Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Crescendo


__ADS_3

Eric menatap pantulan diri nya di cermin. Sekali lagi, memastikan bahwa Tuxedo hitam nya dalam keadaan rapi dan bersih. Di bantu video tutorial dari Zu-tube, ia menata rambut nya sedemikian rupa agar terkesan rapi. Ini hari yang spesial, untuk pertama kali nya ia datang ke acara penting bersama sang ayah, ke acara pesta pembukaan salah satu hotel terbesar di Bellkarta.


            Setelah memastikan kalau semua persiapan nya selesai, ia langsung bergegas menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Koenigsegg Regera putih ini bukanlah mobil yang biasa dipakai untuk mengantar jemput Eric ke sekolah. Ini adalah mobil yang sering digunakan sang ayah ketika harus berkendara di Bellkarta.


Tak lama kemudian, Alexander Gildereich juga masuk ke dalam mobil, dan mobil sport mewah itu pun mulai bergerak menuju lokasi yang dituju.


“Eric, apa kamu pernah dengar soal LightUs company?” tanya Alex pada putra nya.


“Hmm… leading company dari Ardent group yang bergerak di bidang property dan perbankan?” Eric menjawab seingat nya. “kalau nggak salah, kepemilikan asset nya di bellkarta sekitar lima belas persen, nomor dua tertinggi di Bellkarta setelah Saint Corp kan?”


“Kamu benar, syukurlah kamu belajar tentang bisnis dengan benar. Orang yang akan kita temui ini nama nya Vano Isadores. Dia adalah CEO dari LightUs company, sekaligus orang yang pernah membangkitkan kembali Ardent Group dari ancaman kebangkrutan sekitar lima belas tahun silam. Waktu papa berencana buat membuka cabang di Vladivostok Rusia, papa ketemu dia. dia adalah rival sekaligus Rekan paling sempurna yang membantu papa untuk berkembang. Yah… banyak hal yang terjadi waktu papa muda. Sama seperti hubungan papa dan Vano, papa harap suatu hari nanti kamu pun akan bertemu dengan seorang Rival setara yang akan membantu kamu untuk tumbuh juga”


            Cerita tentang masa muda sang ayah memang menarik, tapi nama belakang Vano lebih membuat Eric penasaran. Isadores? Bukankah itu nama belakang yukiya? Apa ini kebetulan?


“Jadi, yang mau papa kenalin ke Eric itu… om Vano ini?”


“Ya… dan anak perempuan nya. usia nya terpaut dua tahun lebih tua dari kamu. dan dia juga merupakan murid kelas S. dia kakak kelas mu di Santana. nanti kamu coba kenalan dengan dia ya. kamu harus terbiasa dengan acara social seperti ini. kedepan nya, papa mungkin akan lebih sering membawa kamu ke acara seperti ini sekaligus memperkenalkan kamu ke kolega kolega papa.” Alex menjelaskan.


“Terus dijodohin?” tanya Eric iseng.


Alex menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


“Nge jodohin anak ingusan kaya kamu itu sama aja kayak nge rusak masa depan bisnis papa. Coba kamu bayangkan, kamu papa jodohin sekarang, nggak cocok lalu putus. Di masa depan nanti, mantan kamu itu akan jadi rekanan atau saingan bisnis kamu. relasi seperti itu nggak bagus buat perkembangan bisnis… kamu belum cukup dewasa buat handle itu semua”


“Tapi papa nikah umur Sembilan belas tahun. Jago nggak tuh” Eric nyeletuk.


“Ya… mama kamu mengalami masa masa yang cukup sulit waktu itu, tentu saja karena pemikiran papa yang belom dewasa. Tadinya papa mau nikah muda, cepet punya anak, cepet pensiun, lalu hidup foya foya sebelum menginjak empat puluh lima tahun.”


