Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Lost


__ADS_3

Yukiya memasuki komplek apartemen yang ia huni, dan menyadari kalau seseorang mengikuti nya dari belakang. Langkah nya terhenti, ia langsung membalik kan badan dan menemukan bahwa orang yang mengikuti nya adalah Daniel.


“dari sebelum masuk komplek ini, gue ngerasa kaya ada yang ngikutin… ternyata kak Daniel” ucap nya lega.


“tikus tikus yang nguntit lo udah gue suruh pulang kok…”


“siapa?”


“siapa lagi kalau tukang nyari gossip dan anak yang punya sekolahan?”


“oh…”


            Yukiya merogoh saku celana nya, dan mengaluarkan kartu untuk membuka apartemen nya.


“mampir dulu nggak?” Yukiya menawarkan.


“Ivana ada?”


Yukiya menggelengkan kepala nya.


“gue sampe disini duluan. Paling satu jam lagi dia pulang” Yukiya memperkirakan.


“titip pesan aja buat Ivana, hari ini jadwal gelanggang dibuka jam delapan. Anak anak yang nantangin Santana lumayan banyak. Kaya nya gue harus lembur” Daniel menguap. Selain karena jadwal pemotretan, jadwal kegiatan El diablo juga cukup banyak menyita waktu istirahat nya.


“kak Ivana juga harus naik ke atas Ring?” tanya Yukiya penasaran.


“tergantung situasi”


“bisa tolong usahain supaya kak Ivana nggak naik ke atas Ring?” pinta Yukiya tiba tiba.


“emang nya kenapa?” tanya Daniel heran. Yukiya terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan itu.


“lo tau kan… kalo kak Ivana cewek. dan cewek itu tiap sebulan sekali punya siklus tertentu yang kita sebagai cowok nggak punya. Lo tau maksud gue kan?”


“maksudnya datang bulan?”


Yukiya mengangguk.

__ADS_1


“Yukiya, lo lupa ya? Jangan samain Ivana sama manusia biasa. She is like a god damn beast… walau kalian sedarah, dia sama lo tuh nggak ada mirip mirip nya. dia nggak lemah kaya lo!” Daniel memperingatkan.


“gue tahu itu!  gue…”


Yukiya menghentikan perkataan nya, dan menatap lurus ke arah Daniel.


“Cuma mau nge lindungin dia? ngelindungin dia ketika lo sendiri nggak bisa jaga diri sendiri?” Daniel tertawa sinis dan langsung berbalik meninggalkan Yukiya.


            Yukiya tahu benar, ia tak berhak mengumbar janji untuk melindungi Ivana. baik sebagai seorang adik, maupun sebagai laki laki. Ia benci kenyataan bahwa ia tak bisa mencegah Ivana menggunakan kemampuan yang sudah mendarah daging itu. karena bagi seekor binatang buas, bertarung adalah naluri. Pertarungan akan selalu mencari siapapun yang punya kekuatan.


            Yang bisa ia lakukan, hanya merasa khawatir. Dan ini benar benar menyiksa. Perasaan mencintai seseorang yang tak akan pernah bisa ia miliki, juga hasrat ingin melindungi seseorang yang jauh lebih kuat dari nya. Ivana terasa begitu dekat, juga tak terjangkau di saat bersamaan.


***


Fasilitas Aquatic yang terdapat di gelanggang olah raga benar benar tak berpenghuni karena eskul renang masih dalam masa rehat pasca turnamen. Dan di awal tahun ajaran baru ini, jarang sekali orang yang berkunjung ke tempat ini. Alfian berjalan pelan. Cahaya matahari sore masuk menerobos melalui kaca besar yang menghiasi puncak fasilitas. Ukiran ukiran abstrak itu kini tampak berwarna ke emasan.


            Lagi lagi Julia merahasiakan sesuatu dari nya.


            Sejujur nya, Alfian benci perasaan ini. seolah Julia yang sekarang bukanlah Julia yang ia kenal bertahun tahun lalu, tentu saja karena ada terlalu banyak hal yang tak ia ketahui mengenai gadis itu.


Mungkin ini halusinasi nya, pikir Alfian.


Ia menyentuh pantulan itu, dan mendapati tangan dingin menggenggam jemari nya perlahan, makin lama makin kuat. lalu rambut hitam yang menyerupai sulur sulur itu bergerak, mengikat pergelangan kaki nya, menarik nya ke dalam kolam. Pikiran Alfian terlalu kosong, ia tak punya kesempatan untuk berteriak atau melawan.


