Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Jealousy


__ADS_3

“Kak Daniel, lo nggak berpikir kalo gue bakal mundur Cuma gara gara kak Ivana dan kak Gio ngelarang gue buat ikut campur masalah El diablo kan?” Eric balik bertanya. “gue punya alasan tersendiri, kenapa gue ngerasa harus ikut campur. Walau soal King atau apalah itu, mungkin nggak ada hubungan nya sama gue”


“Terus, kenapa lo cabut?”


“Gue harus balik…” Eric melirik jam tangan nya. waktu sudah menunjukan pukul setengah Sembilan malam. “Tutor gue udah nungguin di rumah. Bokap gue tiba tiba nyaranin jam tambahan. Kaya nya dia tahu kalau akhir akhir ini gue sering keluyuran nggak jelas” Eric beralasan.


“Terus, tawaran gue tadi?”


“Gue nggak bisa jawab sekarang. Tapi, makasih atas tawaran nya”


            Eric melanjutkan perjalanan nya meninggalkan GOR. Setelah ia menjauh beberapa meter, Daniel kembali memanggil nya.


“Eric, sayang nya ini bukan tawaran. Ini perintah!” pemuda itu memasang senyum misterius.


***


            Sopir yang selalu mengantar jemput Eric sudah menunggu di depan sekolah. Setelah mendudukan diri nya di mobil, ia baru teringat kalau tas nya masih tertinggal di ruangan milik Nathanael.


“Kenapa mas Eric? ada yang tertinggal?” tanya sang sopir.


“Tas saya… ketinggalan di ruang salah satu guru”


“Apa perlu saya ambilkan?”


“Nggak pak, biar saya ambil sendiri” ucap Eric seraya turun dari mobil. Setiba nya di gerbang, ia mendapati kalau gerbang sekolah sudah di kunci. Menilai dari situasi nya, sepertinya akan merepotkan kalau ia harus meminjam kunci dari penjaga sekolah dan naik ke lantai tiga menuju ruang Nathanael. Jadi, Eric mengurungkan niat nya dan memilih untuk kembali ke mobil.


Ia mendapati sesuatu yang mengejutkan ketika membuka pintu mobil. Sesosok laki laki berambut perak sudah duduk di kursi penumpang yang barusan ia duduki.


“Kenapa mas? Ada masalah?” sang sopir agak kebingungan melihat keterkejutan Eric.


“Nggak… nggak ada apa apa” ucap Eric tenang. ia duduk di kursi penumpang dan langsung menutup pintu mobil.


“Ngapain lo disini?” tanya Eric pada si tamu tak diundang.


“Maksud mas, saya?” sang sopir malah salah paham.


“Oh, nggak pak… saya lagi bicara sama… seseorang”


            Sopir itu mendapati Eric yang melirik ke tempat duduk kosong disamping nya. sopir ini mengerti, Eric mungkin tengah bicara dengan sesuatu yang tak kasat mata. Alexander Gildereich sudah memperingatkan kalau putra nya ini agak spesial. Hanya saja, ia belum terbiasa dengan keadaan Eric yang terkadang bereaksi pada sesuatu yang tak bisa ia lihat.


“Maaf mas, saya belum terbiasa… apa kita bisa berangkat sekarang?” sang sopir meminta izin.


“Oh iya pak, sambil jalan aja.”


Dan mobil itu pun melaju meninggalkan jalanan di depan sekolah.


***


“Ini soal Elvira” hantu berambut perak itu membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Oh ya… akhir akhir ini lo jadi sering ngikutin Elvira. Emang nya, ada apa dengan Elvira?” tanya Eric.


“Gue nggak bisa jelasin detail nya. initinya, gue nggak suka sama anak blasteran jepang yang suka deket deket Elvira itu”


“Maksud nya Yukiya?”


Hantu berambut perak itu menganggukan kepala nya.


“Lo cemburu ya? Tapi kalo lo cemburu pun… lo nggak punya hak apa apa. orang yang udah mati nggak punya urusan sama yang masih hidup”


            Keringat dingin langusng membasahi pelipis sang sopir. Apa Eric baru saja mengatakan soal ‘orang yang sudah mati’? apa itu artinya Eric sedang berkomunikasi dengan arwah orang yang sudah mati?


“Oh nggak apa apa pak… dia nggak akan ganggu bapak” Eric berusaha menenangkan. “bapak fokus nyetir aja”


“I… iya… mas” ucap Sopir itu gugup.


“Oke, balik lagi ke topic pembicaraan. Yukiya emang sedikit tertarik sama Elvira. Tapi nggak sampe ke tahap dimana lo harus cemburu segala” Eric melanjutkan pembicaraan nya dengan si hantu berambut perak.


“Bukan itu masalah nya. lo nggak ngerti, Evira itu…”


Hantu berambut perak itu menghentikan kata kata nya.


“Elvira itu kenapa?”


“pokok nya, anak yang namanya Yukiya itu punya niat jahat sama Elvira. Cuma itu yang gue tahu”


Eric melipat tangan nya didepan dada.