“Eric juga mau kaya gitu pa—“


“Nah, inilah kenapa papa bilang kamu belum dewasa” Alex geleng geleng kepala mendengar putra semata wayang nya memiliki mimpi yang sama seperti dirinya semasa muda. “jangan pernah memulai hubungan dengan pola pikir egois seperti itu. oke?” Alex mengingatkan.


“Ngomong ngomong… om Vano ini, apa dia orang jepang pa? atau ada keturunan jepang nya?” Eric berusaha memancing. Kalau Vano ini memiliki darah jepang… bukan tidak mungkin Yukiya memiliki hubungan dengan nya.


“Dia orang asli Indonesia kok. dia lahir di Bandung, kebetulan aja di adopsi sama orang luar dan jadi punya nama ke barat barat an.”


            Tak terasa, dua puluh menit berlalu dan mereka pun tiba di Grand hotel Crescendo, Tempat acara itu diadakan.


***


Jajaran mobil mobil mewah memenuhi tempat parkir. Bukan hal aneh menginat tamu tamu penting yang diundang malam ini berasal dari kalangan pejabat, eksekutif dan pengusaha. mendampingi sang ayah, Eric menaiki tangga menuju ballroom tempat acara diadakan.


            Hal pertama yang menyambut Eric adalah lampu gantung mewah, beserta ornament ornament Kristal yang menghiasi seluruh penjuru ruangan. Pencahayaan dengan lampu berwarna keemasan itu menambah kesan mewah. Bagai acara fashion show, nyaris seluruh tamu undangan mengenakan pakaian glamor dan aksesoris dengan merk ternama. Beberapa Pramusaji berjalan mengelilingi Ballroom, menawarkan minuman minuman dalam gelas Kristal yang terlihat berkilauan.

__ADS_1


“Pa, Eric boleh nyobain nggak?” Eric menunjuk cocktail dan Vermouth yang ditawarkan pramusaji.


“Boleh boleh…” ucap sang ayah mengizinkan. Padahal Eric hanya iseng bertanya. “Tolong kasih dia air putih” ucap Alex ketika seorang pramusaji menghampirinya dan Eric untuk menawari minuman.


“Apa nggak ada minuman lain selain air putih?” protes Eric.


“Nggak ada minuman yang lebih sehat dari air putih. Kalau mau ngambil kue juga kasih tau papa dulu.beberapa dessert disini mengandung alcohol dari Rum. Kamu belum cukup umur buat nyicipin kue yang ada Rum nya” Alex mengingatkan.


Oh… diperlakukan seperti anak kecil di tengah pesta berisi orang dewasa terasa sungguh menyebalkan. Tapi Eric jelas tak bisa protes, ia memang masih dibawah umur.


Tak lama kemudian, dari arah pintu masuk Eric menangkap sosok pria yang ditemani seorang anak perempuan yang jika dilihat dari penampilan nya, gadis itu mungkin seumuran dengan Eric.


“Itu Vano isadores, dan anak perempuan nya” ucap Alex begitu matanya menangkap sosok tamu yang berjalan ke arah nya dari pintu masuk.


Mata Eric terpaku pada gadis yang berjalan di samping pria itu. ia mengenakan gaun berwarna biru karibia dan Heels berwarna senada. Warna biru karibia yang benar benar cocok dengan manik biru langit gadis itu. rambut pirang bergelombang dibiarkkan jatuh tergerai, dan poni rata sepanjang garis alis itu membingkai wajah nya sedemikian rupa sehingga tampak bagai boneka Bisque.


Bukan, bukan karena gadis itu terlihat begitu cantik yang membuat Eric tak bisa mengalihkan pandangan. Tinggal dan tumbuh besar di Amerika membuat nya terbiasa melihat berbagai jenis gadis rupawan dari segala ras. Melihat gadis cantik bukan hal baru lagi bagi nya.


Yang membuat Eric terkejut adalah fakta bahwa gadis itu adalah orang yang cukup familiar baginya.


“Kak… Ivana?”

__ADS_1


***


__ADS_2