
Hari ke dua masa Orientasi siswa.
Seluruh siswa berkumpul di Aula utama untuk menyaksikan demo ekstrakurikuler. Ada banyak fasilitas di Santana Senior high school yang menunjang beragam klub, mulai dari eskul sains, kesenian, hingga bela diri. Tak ada satu pun ekstrakurikuler yang menyebutkan nama The core maupun El diablo, dua klub yang Mr.Arthur pinta untuk dihindari. Klub Jurnalistik memang ada, tapi peminat nya hanya sedikit, dan kebanyakan anggota nya adalah orang orang yang memiliki minat tinggi pada dunia fotografi. Bahkan karena jumlah anggota nya hanya sedikit, eskul ini juga bekerja sama dengan eskul modelling dan desain grafis untuk beberapa kegiatan. Setidak nya, seperti itulah penjelasan yang dipaparkan oleh pembimbing klub tersebut. Sedangkan untuk El diablo, Eric sama sekali tak punya gambaran. Ada dimana klub itu, dan apa saja kegiatan nya?
“Jadi gimana, apa udah ada klub yang bikin lo tertarik?” tanya Yukiya, pemuda berwajah Oriental dengan kaca mata tebal dan rambut ‘shaggy’. Orang yang sempat berkenalan dengan eric di hari pertama Orientasi siswa. Sama seperti eric, ia juga anggota S-class.
“Belom… gue belom nemu eskul yang bikin gue tertarik. Lo gimana? Udah ada rencana mau masuk ke eskul yang mana?” eric balik bertanya.
“Hmm… yang jelas bukan eskul yang banyak kegiatan fisik nya. Gue males banget sama yang namanya olah raga. Di klub jurnalistik kayak nya banyak cewek cantik… gue lumayan tertarik sama eskul itu, tapi ya, gimana entar” yukiya memainkan cincin di jari tengah nya. Kalau diperhatikan, penampilan yukiya ini agak ‘nyentrik’. Ia mengenakan cincin, gelang dan kalung berwarna perak, juga anting hitam di telinga kiri nya. Ia juga menata rambut nya dengan bobby hairpin. Kaca mata tebal yang ia kenakan memberi kesan kutu buku, tapi aksesori yang ia kenakan memberi kesan anak nakal.
Santana high school memang tidak memiliki larangan mengenai aksesori apa yang dikenakan siswa siswi nya. Selama mengenakan seragam dengan atribut lengkap, aksesori apapun diizinkan.
“Eh, mau ke gelanggang olah raga gak… katanya disana rame loh. Kali aja ketemu cewek cantik” ajak Yukiya pada eric.
Berkeliling sekolah juga tak ada salah nya, mungkin saja ia mendapat petunjuk mengenai keberadaan klub el diablo atau the core.
***
Gelanggang olah raga itu berbentuk seperti arena pertarungan. Gelanggang teratai memang di desain khusus untuk eskul yang berkaitan dengan olah raga beladiri. Terdapat sebuah ring di tengah gelanggang, yang dikelilingi bangku penonton. Orang orang tampak nya tertarik untuk menonton aksi bela diri dengan berbagai trik memukau yang di tampilkan di atas ring.
“Ahhh… gak asyik, gelanggang ini mayoritas isinya cowok semua” Yukiya menatap Ring dengan tatapan bosan. “Apa asyik nya sih baku hantam, Cuma bikin sakit badan” pemuda itu mencibir.
“Tapi kalo bisa bela diri kan kelihatan lebih keren di mata cewek. Katanya mau di kelilingin cewek cewek cantik…” jawab eric datar.
“Oh shit… gue gak kepikiran kearah sana! kata kata lo ada bener nya juga” Yukiya mengiyakan, dan kali ini memperhatikan pertunjukan di atas Ring dengan lebih antusias.
Seorang gadis naik ke atas Ring diiringi suara riuh seisi Gelanggang yang mayoritas laki laki. Wajah nya tampak seperti boneka bisque dengan bola mata yang tampak bulat dan besar. Ia tidak terlalu tinggi untuk ukuran anak perempuan, mungkin 160cm kurang sedikit. Ia membuka hoodie kelinci nya, menampakan rambut pirang pucat nya yang diikat dengan gaya twintail braid.
“Tuh ada cewek cantik nya… lo seneng kan?” Eric menoleh kearah yukiya. Pemuda itu menatap gadis di atas Ring dengan tatapan dingin.
“Halooo… nama saya Ivana dari kelas 2 – S” gadis itu memperkenalkan diri. “sekarang, saya butuh sukarelawan dari kalian untuk trik selanjut nya. Yang bersedia, silahkan naik ke atas Ring.” Gadis itu mempersilahkan.
Yukiya bangkit dari tempat nya duduk, dan bertukar pandangan dengan gadis di atas Ring sebelum akhirnya berbalik untuk meninggalkan Gelanggang.
“Nggak asyik…” ucap nya dingin, sambil berlalu pergi. Suasana gelanggang mendadak hening.
“Ya, siswa yang disana…” gadis bernama Ivana itu menunjuk kearah Eric. “bersedia jadi sukarelawan?” tanya nya kemudian.
