?”
“oke, saya bersedia. Kita lihat apa yang bisa kamu lihat dalam waktu lima detik” Nathanael mengajukan diri. Terus terang, Eric sendiri agak terkejut. Apa Seorang Nathanael Kim adalah orang yang masa lalu nya sama sekali tidak tercela sehingga ia berani menjadi kelinci percobaan dari kemampuan Eric?
“lima detik, tidak lebih” Nathanael memberi peringatan. Dan Eric menganggukan kepala nya tanda setuju.
Ia kemudian mulai menatap kedalam sepasang manik mata gelap milik Nathanael. Ia melihat seorang bocah yang tengah bermain piano di dalam suatu ruang musik. Citra itu kemudian berubah latar menjadi studio tari dimana bocah itu belajar menari juga dengan beberapa orang yang terlihat lebih tua dari nya.
“oke cukup!”
Eric menghentikan kontak mata nya dengan Nathanael, dan berusaha mencerna citra yang barusan ia lihat.
__ADS_1
“oke, setelah lima detik… informasi apa yang bisa kamu dapat?” tanya Nathanael Kim pada Eric. pemuda itu tampak berpikir sejenak.
“keluarga bapak, menyadari bakat bapak di bidang music. Jadi mereka ngirim guru les piano, kemudian bapak di masukan ke agensi di korea sejak masih anak anak” jawab Eric yakin. Nathanael tersenyum puas.
“kamu benar… saya jadi Trainee di Korea selama kurang lebih tujuh tahun. Sejak saya umur sebelas tahun, sampai delapan belas tahun” pemuda itu menjelaskan. Sekarang, Eric bisa memahami alasan kenapa ia merasa kalau Nathanael tampak seperti Artis korea yang sering ia lihat di internet. Ternyata, orang ini benar benar pernah menghabiskan waktu yang cukup lama di Industri Entertainment negeri ginseng itu.
“terus, kenapa pak Nathanael nggak jadi idol aja?” tanya Yukiya penasaran.
“ceritanya panjang… tapi nggak mungkin saya langsung cerita di hari pertama pertemuan klub ini kan” Nathanael beralasan. “oke, terakhir”
“Nama saya Yukiya, kelas 1-S. saya nggak punya kemampuan aneh aneh kaya kalian, Cuma murid normal yang tergila gila sama computer dan semua jenis cewek yang kelihatan cantik. Tapi, nomor satu di hati gue tetep…” Yukiya merogoh saku nya, mengambil photo card seorang gadis berambut pirang berombak yang tengah menyanyi di atas panggung. “Starla~” ucap nya riang. Tapi, tak seorang pun memberi tanggapan mengenai foto gadis yang Yukiya tunjukan.
“oke, perkenalan nya cukup sampai disitu” Nathanael menutup sesi perkenalan. “selanjutnya kita akan membahas kegiatan klub kedepan nya. sebagai bentuk pembinaan terhadap anggota Klub, kita akan mulai menerima Request dari beberapa murid yang punya berbagai masalah yang tidak bisa dipecahkan dengan cara biasa. Dengan kemampuan unik kalian, saya yakin… klub ini bisa memberi kontribusi yang cukup besar pada sekolah. Dimulai dari menerima permintaan warga sekolah dalam mengatasi masalah masalah yang membutuhkan kemampuan unik kalian.”
“oooh… kaya detektif gitu pak?” Yukiya menebak.
“kurang lebih… seperti itu”
“tunggu sebentar pak… kayak nya ada yang kurang dari sesi kenalan barusan” protes Alfian sambil mengangkat sebelah alis nya, menunjukan ekspresi seolah tengah mencoba mengejek Nathanael. “bapak belum ngasih tahu tentang kemampuan bapak”
Nathanael menghela nafas. Anak nakal satu ini benar benar tidak bisa diajak kompromi, padahal ia ingin mneyembunyikan kemampuan nya yang satu itu.
“Nama saya Nathanael kim, guru Musik dan seni kontemporer. Kemampuan saya adalah Catharsis. Saya bisa masuk ke dalam tempat di dalam diri manusia yang disebut Ruang jiwa, dan memulai proses pemurnian. Dalam kasus yang tidak terlalu berat, biasa nya hanya dengan suara pun sudah cukup untuk memulai proses Katharsis.” Nathanael melirik kearah Alfian yang tampak nya masih menunggu penjelasan lain darinya. “dan satu lagi… saya punya kemampuan yang disebut Femme fatale”
“hahahaha… akhirnya disebut juga yang satu itu!” Alfian tertawa terbahak bahak. Sementara Yukiya dan Eric tampak tidak begitu mengerti, bagian mana yang lucu dari penjelasan singkat tersebut.
“jadi… laki laki yang punya kemampuan Femme fatale itu… ehm…” Elvira mengambil jeda sedikit sebelum menjelaskan lebih lanjut.
__ADS_1
“dia bisa memikat laki laki”
***