
Berdiri dihadapan seluruh pengikut King, Eric, Ivana dan Gio berusaha terlihat tenang. sementara itu, sesuai rencana, Janetta bersembunyi di tempat dimana ia bisa mnegobservasi keadaan tanpa diketahui oleh siapapun. Memanfaatkan hawa keberadaan nya ynag memang tipis, Janetta dapat melakukan hal itu lebih baik dari siapapun, terlepas dari mata seluruh pengikut King. Eric sendiri tak menyangka kalau jumlah anggota El diablo yang lama bisa sebanyak ini, toh El diablo yang ia tahu hanya beranggotakan Ivana dan Daniel saja.
Nyaris semua orang yang datang ke gelanggang itu mengenakan masker dan topeng untuk menutupi wajah. Dari hal ini, bisa dilihat bahwa walaupun mereka setia pada King, mereka pun masih ingin melindungi identitas asli mereka. Melindungi identitas asli mereka artinya, mereka belum mempercayai pengaruh King sepenuh nya. tampak nya, orang orang itu sudah memperhitungkan kemungkinan kalau negosiasi ini gagal, dan siapapun yang terlibat, bisa saja mengalami kerugian. Karena itulah, mereka menutupi wajah mereka untuk melindungi identitas asli mereka.
“Gue, cabut semua tuntutan gue gitu aja dan ngelepasin sandera? Mau dipikir dari sudut pandang mana pun, itu nggak mungkin terjadi kan?” perkataan King langsung disambut oleh sorak sorai penghuni Gelanggang.
“Lo udah kelas tiga. Kenapa nggak focus sekolah aja sih? jadi gangster apa enak nya selain berantem nggak karuan tiap hari?” Eric berargumen. Argumen yang langsung disambut dengan tatapan tajam Gio dan Ivana.
“Itu… argument paling tolol yang pernah gue denger” Gio berbisik pelan.
“Jadi gangster di wilayah Santana, artinya bisa dapet pungutan dari murid murid tajir di sekolah elit ini. lo pikir hal kayak gitu nggak jadi pertimbangan?” tambah Ivana.
“Tunggu tunggu… jadi kalian malakin anak Santana?” ucap Eric tak percaya.
Ivana memutar bola mata nya.
“Dulu, dibawah kepemimpinan King, tujuan berdiri nya El diablo ya ngambil pungutan liar ini” Gio berbisik ke telinga Eric.
“HAHAHAHA…. Anak bawang ini kaya nya nggak tahu apa apa soal El diablo. Lo pikir, hanya karena lo anak dari keluarga Gildereich, lo bisa bikin gue tunduk gitu aja?”
__ADS_1
Gelak tawa memenuhi gelanggang.
“Bilang sama bokap lo, gue sama sekali nggak takut sama dia ataupun orang orang di belakang dia.”
Eric memicingkan mata nya ke arah pemuda berkepala plontos itu.
“Ini nggak ada hubungan nya sama bokap gue, ataupun status gue. ini murni urusan lo dan Gue karena lo udah bawa Elvira” ucap eric tegas.
“Maksud lo… si anak pungut keluarga Gildereich itu ya?”
King memberi isyarat pada anak buah nya untuk mengeluarkan Elvira. salah satu diantara mereka kemudian keluar sambil membopong tubuh Elvira yang sudah tak sadarkan diri dan meletak kan nya di lantai, tak jauh dari tempat King berada.
“Gue pukul sampe pingsan. Mau gimana lagi? Nggak ada cara lainbuat bikin dia diem” ucap King tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“KURANG AJAR!!” Eric hampir dikuasai emosinya sendiri, namun gio mencegah Eric untuk berbuat lebih jauh.
Ivana berusaha untuk tetap menjaga ketenangan nya. situasi ini bukan hal yang asing lagi bagi nya, ia tahu kalau King akan memperlakukan sandera seperti apa. melukai sandera dan memecah konsentrasi lawan adalah taktik yang sangat jitu dan licik.
“Tenang, Eric. ngamuk ngamuk disini Cuma bakal bikin rencana janetta berantakan. Kita bakal ngalahin King. Itu pasti” Gio berusaha menenangkan Eric yang tersulut Emosi.
__ADS_1
“Oke, kalau gitu… mari kita berhenti basa basi”
Ivana melepaskan ikatan Twin tail braid nya, dan menguncir rambut nya kebelakang, lalu menggulung lengan jaket nya dan beberapa langkah ke arah King.
“Lo nggak kapok juga ternyata. Masih arogan kaya dulu” ucap King begitu menyadari kalau Ivana akan segera menantang nya bertarung.
“Kenapa? Apa lo takut sama gue, setelah lo dikalahin sama Prince secara menyedihkan?”
King tertawa terbahak bahak, diikuti seluruh penghuni gelanggang yang lain.
“Ivana, kita sama sama tahu betapa lo bisa gue kalahin dengan mudah. Apa lo pikir, kemampuan gue nggak berkembang sejak saat itu? Cuma gara gara gue di penjara?”
“Well… mari kita buktiin” Ivana tak menunjukan rasa takut sedikit pun. Walau ia tahu, kemungkinan untuk menang cukup tipis. Itulah kenapa Gio dan Eric ada disini.
King menggulung lengan baju nya dan bangkit dari tempat nya duduk.
“Naik ke Ring, gue nggak sabar buat nge hapus arogansi dari muka lo yang bikin muak itu”
***
__ADS_1