
“Elvira… kita sama sama tahu, kenapa Eric dipanggil kesini. Kalau Eric udah balik dari Amerika… itu artinya, riwayat lo akan berakhir dalam waktu dekat” ucap Yukiya, sambil menahan daun pintu agar tidak tertutup.
Elvira tersenyum, lalu tertawa sejadi jadinya begitu mendengar kata kata yang dilontarkan oleh Yukiya.
“Dengan kemampuan dia yang belom matang itu? bahkan waktu kasusnya King kemaren, kalau kami nggak bukain jalan buat dia… mungkin dia bakal berakhir di rumah sakit jiwa, dia bahkan nggak bisa nemu jalan masuk maupun keluar ketika ada di Archein nya King. Ups, lo nggak tahu kan? Jalan Eric buat merekonstruksi Archein itu masih jauh” Elvira berusaha menghentikan tawanya.
“Hei, dia berhasil ngelakuin manipulasi dasar waktu ngelepas rantai di kaki King. Dan itu bisa dia lakuin Dalam waktu sesingkat itu.”
Elvira tertegun mendengar ucapan Yukiya.
“Lo… jangan jangan”
Elvira menatap lurus kearah Yukiya, kemudian, menggunakan kemampuannya untuk membaca pikiran pemuda itu.
“Project pandora… sebentar lagi dimulai”
***
“Halo, Yukiya?” Ivana menelpon Yukiya begitu urusan nya dengan Julia selesai. Setelah sesi curhat yang panjang dan memastikan kalau Julia baik baik saja, Ivana pun memutuskan untuk pulang.
“Iya kak? Kenapa?”tanya Yukiya dari seberang telepon.
“Lo beres jam berapa? Mau sekalian nitip makan buat ntar malam nggak?”
Ditengah pembicaraan itu, tiba tiba Ivana mendapati dua anak laki laki dari kamar seberang melambaikan tangan dari celah pintu, memberi isyarat pada Ivana untuk mendekat.
__ADS_1
“Gue udah beres kok, ini mau pulang”
“Oh udah mau pulang? Gue bakal pulang rada telat kayaknya. Mau cari makan sendiri, atau dibawain?”
Ivana melangkahkan kakinya menuju kamar Alfian.
“Bawain…”
“Oke, tunggu aja ya” Ivana menutup sambungan telepon nya.
Gadis itu pun tiba di depan kamar Alfian, dan Alfian yang menempati kost an itu langsung mempersilahkan Ivana untuk masuk. Ivana melihat sekeliling, ini memang bukan pertama kalinya bagi Ivana masuk ke kamar laki laki, tapi tempat ini jelas lebih… berantakan di banding kamar Daniel yang jarang dihuni atau kamar Eric yang memang luas dan tidak terlalu banyak barang.
“Loh, Eric lagi ngapain disini?” tanya Ivana heran. “gue kira lo ada jadwal les sama Janetta” gadis itu menoleh kearah jam tangan nya. “ini udah jam lima sore loh”
“Ngapain lagi kalau bukan nemenin orang galau yang baru putus?” Eric melirik Alfian yang berusaha menunjukan wajah acuh tak acuh.
“Loh, emang nya Ivana cewek ya?” Alfian memasang wajah terkejut.
“Alfian, lo mau gue pukul ya?”
“Oke oke… jadi, gimana keadaan nya kka Julia? Apa dia… baik baik aja?” tanya Eric yang langsung menengahi perdebatan antara Alfian dan Ivana sebelum menjadi lebih besar.
“Julia baik baik aja kok. dia sehat, dia nggak keluar kamar karena salah motong rambut. Jadi tadi gue benerin rambutnya, terus katanya ntar malem juga dia mau nge cat ulang rambutnya. Yah… it’s not a big deal. Jatah Remote class nya juga udah beres, senin nanti pun dia udah mulai masuk lagi” Ivana menjelaskan.
“Beneran dia nggak kenapa kenapa?” kali ini Alfian yang bertanya. “ehem.. maksud gue, ya bagus kalo gitu. gue nanya gini kan karena gue KM kelas.”
__ADS_1
Ivana menghela nafas panjang melihat alfian yang tampak berusaha keras agar terlihat tidak peduli pada keadaan Julia.
“Alfian, walau kalian udah putus… Julia itu masih temen lo kan? Nggak usah sok sok an nggak peduli deh” gadis itu berkomentar.
“Gue kira, hubungan diantara kak Ivana sama kak Julia agak… kurang baik” Eric berspekulasi.
“Awalnya emang gitu. tapi, toh soal Yukiya yang merupakan adik gue juga udah kebongkar. Lagi pula… Julia pun punya alasan pribadi”
“Alasan pribadi apa?” Alfian kembali bertanya.
“Entahlah…” Ivana tak melanjutkan kata katanya. Tentu saja karena ia tak bisa membongkar aib Julia begitu saja, terlebih didepan Alfian.
“Terus, kalian ngobrolin apa aja di dalem? Nggak mungkin kan, dua jam Cuma diem dieman?” Alfian semakin kepo.
“Ngobrol soal topic pembicaraan yang Cuma bisa dibicarain oleh sesama perempuan. Lo beneran mau denger?”
“Nggak nggak nggak…” Alfian menggelengkan kepalanya cepat. “yaudah kalau dia baik baik aja, dan makasih karena udah jenguk dia. sebagai ketua kelas gue sangat mengapresiasi inisiatif lo” Alfian bertepuk tangan dengan ekspresi awkward. Eric tak dapat berkomentar banyak mengenai Alfian yang bertingkah seperti itu hanya agar terlihat normal.
“Nggak perlu berterima kasih ke gue, Julia itu juga temen gue. wajar kalau gue datang kesini dan meriksa keadaan dia. gue… sama peduli nya kaya kalian berdua”
***
Ruangan gelap itu terasa dingin walau AC tak dinyalakan. Udara dingin berhembus pelan melalui jendela yang terbuka lebar. Tirai putih semi transparan menjuntai masuk, tertiup angin malam. Seorang gadis, diam di sudut ruangan sambil memeluk lutut nya.
“Project Pandora, sebentar lagi dimulai” adis itu bergumam pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Project Pandora itu… apa?”
***