
Julia cepat cepat mematikan layar monitor dihadapan nya, sebelum Yukiya sempat melihat apa isi data yang terpampang di sana.
“Lo… dari kapan disitu?” tanya Julia gugup.
“Dari tadi, sejak Eric masuk ke sini” ucap Yukiya santai. Jantung Julia berdegup kencang. sejauh mana Yukiya mendengar percakapan dirinya dengan Eric?
“Bohong kok, gue baru aja nyampe sini karena tadi ke kantin dulu”
Julia menghela nafas lega.
“Jadi, ngapain lo ada disitu?” tanya Julia pada Yukiya. Pemuda itu melompat masuk ke ruang Jurnalistik melalui jendela.
“Mau ngajak kalian nge jenguk kak Alfian. Gue takut jadi awkward kalau kesana sendirian. Mau ikut nggak?” Yukiya menawarkan.
“Gue juga mau kesana kok, gue baru di kasih tahu kalau Alfian nggak jadi balik hari ini. jadi, gue mau ngambil beberapa barang dulu di rumah, baru habis itu ke rumah sakit” Julia menjelaskan.
“Kalau mau bareng, pake mobil gue aja. sopir gue bisa di telpon kok” Eric menawarkan.
“Bagus! Akhir nya gue ada temen buat berangkat ke sana. tadinya, gue mau ajak Elvira juga. Tapi… dia udah langsung pulang duluan aja. akhir akhir ini, dia kaya gitu terus. Jangan jangan, dia cepet cepet pulang karena mau ketemu pacar nya atau gimana”
Perkataan Yukiya mengingatkan Eric pada ucapan hantu berambut perak yang mengatakan bahwa Yukiya ingin mencelakai Elvira. Tapi, apa benar seperti itu?
“Yaudah, telpon sopir lo sekarang, supaya kita cepet berangkat. Kita berenti dulu di rumah kak Julia buat ngambil beberapa barang kan?”
Julia menganggukan kepala nya setuju.
“Oke, gue telpon dulu sopir nya”
***
Selang dua puluh menit, sang sopir pun tiba di depan gerbang sekolah. Eric memilih duduk di depan, sementara Yukiya dan Julia menempati kursi penumpang.
“Pak, ke jalan Andromeda nomor dua puluh dulu, baru ke Central hospital ya” Eric memberi instruksi.
__ADS_1
“Siap mas” ucap sang sopir. Diam diam ia melihat kearah kursi penumpang. Syukurlah, setidak nya hari ini, majikan nya membawa teman sungguhan. Ketika Eric mengatakan akan membawa teman nya, ia sempat berpikir kalau teman yang dimaksud Eric adalah makhluk tak kasat mata seperti yang terjadi semalam. Jika membayangkan hal itu, ia masih merinding.
Setelah semua penumpang mengenakan sabuk pengaman, mobil pun melaju menuju tempat tinggal Julia dan Alfian.
***
Sesampai nya di depan rumah, Julia langsung turun dari mobil.
“Kak Julia, mau di bantu bawain barang barang nya nggak?” Yukiya menawarkan.
“Nggak usah, barang bawaan nya nggak banyak kok. Kalian tunggu di mobil aja, gue nggak bakal lama lama” ucap Julia seraya bergegas membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah. Jika diperhatikan, Hunian dua lantai ber gaya modern dengan halaman yang cukup luas ini, sama sekali tak tampak seperti asrama. Bangunan nya bahkan menyerupai rumah modern pada umum nya. selain itu, jika dilihat dari luar, hunian ini pun cukup sepi. Entah karena penghuni nya masih berkegiatan di luar, atau memang penghuni tempat ini hanya sedikit.
“Ngomong ngomong soal Elvira… apa lo punya maksud tertentu ngedeketin anak itu? kayak nya lo tertarik banget sama urusan dia” Eric membuka pembicaraan.
“Dia menarik, dalam artian… ada banyak hal tentang dia yang bikin penasaran. Emang nya lo nggak penasaran sama dia? kenapa dia pake sarung tangan terus, kenapa dia takut laki laki, kenapa sikap nya sering berubah. Tapi, berhubung dia pernah hampir jadi saudara tiri lo, mungkin lo tau sesuatu tentang Elvira?” Yukiya berpendapat.
“Lo nggak tahu apa apa, sebaik nya lo nggak ikut campur sama urusan dia.” Eric memberi peringatan.
“Eric… selama lo tinggal di Amerika, berapa kali lo ketemu Elvira? Yang nggak tahu apa apa itu justru lo. apa lo tahu, kalau Elvira pernah ngelakuin percobaan bunuh diri dua tahun yang lalu?”
Yukiya menggelengkan kepala nya.
“Gue baru pertama kali kenalan sama Elvira pas hari pertama masuk sekolah. Tapi, guenggak memungkiri kalau gue emang udah pernah ketemu dia sebelum nya. gimana cara jelasin nya ya… anggap aja gue kenalan nya sama Elvira yang lain?”
Eric mengernyitkan dahi nya. sebenar nya, apa maksud Yukiya?
“Elvira itu anak tunggal, dia nggak punya saudara kembar” Eric menyangkal.
“Bukan tu maksud gue…”
Yukiya berpikir sejenak.
“Pernah denger cerita tentang orang yang punya lebih dari satu kepriadian dalam satu tubuh?”
__ADS_1
***
Suasana Apartemen yang sepi dan gelap, Elvira menatap pantulan diri nya di cermin.
“Elvira, tempat gue harus nya disitu… lo nggak tahu apa apa, bahkan tentang diri lo sendiri”
Suara Vira terdengar dalam kepala Elvira. Dan entah halusinasi atau bukan, Elvira dapat melihat pantulan diri nya di cermin bicara pada diri nya sendiri.
“Elvira… nggak ada tempat didunia ini buat jiwa yang nggak utuh kaya lo.”
“Elvira, kenapa lo nggak mati aja?”
“Mati”
“Mati”
“Mati”
Sementara itu sesosok hantu berambut perak menatap Elvira bicara dengan diri nya sendiri dari sudut ruangan. Kesadaran ‘Vira’ semakin kuat. ini semua gara gara orang bernama Yukiya itu. pemuda itu berusaha menarik kepribadian Vira dalam diri Elvira, membuat keadaan jiwa nya menjadi tidak stabil.
“Nggak! Gue nggak mau mati!”
Elvira mengacak acak rambut nya.
“El, apa nggak sebaik nya lo datang ke tempat nya pak nathanael? Mungkin dia bisa bantu lo” hantu berambut perak itu berpendapat.
“Nggak… pak Nathanael juga… gue tahu dia mau nyingkirin gue. gue nggak mau!” Elvira melangkahkan kaki nya ke sudut ruang tempat si rambut perak berdiam.
“Cuma lo yang bener bener nerima gue di dunia ini… please, jangan tinggalin gue” Elvira terisak. Hantu berambut perak itu mengelus kepala Elvira perlahan, walaau bukan kehangatan yang terasa disana, hanya hawa dingin yang menjadi jejak keberadaan nya.
“Apa pun yang terjadi, gue nggak bakal ninggalin lo… gue janji”
Sebuah janji terucap.
__ADS_1
Janji dari orang yang sudah mati.
***