Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Betrayal (2)


__ADS_3

‘PLAAKK!!!” satu tamparan keras mendarat di pipi Julia.


“Lo gila! Lo bener bener udah gila! Yang ngasih tahu El diablo soal adik gue, itu lo kan?” Ivana setengah berteriak. Diperjalanan pulang, ketika Alfian tengah mengikuti kegiatan klub, gadis itu mencegat Julia. Tentu saja, ia melakukan hal ini karena ia tak akan bisa bertengkar sepenuh hati dengan Julia jika di sekolah.


Julia menundukan kepala nya, merasakan sensasi panas dan berdenyut sebagai hasil dari tamparan Ivana barusan.


“Kenapa lo ngelakuin itu?”


Ivana menarik kerah baju Julia.


“JAWAB!!!”


            Setetes air mata jatuh di pipi Julia. Ia tahu, dengan begini makan persahabatan nya dengan Ivana sudah berakhir.


“Sorry… gue nggak punya pilihan lain”


Ivana masih mencengkram kerah baju Julia dan mendorong gadis itu ke tembok.


“Apa nya yang nggak punya pilihan?”


Julia memalingkan wajah nya.


“Kalau lo nggak bilang apa apa, GIMANA CARANYA GUE BISA TAHU KALAU LO ADA MASALAH?”


Julia masih terdiam, ia tak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan Ivana. Ivana melepaskan cengkraman nya, membiarkan Julia jatuh berlutut sambil terisak.


“Sialan…”


Ivana langsung berbalik dan pergi. Pengkhianatan bukan lah hal yang baru bagi nya. seperti ketika king menculik yukiya misal nya, atau ketika satu per satu bawahan setia mulai memburu nya, dan kali ini Julia.

__ADS_1


Sejak awal, tidak seharus nya ia mempercayai siapa pun.


***


“Gue ngorbanin banyak hal buat masuk the core. Walau pada akhirnya, bahkan sampai detik ini, akses menuju system utama The core nggak pernah gue dapetin” Julia mengakhiri kisah nya.


“Kak Alfian tahu soal kejadian ini?”


Julia menganggukan kepala nya.


“Tapi dia bilang, dengan atau tanpa gue bocorin rahasia itu ke Prince pun… Ivana pasti bakal tetep balik ke El diablo. Karena itu dunia nya dia”


            Eric terdiam sejenak. Mengenai fakta bahwa Yukiya adalah adik dari Ivana dan mereka merupakan anak anak dari keluarga yang punya pengaruh besra terhadap Bellkarta, apa ia harus mengatakan itu pada Julia?


“Waktu gue denger kak Janetta bakal jadi tutor lo, sementara lo ditawarin buat jadi anggota El diablo, gue tiba tiba jadi ngerasa Dejavu… gimana kalo kak janetta sengaja nyari kelemahan lo, sama kaya dia nyari kelemahan Ivana?”


“Tapi, gue kan nggak punya kelemahan” ucap Eric penuh percaya diri. Tentu saja, berbeda dari Ivana yang harus melindungi Yukiya, ia tak punya siapapun yang akan menghambat nya untuk saat ini. ia hanya punya ayah dan ibu nya, mana mungkin janetta berani mengusik mereka.


“Kayak nya lo lupa kalau yang namanya janetta itu sub Esper kaya lo… gue emang nggak tahu banyak soal sub esper atau apapun itu. tapi, Janetta itu selalu tau cara buat nyari kelemahan lawan nya. saat ini, lo mungkin ngerasa nggak punya kelemahan. Tapi, antara lo emang nggak punya kelemahan atau lo belum tahu kalo lo punya kelemahan… kira kira, mana yang bener?”


***


Kelemahan?


Jika itu sesuatu yang bisa dimanfaatkan Janetta untuk mengendalikan nya, maka bisa dibilang untuk saat ini rasanya Eric tak memiliki hal itu.


Tapi, perkataan Julia memang sedikit mengganggunya. Mungkin kah hal itu bisa berupa sesuatu yang tak ia sadari?


Waktu sudah menunjukan pukul empat kurang sepuluh menit. Dalam beberapa menit, janetta akan tiba disini. Dan eric masih tak bisa berhenti memikirkan perkataan Julia. Jika dipikir baik baik, bukankah agak mencurigakan kalau tiba tiba orang yang ditunjuk sebagai mentor sementara nya adalah seorang anak berprestasi yang pasti disibuk kan oleh lomba lomba di sekolah?

__ADS_1


“Mas Eric, tamunya sudah datang…” ucap seorang asisten yang terbiasa menjaga kediaman Gildereich.


“Oh iya, pak… suruh masuk saja”


Eric bangkit dari tempat nya duduk untuk menyambut tamu nya. seorang gadis bersurai coklat madu panjang, berdiri di depan pintu. Mengenakan kemeja putih, dan rok Overall hitam pendek selutut membuat gadis itu tampak lebih muda dari Eric.


“Selamat sore, perkenalkan nama saya Janetta” gadis itu menyapa dengan ramah.


“Saya Eric, silahkan masuk dulu kak” ucap eric seraya mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke ruang tamu rumah nya.


Gadis itu mengedarkan pandangan nya ke seuluruh penjuru ruangan, tampak kagum dengan isi rumah Gildereich yang sangat luas dan dipenuhi barang barang dengan kualitas seni tinggi.


“Saya nggak tahu kalau rumah sebesar ini benar benar ada” gadis itu berdecak kagum. “apa kamu pernah tersesat di rumah seluas ini?”


“Kayak nya… rumah ini nggak sebesar itu deh kak” Eric menggaruk kepala nya yang tak gatal. Itu pertanyaan yang cukup aneh untuk diajukan.


“Sebenar nya, saya tidak pandai basa basi. Jadi boleh saya bicara langsung ke inti pembicaraan nya?”


“Oh iya, silahkan kak.. kak Janetta ini yang bakal jadi tutor saya selama pak Hans mengurus beberapa keperluan nya di luar negeri kan?”


Janetta menganggukan kepala nya.


“Kalau itu sih sudah jelas, tapi ada hal lain yang ingin saya bicarakan”


Janetta menganyam jari nya, dan menatap Eric lekat lekat.


“Kamu ini… sub Esper dengan kemampuan Retrocognition kan?”


***

__ADS_1


__ADS_2