Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Warning


__ADS_3

“dia bisa memikat laki laki” lanjut Elvira.


Pernyataan itu sontak membuat Eric merinding. Mulai sekarang, ia mungkin harus menjaga jarak dengan guru music nya yang satu ini.


“wiii… gimana caranya? Apa berlaku buat cowok Straight juga?” Yukiya malah menanyakan hal itu dengan enteng nya.


“otak lo terbuat dari apa sih? yang gitu ngapain ditanyain?” Eric memukul bahu Yukiya pelan. Setelah mendengar pernyataan Elvira barusan, eric jadi enggan menatap mata pria dihadapan nya.


“Eric, kenapa kamu buang muka?” tanya Nathanael kesal.


“yaiyalah… gimana kalo saya sampe kena pellet bapak? Ih…”


Braaakkk!!!


Nathanael menggebrak meja dihadapan nya, frustasi.


“sepertinya kalian salah paham disini. Satu, saya nggak Homo. Kedua, kemampuan saya itu nggak di pake ke bocah bocah kaya kalian! Paham?”


“terus dipake buat apa pak? Pake nya gimana?” Yukiya malah semakin penasaran. Nathanael mendekati Yukiya, lalu menatap mata nya dengan tajam.


“Itu seratus persen bukan urusan kamu. mengerti? Atau perlu saya jelaskan dalam bahasa Cina?”


“Saya setengah orang jepang pak”


“bodo amat!”


“saya nggak ngerti bahasa Cina pak”


Nathanael menepuk jidat nya keras. Dia nyaris kehilangan kesabaran menghadapi murid nya yang satu ini.


“oke, untuk hari ini cukup sampai disini… tapi kalau kalian mau berkegiatan, silahkan diskusikan sama Alfian. Gimana Alfian? Ada yang mau ditambahkan?” tanya Nathanael pada Alfian yang sedari tadi duduk manis menikmati acara debat kusir dihadapan nya.


“untuk hari ini cukup pak, mungkin besok kita bisa mulai kegiatan Resmi nya” ucap nya kemudian.


“oke, kalau begitu. Saya masih ada Urusan. Kalian boleh pakai ruangan nya, jangan lupa di kunci” Nathanael menaruh kunci di atas meja dan langsung meninggalkan ruangan. Sementara Elvira dan hantu berambut perak yang menemani nya sudah menghilang entah kemana.


“Elvira tau tau udah ngilang aja…” ucap Yukiya sambil membawa tas nya dan melangkah keluar. “gue duluan ya, kali aja bisa pulang bareng Elvira. Walaupun gue gak tau dia tinggal dimana…” ucap nya sambil berlalu pergi. Kini tinggal lah Eric dan Alfian berdua di ruangan itu.


“kayak nya, gue hutang banyak jawaban sama lo, karena lo gabung klub ini dan berhasil bawa Yukiya masuk juga” ucap Alfian. Secara teknis, memang Eric yang membawa Yukiya untuk bergabung dengan Klub ini. walau sebenar nya… Elvira lah alasan kenapa yukiya setuju untuk bergabung.


“gue nggak sabar denger semua jawaban dari pertanyaan gue. Sekarang nggak bakal ada embel embel harus masuk klub dulu tiap gue nanya sesutau ke lo” Eric terdengar puas.


“ngomong ngomong, gimana ceritanya lo sampe di gampar Julia tadi siang?” alih alih memberi jawaban atas pertanyaan Eric yang sudah lampau, Alfian malah mengajukan pertanyaan.


“kami cekcok masalah artikel yang dipajang tempo hari. It’s not a big deal… gue Cuma keceplosan ngomong sesuatu yang bikin dia naik pitam.” Eric menjelaskan secara singkat.


“Julia itu… bukan tipikal orang yang gampang naik pitam Cuma gara gara hinaan sepele. Biang gossip kaya dia udah biasa dapet kata kata pedes atau makian. Tapi baru kali ini gue lihat dia se kesel itu. makanya gue penasaran… lo ngomong apa sampe bisa bikin dia se marah itu?”