Hingga akhirnya, makhluk itu membawa nya masuk ke dalam air.


Semakin dalam


Semakin dalam.


***


“antara kak Gio sama kak Daniel… kira kira siapa yang lebih kuat?” tanya Eric pada Gio. Saat ini, ketiga nya kembali ke café yang sebelum nya mereka tinggalkan. Tadinya, Eric hendak pulang karena urusan nya sudah selesai. Namun, mengorek sedikit informasi dari seorang ketua The hive juga dirasa tidak merugikan. Sedikit banyak, gio mungkin tahu sesuatu tentang Prince. Orang yang berjanji pada seseorang untuk melindungi identitas Yukiya.


“gue sama kuat nya dengan siapa pun musuh gue” jawab Gio singkat. “lo udah tahu dari Alfian kan, kalo gue sub Esper? Kemampuan gue disebut Copycat. Gue bisa niru kemampuan siapapun yang ada di radius sepuluh meter dari gue” Gio menjelaskan.


“kadang gue masih nggak percaya kalo kemampuan kemampuan supranatural kaya gitu nyata. Tapi karena kejadian sama Eric tempo hari, sedikit demi sedikit… gue mungkin bisa percaya” ucap Julia. “berarti lo bisa niru kemampuan membaca masa lalu punya Eric?” tanya Julia penasaran. Gio menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


“kemampuan Sub esper itu kan Cuma tiruan dari Esper murni. Kemampuan gue yang basic nya Cuma tiruan, ya nggak bisa dipake buat niru kemampuan asli. Tapi kalo niru kemampuan sub Esper lain, gue bisa” Gio menjelaskan.


Eric menyesap Frappe yang baru saja dipesan nya tadi.


“apa kak Gio tahu, soal… anak anak yang sebagian identitas nya di sembunyiin sama pihak sekolah?” tanya Eric tanpa basa basi.


“tahu kok. Gue salah satu nya”


Binggo.


Eric tak menyangka kalau Gio akan menjawab pertanyaan nya semudah itu.


“kalau boleh tahu, kenapa identitas kak Gio ditutupin sebagian sama pihak sekolah?” tanya Eric lagi. Gio berpikir sejenak.


“jadi nyokap lo belom cerita soal gue ya… sebener nya, kalo buat lo sih, bagian dari identitas gue yang ditutupin itu bukan rahasia. Tapi berhubung nyokap lo sendiri belom cerita ke lo… gue nggak bisa cerita banyak. Tapi intinya, yang bikin gue bisa sekolah di Santan, ya itu berkat nyokap lo” Gio menjelaskan. “tapi ngomong ngomong soal identitas yang nggak lengkap, bukan nya cewek di depan lo ini juga termasuk ya?” Gio menunjuk Julia yang duduk di samping Eric. Julia langsung memalingkan wajah nya dan berdecih kesal.


“oh… lucu juga ya, lo nyoba ngebongkar identitas orang lain, sementara identitas lo sendiri juga ditutup tutup in?” Gio menuding Julia.


“itu bukan urusan lo”


“jelas ini urusan gue. sebelum tembus ke bagian kesiswaan, semua permasalahan murid itu urusan gue. tindakan lo yang nyelidikin anak anak dari jalur rekomendasi khusus juga urusan gue. apa lo pikir gue nggak tahu apa aja yang lo lakuin selama setahun belakangan ini?”


Julia menggebrak meja dihadapan nya.


“gue balik”


Gadis itu meninggalkan sejumlah uang untuk membayar pesanan nya di atas meja dan pergi meninggalkan Gio dan Yukiya tanpa menengok ke belakang lagi. Yah, kenyataan kalau Julia juga termasuk anak yang identitas nya tak lengkap juga agak mengejutkan.


“gue tahu kalo dia nge hack database sekolah dan ngubah beberapa hal yang ditampilin di laman identitas dia sendiri. Jadi… dia nggak termasuk golongan anak yang perlu lo selidikin” ucap Gio sambil menyesap latte nya. “gue ngomong gitu buat ngusir dia aja” lanjut gio.


            Tiba tiba ponsel Eric berdering. Tanpa pikir panjang, Eric pun segera mengangkat telpon itu.


“halo?” ucap Eric pada seseorang di seberang telepon.


“halo, Eric? apa kamu ngeliat Alfian?”


***

__ADS_1


__ADS_2