Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Among the Beast (2)


__ADS_3

Ivana membuka matanya, kemudian bangkit dan menatap Gio dengan tatapan kosong.


“Gue nggak sudi buang buang tenaga gue gitu aja. gimana kalau kalian berdua ngelawan Ivana sekaligus? Gue rasa… ivana sendiri udah lebih dari cukup buat ngelawan kalian” ucap King santai. Ia tahu benar, bahkan Gio tak pernah sekalipun menang dari Ivana dalam sebuah pertarungan. Apa lagi, anak seperti Eric.


Eric menelan ludah. Ivana yang kalah melawan King memang sudah diperhitungkan, tapi Ivana yang kalah dan dijadikan bidak untuk melawan dirinya dan Gio adalah sesuatu yang benar benar diluar dugaan.


Seluruh penonton bersorak, secara serempak meneriakan sesuatu untuk mendorong Gio dan Eric agar mau naik ke atas Ring.


“Mereka sinting ya, apa nonton satu cewek di keroyok dua orang itu tontonan yang menarik?” ucap Eric heran, sekaligus kesal.


“Sesuai urutan. Yang maju habis ini adalah gue”


“Apa kamu sangup, mengalahkan Ivana dan dilanjut dengan melawan King?”


Suara yang tak asing muncul di kepala Gio. Suara Janetta. Tentu saja karena gadis itu mempunyai kemampuan untuk melakukan komunikasi lewat telepati.


“Itu gak mungkin, lo bahkan belom pernah menang dari Ivana” Eric berargumen. “Dan… setahu gue, bukan nya kemampuan lo itu Cuma niru doang ya?”


“Terus, apa lo bisa ngalahin Ivana… dan dilanjut dengan ngelawan King?” kali ini Gio balik bertanya pada Eric. “gue rasa, kesempatan lo justru lebih kecil dari gue. lo bahkan jelas jelas pernah dikalahin Ivana”


Pernyataan itu jelas membuat Eric kesal, tapi ia pun tak bisa membantah karena hal itu adalah fakta. pemuda itu terdiam sejenak. Pasti ada cara, untuk mengalahkan King dan menghentikan Ivana disaat bersamaan.


“Gue yang maju” ucap Eric setelah memutar otak.


“Hei, ini bukan waktunya bercanda atau coba coba!”


“Lo siap siap aja. gue juga nggak ada rencana buat ngalahin Ivana. gue yang sekarang udah pasti kalah, apalagi ketika Ivana masih dalam mode The beast,”


            Eric melepaskan jas sekolah nya, melipat lengan baju, dan melonggarkan dasi. Ia maju beberapa langkah, bersiap untuk menantang Ivana yang berdiri di atas Arena. Tapi Gio yang tidak tahu tujuan Eric sudah pasti langsung menghalangi langkah pemuda itu menuju Ring.


“Gue nggak setuju!” Gio bersikeras.

__ADS_1


“Eric, kamu mau memakasakan diri masuk ke Archein milik king?” tanya janetta.


“Binggo, lo bisa bimbing gue kan?” Eric menjawab suara di kepala nya dalam hati.


“Akan aku sampaikan pada Gio”


            Beberapa saat kemudian, Gio terlihat bingung. Tampak nya, janetta telah berhasil terhubung dengan pemimpin the hive itu lewat telepati. Gio bertolak pinggang dan menghembuskan nafas panjang, ada kelegaan… sekaligus putus asa dalam cara nya menundukan wajah.


“Kalau lo pulang babak belur, gue harus bilang apa ke nyokap lo?” ucap Gio akhirnya.


“Nyokap gue masih di paris, dan kalau pun bokap gue liat… kayak nya gabakal ada masalah”


            Eric menepuk pundak Gio, dan melangkahkan kaki nya menuju Arena. Gio tak lagi mencegah Eric. ia tahu, kalau ini adalah keputusan terbaik yang bisa diambil dalam situasi seperti ini.


Walau tak ada jaminan akan berhasil


Walau ia tahu, bagaimana akhirnya


Eric melangkah tanpa keraguan.


Tapi, pemenang yang sesungguhnya akan tetap maju. Tak peduli kekalahan macam apa yang menanti nya di depan sana.