Yukiya sudah menghilang meninggalkan gelanggang. Eric mungkin akan berbicara dengan nya nanti. Dan karena tak ada orang lain yang bersedia untuk naik ke atas Ring, Eric pun bersedia untuk menjadi sukarelawan.
“Oke, silahkan serang saya. Boleh pake tangan… atau kaki. Nanti saya tangkis” Ivana memberi instruksi.
Eric memperhatikan gadis dihadapan nya. Ia belajarberbagai jenis bela diri selama tinggal di amerika serikat. Ia bahkan mengantogi sertifikat bela diri dari asosiasi mixed martial arts internasional. Tapi melawan seorang gadis adalah sesuatu yang berbeda. Ia tidak tega. Pukulan seperti apa yang harus ia lakukan?
“Pukul aja… tendang juga boleh, gue pasti bisa nangkis” gadis itu berbisik.
Jadi, sesuai permintaan gadis itu eric melakukan jab lurus ke depan, yang tentu saja dapat dihindari dengan mudah. Eric kembali melancarkan serangan jab lurus kedepan beberapa kali, dengan kecepatan yang lebih tinggi. Gadis itu masih dapat menghindari nya dengan mudah.
“Lo udah biasa latihan bela diri ya?” tanya Ivana pada Eric.
“Yah, lumayan…”
“Boxing? Karate?” Ivana menebak.
__ADS_1
“Kebetulan, gue ikut komunitas mixed martial arts di USA” jawab eric jujur.
“Hmmm…”
Gadis itu tiba tiba berputar dan dengan cepat melakukan upper kick kearah telinga kanan Eric. eric dengan sigap menangkis serangan itu. Membuat penonton kembali riuh.
“Heee…. Lumayan juga” gadis itu sedikit memuji.
“Perjanjian nya kan gue yang nyerang, lo yang tangkis. Kok jadi berubah?” protes Eric pada gadis yang kini telah menanggalkan hoodie nya dan menunjukan lekuk tubuh nya di balik tank top yang ia kenakan. Seisi gelanggang langsung bersorak.
“Perjanjian nya berubah… gimana kalau kita sparing?”
Eric memang tidak mengiyakan tawaran itu, tapi tubuh nya secara otomatis sudah memasang kukuda kuda untuk bertarung.
Gadis itu tampak tenang. ia tampak menganalisa pergerakan Eric yang beberapa kali melakukan jab kearah wajah nya.
Eric bisa saja melakukan hook langsung kearah Ivana, walau gadis itu melakukan gerakan bertahan, eric tak yakin pertahanan dari tangan sekecil itu dapat menghentikan pukulan nya. Tapi, ia tidak tega. Pada detik selanjut nya Ivana langsung melancarkan serangan nya, melakukan Grabbing dan knee kick kearah wajah eric. Eric menahan serangan itu dengan keduatangan nya, namun ia tak sempat mengantisipasi gerakan selanjutnya, dimana Ivana melakukan kuncian yang langsung membuat eric terkapar di lantai. sungguh, Eric yakin kalau berat badan gadis dihadapan nya tak mungkin lebih dari lima puluh kilo gram, tapi hanya dalam beberapa kali serangan saja, ia sudah terkunci di lantai. pengalaman nya selama lima tahun mendalami mixed martial arts seolah bukan apa apa dihadapan gadis ini.
“Ini karena lo ngelawan gue setengah setengah…”gadis itu berbisik sebelum membantu Eric berdiri.
“Oke, barusan adalah beberapa teknik bela diri yang bisa kalian pelajari kalau masuk Eskul bela diri campuran. Intinya, jangan khawatir bakal cedera atau apa… karena peralatan kami memadai, dan kalau pun sparing… kalian gak bakal langsung full body contact, oke”
Eric mendelik kearah gadis yang barusan membanting nya ke lantai, sambil mengelus belakang kepala nya yang barusan terbentur.
“Jangan khawatir gimana, kalau knee kick tadi kena beneran… rontok semua gigi gue” rutuk eric dalam hati.
“Oke, sekian penampilan dari eskul kami… kalau berminat, silahkan apply sambil bawa formulir nya ya…” gadis itu mengingatkan.
“Oi… ngapain kacung elit ada di tempat ini? Tertarik ikut klub bela diri? Atau mau nyobain rasanya kena uppercut kick?” ucap Ivana dari atas Ring. Eric sendiri belum turun dari Ring karena belum dipersilahkan, jadi ia masih tertahan disana.
“Apa apaan lo barusan? Ngajak anak baru buat sparring?” pemuda itu protes.
“Lo keberatan? Mau laporin gue ke BK? Atau mau langsung ke kepala sekolah?” Ivana menoleh kearah eric dan bicara dengan intonasi yang mengintimidasi. Bukan nya Eric tidak keberatan, hanya saja… masalah sepele seperti ini rasanya tidak perlu ditanggapi seserius itu. Toh ia baik baik saja. Jadi ia menggelengkan kepala nya.
Pemuda itu naik ke atas Ring, dan memeriksa Eric dengan teliti untuk memastikan bahwa eric baik baik saja.