__ADS_1


Eric berpikir sejenak. Kenapa Alfian ingin tahu sekali mengenai masalah itu. padahal, apapun yang diucapkan Eric pada Julia tidak ada kaitan nya sama sekali dengan Alfian.


“lo… kepo banget yah, itu bukan urusan lo—“


BAAM!!


Alfian meninju tembok disamping nya. nafas nya memburu. Ia menatap Eric dengan tatapan marah, seolah ia siap menelan Eric bulat bulat kapan saja. Eric cukup terkejut melihat reaksi Alfian. Baru kali ini ia melihat Alfian marah.


“gue balik… besok kita omongin lagi” ucap Alfian sambil berlalu pergi.


***


“Elvira…. Elvira!” Yukiya mengejar Elvira dari kejauhan. Membuat gadis itu menghentikan langkah nya. hingga akhir nya, Yukiya berhasil menyusul Elvira walau dengan nafas terengah engah.


“ada perlu apa?” tanya Elvira.


“tungguin, gue mau pulang bareng lo…” ucap Yukiya sambil berusaha mengatur nafas nya.


“emang nya kita se arah?” tanya Elvira heran.


“enggak tau… lo pulang ke arah mana?” Yukiya malah balik bertanya.


“Gue tinggal di Asrama murid yang belom jadi. Gue jalan kearah Town Square, kira kira satu setengah kilo dari sini”


“kebetulan banget, gue tinggal di kawasan Town square malah. Berarti kita se arah” ucap Yukiya Riang.


“oke, kita pulang bareng. Tapi… jaga jarak dua meter dari gue ya” Elvira memberi peringatan yang langsung disanggupi oleh yukiya. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


***


“El, kalo gue ngomong dari sini… lo kedengeran gak?” tanya yukiya setelah mereka berjalan kurang lebih sepuluh menit.


“kedengeran kok…” jawab Elvira sambil menoleh pada Yukiya yang berjalan di belakang nya.


“emm… gue nggak yakin sih bakal nanyain ini apa enggak, mungkin pertanyaan gue bakal kedengeran nggak sopan tapi, gue penasaran”


Elvira kembali menoleh kearah Yukiya.


”soal yang dibilang kak Julia tadi pagi?” Elvira menebak.


“oh iya, lo kan bisa baca pikiran orang”


“tanpa baca pikiran lo pun, gue tau kok cepat atau lambat lo bakal nanyain hal itu. siapa sih yang nggak kepo sama kehidupan pribadi anak yang punya sekolahan? Sejak Artikel itu dipajang dan identitas Eric sebagai anak dari konglomerat Gildereich nyebar… semua orang mendadak penasaran sama kehidupan gue, karena gue ada hubungan nya sama Eric”


“gue nggak peduli sih masalah hubungan lo sama Eric. gue justru lebih tertarik sama masa lalu lo sebelum di Adopsi sama keluarga Gildereich dan dibawa ke pulau ini” Yukiya melangkah mendekati Elvira. Dan Elvira dengan sikap Defensif nya, seperti biasa… mundur beberapa langkah.


“karena nama lo Elvira… nggak masalah kan, kalau gue panggil Vira?”

__ADS_1


Nafas Elvira tercekat. Ketika mendengar nama itu, kepala nya tiba tiba terasa sangat sakit.


“ternyata lo beneran Vira…” Yukiya tersenyum puas.


“Jangan sebut nama itu!!! NAMA GUE ELVIRA!!” Elvira berteriak sambil terus memegangi kepala nya.


“ternyata lo masih hidup… disana ya, Vira” Yukiya lagi lagi memanggil Elvira dengan nama itu.


