
“Hai, barusan gue beli donat kebanyakan. Mau makan donat gak?” ucap Ivana begitu Julia mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka. Hal pertama yang muncul di benak Julia begitu melihat Ivana adalah… ******.
Tentu saja ****** karena dalam beberapa waktu kedepan, gadis dihadapan nya ini akan menjadi calon ipar nya. Ivana akan terkejut setengah mati jika mengetahui kalau orang yang akan Julia pacari setelah Alfian adalah adiknya.
“Oh, iya… masuk aja”
Julia mempersilahkan Ivana untuk masuk. Jika tamu yang satu ini ditolak, urusan nya akan bertambah panjang.
“Lo… kenapa?” tanya Ivana begitu menyadari perubahan drastis Julia, terutama pada rambutnya. Potongan rambut nya yang berantakan, dipadu dengan warna cat rambut yang mulai memudar. Julia yang selalu menjaga penampilan kapanpun dan dimanapun, ternyata bisa tampil sekacau ini.
“Hahaha… iya, gue nyoba motong rambut gue sendiri… tapi ternyata gagal. Mau gue potong lagi, takut kependekan. Jadi gue diemin aja dulu.” Ucap Julia santai.
“Kenapa nggak langsung ke salon sih?”
“Nggak mau… malu banget kan kalo ketemu orang dalam keadaan gini tiba tiba? Apalagi gue baru putus dari Alfian, ntar orang ngira nya gue frustasi gara gara putus. No, pokoknya no way” Julia bersikeras.
Ivana meghela nafas, mendengar jawaban Julia.
“Padahal gossip tentang lo disekolah… jauh lebih buruk dari itu semua loh”
Ivana meletakkan goodie bag berisi sekotak donat yang ia bawa diatas meja.
“Gue datang karena gue khawatir sama lo”
__ADS_1
Julia menundukkan wajahnya sambil memainkan ujung rambut yang terpotong secara sembarang. Diantara semua orang yang mengelilingi nya karena ingin mendengar gossip, memang hanya Ivana yang benar benar tulus peduli padanya. Julia tahu, tak aka da yang bisa diharapkan dari pertemanan palsu yang ia miliki. Dan keberadaan Ivana jauh lebih berharga dari seribu manusia yang mengelilingi nya demi mendengar gossip terbaru.
Dan ia, menjual gadis ini begitu saja, untuk sesuatu yang bahkan tak ia dapatkan hingga detik ini.
“Mau bantuin benerin rambut gue nggak? Cat rambutnya ada, gue mau balik ke warna rambut hitam natural gue. lo biasa motong rambut adek lo kan?” ucap Julia dengan wajah ceria.
“Dasar nggak tau malu, udah capek capek datang kesini sambil bawa donat… eh masih disuruh motong rambut” protes Ivana.
“Kan ntar gue bakal bantuin lo habisin donat nya” balas Julia atas protes Ivana.
***
Duduk dihadapan cermin setinggi satu setengah meter, Julia membiarkan Ivana melakukan apapun terhadap rambutnya.
“Gue percaya sama lo kok…” ucap julia yakin.
Suara gunting yang memotong rambut Julia adalah satu satuya suara di tengah keheningan itu. sikap Ivana yang secara natural bersikap seperti biasa membuat Julia merasa asing, bukankah sudah berbulan bulan mereka tidak saling bicara?
“Gue belom minta maaf soal kejadian tahun lalu” ucap Julia, memecah keheningan diantara kedua nya. Ivana sempat menghentikan kegiatan nya beberapa saat, bingung harus menjawab apa.
“Pada akhirnya, toh semua orang juga tahu kalau Yukiya adik gue. walau gue yakin, pasti banyak yang nggak percaya kalau kami saudara sedarah. Soalnya, muka dia jepang banget sedangkan gue malah mirip bule Rusia.” Ivana berseloroh, diikuti oleh tawa Julia.
“Katanya, waktu diputusin Alfian… lo nangis ya?’ tanya Ivana tiba tiba. Mendengar hal itu, Julia langsung menoleh cepat kearah Ivana.
__ADS_1
“Si Alfian cerita? Dia cerita kalau gue diputusin dan nangis?”
“Ya… gimana ya, dia Cuma bilang kalau pas hari dimana kalian putus... lo nangis, manggil taksi, dan langsung pulang. Eric juga khawatir loh… dia jadi sering kesini buat nemenin Alfian. Mereka khawatir karena lo nggak keluar kamar selama berhari hari barang sejengkal pun. Ternyata, alesan nya Cuma karena salah motong rambut”
Ivana mengambil sisir dan merapikan belahan rambut Julia, kemudian merapikan beberapa bagian lagi yang masih terlalu panjang.
“Hahaha… sialan, bikin malu aja” Julia mengumpat.
“Tapi serius, gue penasaran… waktu itu kenapa lo nangis? Lo bukan tipe orang yang gampang nangis gitu aja. dan gue rasa, Alfian nggak mungkin mutusin lo dengan cara yang kasar kan?”
Julia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.
“Gue nangis, karena gue sadar kalau gue udah banyak nyakitin Alfian… dan bahkan nggak punya kesempatan buat ngebayar itu semua. Gue tahu, selama pacaran, Alfian mungkin mendam banyak perasaan nggak enak ke gue. gue bahkan bukan pacar yang baik buat dia. Cuma itu, yang bikin gue sedih. Gue nggak masalah sama sekali kalau kami putus… gue Cuma berharap dia bisa nemuin pengganti yang jauh lebih baik dari gue” ucap Julia terus terang.
“Bagus sih, kalo lo punya pemikiran kaya gitu”
Ivana menatap pantulan diri Julia di cermin. Potongan rambutnya sudah rapi, yang tersisa tinggalan memperbaiki warna rambutnya yang berantakan.
“Gue… udah maafin lo soal kejadian tahun lalu. tapi, sampai sekarang gue masih penasaran, apa yang bikin lo mati matian pengen masuk The core?” tanya Ivana tiba tiba. “Lo Cuma bilang kalo sesuatu yang lo cari itu buat nutupin aib lo… tapi, aib yang lo maksud itu apa? gue atau siapapun, nggak bakal tahu masalah lo apa, sebelum lo cerita. Apa… gue masih belom cukup lo percaya sampai sampai lo nyembunyiin hal itu dari gue?” Ivana mendesak.
Julia menundukan wajahnya, membenamkan wajahnya ke tangkupan tangan nya. butuh beberapa waktu sampai gadis itu memutuskan untuk angkat bicara dan mengungkapkan semuanya pada Ivana.
“Gue, adalah anak haram dari seorang pelacur”
__ADS_1
***