“Motivasi Yukiya berbuat jahat sama Elvira itu apa? apa lo tahu sesuatu tentang Yukiya? Kalo lo tahu sesuatu tentang dia… lo bisa kasih tahu gue. kebetulan, gue juga lagi nyari tahu latar belakang anak itu”


“Anak itu…”


Hantu bermabut perak itu masih menimbang kata kata apa yang paling tepat untuk diucapkan pada Eric.


“Dia bukan manusia biasa”


***


Mobil tiba di depan hunian mewah tempat keluarga Gildereich tinggal. Melewati gerbang dan tiba di pintu ruang utama, Eric pun turun dari mobil dan menutup pintu mobil seperti biasa.


“Mas Eric!” sebelum eric melangkah lebih jauh, sang sopir tiba tiba memanggil nya.


“Iya pak, ada apa?” tanya Eric heran.


“Emm… begini mas, teman nya masih ada di mobil saya atau sudah pergi?”


Eric menoleh ke bangku penumpang, memeriksa barangkali ada makhluk lain yang menghuni mobil nya.


“Nggak ada apa apa kok pak…” ucap Eric. “tapi nggak tahu sih, kalau di bagasi”

__ADS_1


Wajah sang sopir kembali pucat pasi. Eric tertawa geli melihat tingkah paranoid sopir pribadi nya itu.


“Nggak ada apa apa kok pak, Cuma becanda.”


“Oh ya… ka… kalau begitu, mari mas…” ucap pria paruh baya itu sambil melajukan kendaraan nya menuju bagasi tempat koleksi mobil mewah keluarga Gildereich terparkir.


“Dia bukan manusia biasa”


Kata kata terakhir dari hantu berambut perak itu sedikit mengganggu nya. pada akhirnya, lagi lagi segala hal tentang Yukiya menjadi misteri.


            Eric mengetuk pintu rumah. Seorang asisten rumah tangga membuka kan pintu untuk nya, memberitahukan kalau Tutor pribadi nya sudah menunggu di ruang belajar.


“Maaf menunggu lama pak, barusan saya masih ada urusan disekolah.” Eric mengambil tempat duduk dihadapan Tutor nya.


“Tidak apa apa Eric, kamu sudah mengerjakan tugas mingguan mu dengan baik. Saya sudah memeriksa nya sambil menunggu kamu pulang tadi” pria berkaca mata tebal itu membernarkan posisi kaca mata nya.


            Mr.Hansen nama nya, seorang akuntan yang lulus dari Universitas ternama di luar negeri, orang yang mengajar dasar dasar Akuntansi dan bisnis pada Eric. bagi seorang calon pewaris perusahaan besar, mempelajari dunia bisnis sejak muda adalah hal yang lumrah. Eric harus meluangkan waktu tiga jam sehari di luar jam sekolah untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Mr.Hansen ini.


“Saya tidak punya complain untuk jadwal mu yang agak bergeser, karena bagaimanapun, kamu berhasil mencapai standar yang saya tetap kan. Tapi, ada satu hal yang ingin saya beri tahukan pada kamu”


Mr. Hansen menaruh pekerjaan rumah Eric di atas meja.


“Begini Eric, saya harus pergi keluar negeri selama beberapa waktu dan saya juga sudah meminta izin pada Mr. Gildereich untuk cuti. Selama jangka waktu itu… ada seseorang yang akan mengganti kan saya sebagai Tutor kamu”


Mr Hansen mengeluarkan selembar kertas berisi data diri seseorang dari dalam tas nya, kemudian menyerahkan nya pada Eric.


Di pojok kiri atas, terdapat foto seorang gadis berambut madu dengan sorot mata yang tenang. dilihat dari jas sekolah nya, bisa dipastikan kalau gadis itu juga murid Santana.


“Nama nya Janetta, dia akan menjadi Tutor kamu untuk sementara waktu. Soal kompetensi, kamu bisa melihat semua penghargaan yang dia dapat di data diri ini”


Eric berpikir sejenak. Bukankah nama Janetta terdengar familiar?


“Saya cukup kan sampai disini. Modul yang harus kamu kerjakan selama saya cuti sudah saya taruh disini” Mr. Hansen menunjuk setumpuk modul yang terdiri dari beberapa buku setebal kira kira tiga ratus halaman di atas meja. “janetta akan membimbing kamu kalau ada sesuatu yang tidak kamu pahami. Dia juga akan memastikan kalau kamu memenuhi target belajar dengan benar, sampai saya kembali”


Mr. Hansen bangkit dari tempat nya duduk dan berjabat tangan dengan Eric.


“Saya pamit undur diri dulu…”


“Oh iya pak, terima kasih sudah datang”


            Eric pun mengantar Mr.Hansen sampai pintu depan. Dan baru kembali ke kamar setelah memastikan tamu nya benar benar pulang.


Data diri milik seorang gadis bernama janetta masih ada di tangan nya. ada ratusan kompetisi yang sudah ia menangkan selama menjadi murid di Santana. dengan pencapaian seperti ini, gadis ini pasti sangat mencolok jika ada di sekolah.


Beberapa saat kemudian, Eric langsung terperanjat kaget begitu menyadari data diri siapa yang ada di tangan nya ini.


“Janetta… ketua The Core?”


***

__ADS_1


__ADS_2