***


Sekali lagi, berhadapan dengan Ivana.


Situasi nya kini jelas berbeda, Ivana dalam mode ‘The Beast’ dan kedua nya siap bertarung dalam pertarungan yang sesungguhnya, bukan lagi sekadar demonstrasi pengenalan Ekstrakurikuler.


Eric mempersiapkan kudu kuda nya, pemuda itu mengepalkan ke dua tangan nya, dan menempatkan diri dalam posisi defensive. Sebisa mungkin melindungi wajah nya.


Energy Aether melingkupi Ivana, tekanan nya membuat Eric merinding.

__ADS_1


Ia tak boleh dikalahkan terlalu mudah, ia harus mencari cara agar pukulan yang mengenai nya benar benar telak, dan langsung membuat nya kehilangan kesadaran. itu satu satu nya cara untuk mengakses Archein.


            Diawali dengan melakukan beberapa pukulan lurus ke depan untuk menilai reaksi lawan, Eric bisa membaca kebiasaan Ivana dengan baik. Pemuda itu harus lebih menurunkan kuda kuda nya, tubuh Ivana yang terpaut 15 cm dibawah nya membuat gadis itu memiliki kesempatan besar untuk melakukan pukulan Vital kearah ulu hati.


Eric ingin pulang dengan organ dalam utuh tanpa kerobekan apapun.


Satu pukulan kea rah rahang berhasil di tangkis. Tapi kini lengan yang dipakai untuk menangkis pukulan itu terasa panas dan berdenyut. Eric kembali merapatkan pertahanan nya, tapi serangan selanjut nya justru datang dari arah yang tak terduga, tendangan langsung ke arah belakang lutut belakang, membuat Eric terjerembap di atas dingin nya lantai Arena.


Benturan keras di belakang kepala sudah cukup untuk membuat Eric kehilangan kesadaran. sepersekian detik sebelum Ivana sempat menghantamkan pukulan nya lagi, Gio sudah berada di atas Arena untuk menghentikan gadis itu.


            Gio mendorong gadis itu ke tepi Arena. Kuncian, yang segera disambut oleh sikutan keras tepat di punggung nya. pemuda itu terbatuk, dan langsung menjauh beberapa langkah.


Tak ada tanda tanda kalau Ivana akan berhenti begitu saja. Perhatian Gio langsung teralih pada Eric yang berbaring tak sadarkan diri.


“Sesuai urutan, ini giliran gue kan?” tanya Gio pada king.


“Lo mau lawan Ivana dulu, atau mau langusng baring nemenin anak mami itu?” King mencemooh.


            Gio tak menggubris ejekan itu. ia langsung membopong Eric ke luar Arena, dan menaruh pemuda yang tak sadarkan diri itu tepat disamping Elvira yang tergeletak di lantai juga. Jika kedua nya berdekatan, setidak nya… ia tak akan terlalu kesulitan jika harus membawa mereka ke luar dengan cepat nantinya, Mungkin.


            Gio kembali ke Arena, dihadapan nya… Ivana dalam mode The beast sudah menanti.


“Ivana, lo mungkin gak bakal denger kata kata gue. tapi… setelah hari ini, gue harap lo bisa terlepas dari semua mimpi buruk lo”


Pemuda itu mengatur nafas nya, bersiap untuk menggunakan kemampuan Copycat nya.


“Kalau kamu meniru kemampuan milik Ivana, kamu akan masuk ke dalam mode The beast. Bahkan saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian berdua”Janetta memberi peringatan.


“Gue tahu… begitu dimulai, pertarungan ini gak bakal berhenti sebelum salah satu dari kami tersadar, atau kalah. Apa lagi dalam mode The beast, dimana rasa sakit nyaris gak ada, kami mungkin gak bakal berhenti sebelum luka yang diterima benar benar fatal.”


Perlahan tapi pasti, kekuatan di tubuh Gio meningkat drastis. Gio menatap lurus gadis dihadapan nya. ada perasaan sedih yang tak dapat dijelaskan, seolah momen ini akan menjadi yang terakhir kali nya.

__ADS_1


“Makasih, karena udah ngenalin gue ke dunia kaya gini. Gue bangga, pernah jadi anak buah lo”


***


__ADS_2