“Gue gak apa apa kok… jadi please, stop gue!” protes Eric.
“Dia atlet MMA, lo pikir gue asal banting aja gitu? Apa gue keliatan se bar bar itu?” tanya Ivana kesal.
“Ivana… lo harus lihat lihat dulu siapa yang lo banting. Dia anak nya pak Alex Gildereich. Anak nya yang punya sekolahan. Kalo dia kegores dikit, lo mau tanggung jawab?”
Begitu mendengar nama Alex Gilderech disebut, wajah Ivana tampak benar benar terkejut. Ia langusng menatap Eric dengan tatapan tak percaya. Ia langsung mencengkram kerah baju Eric dengan kasar.
“Bangsatttt!!! Kenapa lo gak bilang dari tadi?”
Eric sudah pasrah. Ivana memang punya wajah cantik, seolah ia adalah peri dari Rusia. Tapi kelakuan nya benar benar bar bar seperti preman di pasar.
“Emang nya tiap ketemu orang, gue wajib bilang kalo gue anak yang punya sekolah?” Eric balik bertanya.
“Tapi emang bener bener ya… dua hari yang lalu, lo digampar cewek. Hari ini dibanting cewek. Lo emang sesuatu ya…” pemuda itu setengah meledek.
“Sialan, tau dari mana?” Eric merapikan kerah baju nya yang berantakan akibat cengkraman Ivana.
__ADS_1
“Nama gue Gio, ketua dewan keamanan siswa yang disebut The hive”
***
Setelah mengetahui siapa Eric sebenar nya, Ivana langsung turun dari ring dan menyuruh Eric untuk melupakan semua nya.
“Pokok nya, anggap aja kita gak pernah ketemu oke? Semua yang terjadi hari ini, yang berkaitan dengan gue… harus lo lupain.” Gadis itu berpesan.
Memang nya apa yang sih yang membuat Eric harus melupakan itu semua? Bahkan semua yang terjadi di atas Ring bukan hal besar yang harus ditanggapi dengan serius.
“Eric!” panggil seseorang dari kejauhan. Eric memicingkan mata nya. Kak Alfian dan… tentu saja sesosok hantu yang mengikuti nya kemana mana. Tak lama kemudian, Alfian pun sudah sampai di hadapan Eric.
“Gimana, udah nonton demo eskul nya?” tanya Alfian.
“Udah, tapi eskul yang gue cari gak ada…” jawab eric singkat.
“Oh ya? Esperia emang gak ikut demo Eskul. Anggota nya aja Cuma gue… kalo lo gabung, peminat Eskul kita pasti naik pesat. Jadi, kapan lo apply?”
Eric menghela nafas panjang.
“Gue gak nanyain Eskul Esperia atau apalah… bodo amat.” Tiba tiba Eric terdiam sejenak. Benar juga, kenapa ia tak menanyakan soal El diablo dan The Core pada alfian?
“Apa kak Alfian pernah denger soal Klub el diabo atau the core?” tanya Eric langsung.
“Woy!” seseorang menepuk pundak Eric, mempuyarkan lamunan nya. Orang itu tak lain adalah Yukiya yang sedari tadi menghilang. “lo nonton demo eskul nya sampai beres?” tanya nya pada Eric. Eric hanya mengganggukkan kepala nya.
“Eh, siang kak” ucap Yukiya begitu menyadari kehadiran Alfian disana. Ia bisa mengetahui kalau Alfian adalah kakak kelas dari pin yang ia kenakan di jas sekolah nya.
“Siang…” jawab Alfian. “temen lo?” tanya Alfian pada Eric.
“Iya, temen sekelas…”
“Lo udah dapet eskul yang bikin lo tertarik?” tanya Alfian pada Yukiya.
“Belum kak, masih pilih pilih” jawab yukiya agak canggung.
“Kalo belom punya eskul, gimana kalau join klub Esperia aja? siapa tau lo punya bakat?” Alfian menawarkan. Yukiya langsung menatap Eric dengan tatapan bingung.
“Lo bener bener butuh anggota ya” Eric menatap Alfian denan tatapan menyindir. Tiba tiba, Alfian sudah merangkul pemuda itu dan mengambil jarak dari Yukiya.
“Lo harus bikin dia join eskul kita, kalo jumlah anggota nya Cuma sedikit, eskul kita gak bakal dikasih ruangan tetap.” Alfian melirik kea rah Yukiya yang masih tampak kebingungan. “jawaban dari pertanyaan lo, bakal gue jawab kalo lo dan anak itu udah gabung klub gue, oke?”
Alfian melepaskan rangkulan nya.
“Oke kalau gitu… gue tunggu surat aplikasi kalian klub gue ya… jangan telat!” ucap nya sambil berlalu pergi. Eric tidak habis pikir kalau Alfian akan memanfaatkan rasa ingin tahu nya sedemikian rupa, sampai sampai yukiya juga harus terlibat.
“Ki, ke tempat lain yuk” aja Eric setelah memikirkan tawaran Alfian sejenak.
“Tawaran yang barusan… apa harus kita terima Ric?” tanya Yukiya.
“Bodo amat lah”
***
__ADS_1