Dan tiba tiba saja, Elvira menjadi tenang. sangat tenang hingga memuat Yukiya merinding. Gadis itu mendekati Yukiya, mencengkram kerah baju nya, dan mendekatkan bibir nya ke telinga Yukiya. Yukiya mengenal sensasi ini, sensasi yang ia rasakan ketika pertama kali bertemu sosok gadis misterius yang menggunting rambut nya saat ia terbaring lemah di rumah sakit dua tahun yang lalu.


“kita ketemu lagi ya… Anak nakal”


***


Sesampai nya di rumah, Eric langsung menuju kamar nya dan merebahkan tubuh nya di atas kasur. Ia kembali mengingat reaksi Alfian sore tadi, ketika ia menolak mengungkapkan rahasia Julia.Terlepas dari apapun perbuatan Julia, Eric tetap merasa kalau merahasiakan aib gadis itu adalah pilihan yang tepat. Eric punya standar moral tersendiri atas kemampuan nya. satu, aib orang yang masa lalu nya ia baca akan ia rahasiakan rapat rapat dan hanya akan ia gunakan dalam keadaan tertentu saja. Dua, ia tidak akan menilai seseorang dari masa lalu nya. termasuk gadis menyebalkan seperti Julia sekalipun. Karena ketika ia melihat citra seorang gadis kecil yang duduk disudut ruangan penuh sampah itu… Eric tahu, kalau Julia juga korban dari ke egoisan orang dewasa di sekitar nya.


Di tengah lamunan itu, tiba tiba ia mendengar suara pintu diketuk dari luar.


“Eric, kamu di dalam?” terdengar suara seorang pria dari luar.


“iya pa, masuk aja…” Eric langsung bangkit dari tempat tidur nya.


“baru pulang?”


“iya pa… baru aja nyampe barusan”


Alexander Gildereich mengambil tempat duduk di samping putra nya.


“gimana di sekolah? Banyak cewek cantik?”


Eric langsung menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya. Pertanyaan macam apa itu? kenapa tidak menanyakan tentang suasana di jam pelajaran, atau kualitas guru yang mengajar?


“a… ya… keliatan nya sih gitu. Tapi Eric kan sekolah bukan mau lihat cewek” ucap Eric awkward.


“kamu ini, terlalu serius. Lihat lihat cewek itu normal, kamu nggak homo kan?” Alex tertawa lepas, melihat tatapan aneh Eric pada nya. “oke, papa Cuma bercanda. Ngomong ngomong soal cewek… papa mau kenalin kamu sama seseorang. Sabtu ini bisa kosongin jadwal kan?”


Eric agak terkejut mendengar permintaan sang ayah.


“dikenalin… maksud nya dijodohin?” tanya Eric agak terkejut. Ia tahu, diumurnya yang sudah menginjak 16 tahun, wajar saja kalau sang ayah mulai menjodohkan nya dengan anak perempuan dari pebisnis atau kolega nya. tapi tetap saja, ini agak mendadak.


“mana mungkin langsung dijodohin Eric… Cuma kenalan. Kalau kamu merasa cocok, ya lanjut ke hubungan yang lebih serius. Kalau nggak ya cukup membangun relasi yang baik aja. Relasi itu penting loh di dunia bisnis…” Alex menjelaskan.


Walau Alex meyakinkannya kalau ini bukan acara perjodohan, tetap saja Eric merasa gugup.


“ ya sudah, pokok nya minggu depan ada Acara Grand opening pembukaan hotel baru di Town Square. Banyak tamu penting yang hadir, dan kamu bakal nemenin papa gantiin mama kamu yang berangkat ke paris besok. Oke?”


Alex mengacak acak rambut putra semata wayangnya itu sebelum beranjak pergi dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


Eric kembali merebahkan tubuh nya di atas kasur. Setelah apa yang terjadi selama seminggu terakhir ini, tiba tiba saja Eric jadi merasa enggan untuk berurusan dengan perempuan baru lain nya. tentu saja, setelah di tampar, di banting, dan di pukul… kali ini, hal buruk apa lagi yang bisa terjadi?


***


__ADS_2