
Gadis berambut hitam pendek sebahu itu mengenakan riasan sederhana, dengan liptint warna red wine, yang di oles tipis tipis agar tidak terlalu mencolok. Gadis itu meremas tote bag yang dibawanya, ia agak canggung dengan sikap anak anak dikelas yang tampak memperhatikan kedatangan nya.
“Hei, ini gue Julia” ucap Julia yang kemudian disambut oleh “eeehhh” panjang dari seisi kelas.
“Lo keliatan pangling tau gak?”
“Lo keliatan beda banget”
“Setelah seminggu nggak masuk… lo rubah penampilan ternyata?”
Julia menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan padanya sambil bercanada. Gadis itu bergerak menuju bangkunya yang terletak di jajaran paling kiri baris ke empat, bangku yang terletak di belakang Ivana.
Alfian agak terkejut dengan penampilan Julia, ia bahkan hampir tak mengenali gadis yang pernah menjadi pacarnya selama tiga tahun itu.
“Hai, menurut kalian gimana penampilan baru gue?” tanya Julia pada Alfian dan Ivana yang duduk bersebelahan.
“Warna nya item kearah indigo gitu ya? gue kira lo mau pake warna item kearah coklat tua…” komentar Ivana.
“Iya, tadinya emang mau mau pake warna coklat. Tapi, gue rasa warna ini lebih… baru. Gue asal coba sih” jawab Julia.
“Rambut itu cocok buat lo kok” ucap Alfian singkat, dan agak canggung.
Julia tersenyum mendengar jawaban Alfian.
“Thanks”
__ADS_1
***
Gio bergerak menuju lantai dua, lantai dimana kelas 3S berada dengan agak tergesa gesa. Sesampainya disana, ia langsung meminta izin pada kakak kelas nya untuk bertemu dengan Daniel.
“Permisi, kak Daniel udah datang belom ya?” tanya Gio pada salah satu penghuni kelas.
“Daniel ada di belakang tuh… masuk aja” ucap pemuda yang ditanyai Daniel sambil menunjuk ke salah satu bangku yang dikelilingi oleh beberpa anak perempuan sekaligus.
“Permisi…” ucap Gio sebelum menuju bangku Daniel, melewati beberapa murid S class kelas tiga yang memperhatikannya karena jas khusus dewan keamanan siswa yang berwarna putih itu terlihat cukup mencolok diantara jas murid biasa yang berwarna abu abu gelap.
“Niel… eh, maksud saya… kak Daniel” ucap Gio begitu tiba di bangku Daniel. ia harus bersikap sopan dihadapan kakak kelas yang lain jika tidak ingin di cap sebagai junior kurang ajar, terlebih dihadapan kakak kelas penggemar Daniel yang cukup fanatic. Ia tak ingin mencari masalah.
“Tumben banget lo nyamperin langsung ke kelas gue, ada apa?” tanya Daniel pada Gio.
“Bisa minta waktunya sebentar? Saya tunggu di ruang dewan keamanan secepatnya” ucap Gio formal.
“Oh iya, tolong ajak Ivana sama Eric juga ya…”
Daniel mengernyitkan dahinya.
Semua anggota El diablo disuruh berkumpul? Tapi, kenapa?
***
Siang itu sepulang sekolah, sesuai instruksi Gio, semua anggota El diablo termasuk Eric berkumpul di ruang dewan keamanan siswa. Ini adalah pertamakali nya bagi Eric bergabung dalam kegiatan yang melibatkan anggota El diablo sejak ia menjadi anggota resmi klub tersebut. Gio meletakkan sebuah amplop dan mengeluarkan isisnya di atas meja.
__ADS_1
Beberapa lembar foto tersebar diatas meja. Jika diperhatikan, foto foto itu menunjukan adegan pemukulan dan beberapa gesture yang tampak mengintimidasi salah satu pihak.
Tanpa melihat foto foto itupun, Daniel sudah dapat menduga kalau masalah yang akan dibicarakan oleh Gio adalah mengenai hal ini.
“Beberapa anak Santana, dirisak diluar lingkungan sekolah. mereka di ganggu di wilayah yang harus nya ada dibawah pengawasan kalian” ucap Gio tanpa basa basi.
Ivana mengambil salah satu foto, dan memperhatikan nya dengan cermat.
“Kapan foto ini diambil?” tanya Ivana penuh selidik.
“Kayak nya sekitar semingguan ini. foto ini juga baru gue dapet tadi pagi, dari salah satu anak jurnalistik” ucap Gio jujur. Ia tak akan mengatakan pada Ivana kalau foto itu didapatnya dari yukiya. Ia pasti akan langsung menginterogasi macam macam, jika informasi sepenting ini didapat dari adiknya sendiri.
“Gue udah ngeduga kalau hal ini pasti bakal terjadi. Mantan bawahan King pasti nyebar rumor tentang El diablo setelah King… nggak ada. Apalagi selama beberapa minggu ini, kita nggak buka GOR.” Ucap Daniel sambil memperhatikan foto foto yang tersebar dihadapan nya.
“Terus, kita harus gimana kak? Kita harus datangin mereka satu satu? Nggak mungkin kan kita harus jagain murid Santana satu satu?”
Daniel, Ivana dan Gio langsung mendelik kearah Eric bersamaan. Tak disangka, pernyataan sebodoh itu keluar dari bibir murid secerdas Eric Gildereich.
“Ngapain pake cara ribet gitu?” Ivana berkomentar.
Daniel menghelas nafas panjang, terdapat jeda hening beberapa saat sebelum pemuda itu mengambil keputusan.
“Kita buka GOR nanti malam, siapapun yang punya nyali buat ngusik Santana, harus tahu rasanya berhadapan sama El diablo”
SEASON 1 : THE BEGINNING
__ADS_1
- END -
***