Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Good Liar


__ADS_3

Bel berakhirnya jam pelajaran bagi kelas S berbunyi, waktu menunjukan pukul setengah satu siang.


“hari ini kumpul dimana?” tanya Yukiya sebelum beranjak dari bangku nya. Eric berpikir sejenak, Alfian tak menyebutkan lokasi pertemuan hari ini.


“kayak nya ke kelas kak Alfian dulu deh. Soalnya dia nggak ngasih tahu harus kumpul dimana nya” jawab Eric kemudian.


“lo udah nyimpen nomor gue kan? Chat aja ya kalo kalian udah dapet tempat pasti nya. gue mau nunggu kak Julia di ruang Jurnalistik dulu. Janji nya sih, poster kita beres hari ini”


“tunggu!” Eric mencegah Yukiya sebelum pemuda itu pergi. “gue aja yang ke ruang Jurnalistik, kebetulan gue juga ada perlu sama kak Julia” Eric beralasan.


“oke”


            Yukiya merogoh saku nya, mengambil nota administrasi dari klub jurnalistik yang diperlukan untuk mengambil poster klub. Dan menyerahkan nya pada Eric.


“lo lagi pegang duit gak?” tanya Yukiya. Eric mengangguk cepat, tanpa bertanya pun Yukiya harus nya sudah menyadari kalau orang macam eric tidak mungkin tidak punya uang. “oh iya lupa, lo kan anak orang kaya” ralat nya, setengah meledek.


“tapi bukan berarti gue bisa hambur hambur seenak nya ya, buat bikin poster bayar nya patungan kan?”


“iya… iya. lo itungan juga ya. Pokok nya, entar lo bayarin aja dulu. Pas kumpul kita bagi rata soal pembayaran nya.”


“oh ya, ajakin Elvira juga. Tapi nggak usah nanya macem macem” Eric memberi peringatan.


“oke…”


            Sebelum keluar kelas, Yukiya menghampiri Elvira yang duduk di bangku paling depan.


“el, mau ke kelas kak Alfian bareng gak?” ajak pemuda itu.


“kita kumpul di kelas kak Alfian hari ini? emang nya boleh?” tanya Elvira heran.


“enggak, kumpul aja dulu di kelas kak Alfian. Kan dia yang nentuin tempat perteuan eskul nya”


            Setelah membereskan semua barang bawaan nya, Elvira pun bangkit dari tempat nya duduk.

__ADS_1


“ayo kek kelas kak Alfian. Lo jalan duluan, gue ngikutin dua meter di belakang lo” Elvira mendorong tubuh Yukiya dengan ujung penggaris nya.


“iya, iya… lo se benci itu sama gue?”


“lo yang paling tau se benci apa gue sama lo”


***


“El, lo nggak lihat ada yang beda dari gue?” tanya yukiya tiba tiba ketika kedua nya tengah dalam perjalanan menuju ruang kelas Alfian. Elvira menatap pemuda itu seksama. Potongan rambut nya, tampak tidak simetris, dan ia tahu benar ulah siapa itu.


“Rambut lo nggak simetris.” Gadis itu menebak.


“seratus buat lo! Emang keliatan banget ya nggak simetris nya?” Yukiya memainkan ujung rambut nya yang terpotong tempo hari.


Elvira tak menjawab pertanyaan itu. matanya masih menatap lurus koridor yang lengang.


“kenapa lo mancing dia buat keluar sih. padahal itu sama sekali nggak ada urusan nya sama lo” tanya Elvira kesal.


            Tepat ketika hendak menaiki tangga, kedua nya berpapasan dengan Ivana yang baru saja meninggalkan kelas. Diikuti oleh Gio. Ivana tampak terkejut ketika melihat Yukiya dan Elvira. Namun, dalam sepersekian detik, ekspresi wajah nya berubah dingin. Ia sempat bertukar pandangan dengan yukiya beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.


“lo kenal dia? tanya Gio pada Ivana.


“entahlah… Cuma mirip sama orang yang gue kenal” Ivana menyanggah. Mata Yukiya masih terpaku pada Ivana sampai gadis itu lenyap dari pandangan.


“sekarang gue inget, alasan kenapa lo nggak suka sama gue dan tertarik buat mancing Vira” Elvira tersenyum puas. Dan untuk pertama kali nya, yukiya terlihat kehilangan sisi tenang nya. “yang namanya suka emang nggak tau tempat


ya”


***


            Sejujur nya, ada berbagai hal yang membuat Eric curiga pada Yukiya. Terlebih sejak kemarin, saat pemuda itu menantang nya untuk menggunakan kemampuan supranatural nya. pemuda itu menantang nya seolah ia sudah tahu kalau Eric tidak akan bisa mencari tahu apa yang terjadi pada Elvira dengan kemampuan nya, karena kemampuan itu terbatas pada memori masa lalu yang lampau. Mungkinkah, Yukiya bisa mengetahui kelemahan nya hanya karena ia memamerkan kemampuan nya di perkenalan hari pertama klub?


Terlalu bias dan beresiko. Jadi, dari mana Yukiya tahu soal kelemahan nya? atau… kebetulan saja Yukiya memang tak menyembunyikan apapun? apa yang terjadi pada rambut nya?

__ADS_1


            Eric tiba di ruang Jurnalistik dan mendapati Julia  tengah merapikan beberapa berkas dan foto di atas salah satu meja.


“cepet banget kak Julia udah ada di sini, padahal kelas baru aja bubar. Lo nggak parkour dari lantai tiga kan?”


Julia memutar bola mata nya.


“gila aja, gue bukan Alfian yang hobi loncat sana sini. Lagian ada perlu apa lo kesini?” tanya Julia heran.


Eric mengeluarkan secarik kertas pemberian Yukiya dan menyerahkannya pada Julia.


“gue mau ngambil poster klub. Katanya sehari beres kan?”


Julia mengambil kertas itu dan membaca nya dengan seksama.


“oh… poster buat klub Esperia. udah jadi kok” Julia menuju salah satu sudut ruangan dan mnegambil gulungan kertas berukuran A3 yang sudah berisi poster promosi klub Esperia.


“lo periksa dulu deh, barangkali ada cacat atau perlu di revisi lagi.” Julia menunjukan isi poster itu pada Eric. Eric memperhatikan bentuk hand lettering dan gambar kaca pembesar di tengah poster. Tujuan klub Esperia berhasil tergambarkan. Eric memang tak tahu banyak soal desain grafis. Tapi, poster ini kelihatan bagus di mata nya. paling tidak, klub Esperia tdak digambarkan seperti dukun atau tukang sihir melalui poster ini, melainkan lebih mirip ke perkumpulan detektif. Ide bagus, sungguh pencitraan yang tepat.


“kalo menurut gue sih, bagus bagus aja. nggak tau kalo kata yang lain. paling gue bawa dulu, nanti kalau ada perubahan gue kasih tahu lagi.” Ucap Eric. “jadi, berapa bayar nya?”


“bayar nya nanti aja, kalo kalian semua udah setuju sama desain poster ini. setelah fix, nanti kami publish di mading, baru kalian bayar. Itu udah SOP nya anak jurnalistik.” Julia menjelaskan.


Eric menganggukan kepala nya paham. Ia pun kembali menggulung poster itu agar tidak terlipat saat hendak dibawa ke ruang pertemuan.


“kalo udah beres, silahkan keluar. Gue masih banyak kerjaan” Julia mengusir dengan halus.


“urusan gue belom beres, gue mau nagih soal Request gue yang kemarin.”


Julia menghela nafas panjang.


“soal latar belakang Yukiya kan?”


***

__ADS_1


__ADS_2