Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Monologue


__ADS_3

    Masih menunggu kedatangan Eric, Vira duduk di atas pasir pantai yang lembap itu seorang diri.


    “Lama banget” protes Vira yang bicara dengan dirinya sendiri. Gadis itu membaringkan tubuhnya di atas pasir pantai yang dingin. Tiba tiba, ia dapat merasakan getaran yang cukup kuat, merambat ditanah. Dan laut yang semula tenang, mendadak memunculkan gelombang laut yang cukup besar. Bahkan Bulan keperakan yang menghiasi langit seolah lenyap di telan kegelapan.


    Pertanda buruk.


    Vira bergegas bangkit. Keadaan seperti ini tak bisa dibiarkan, Eric dalam bahaya. Entitas dengan energy kuat tengah memenuhi tempat ini dengan energy Ether. Seolah memberi sinyal bahwa keberadaan penyusup benar benar tak diinginkan dalam Archein milik King.


    ia harus mencari bantuan, tapi jika ia kembali ke kesadarannya sekarang, tak ada jaminan kalau ia bisa kembali ke tempat ini lagi dan menjemput Eric disini.


Maka, satu satunya cara adalah dengan memanfaatkan Elvira.


    Vira mengambil salah satu potongan batu yang tergeletak tak jauh dari batu karang, serpihan batu karang seukuran telapak tangan itu tampak tajam, cukup untuk melukai jemarinya dan mengirimkan rasa sakit pada Elvira.


    Tanpa keraguan, Vira menghantamkan batu itu ke tangan nya. berkali kali. Rasa sakit itu tak ia gubris. Yang terpenting adalah memanggil Elvira kesini dan menjemput Eric secara paksa dari Archein.


    “Stop! Berhenti!” Vira mendengar sesuatu dari dalam kepala nya. dan seperti sebuah Glitch, dari suatu dimensi dalam dirinya, Elvira muncul ke hadapan Vira.


    “LO UDAH GILA YA?” bentak Elvira begitu menyadari dari mana rasa sakit itu berasal. “gw bakal minta sesi konseling tambahan, dan dalam beberapa hari… lo gak bakal bisa berbuat seenaknya kaya gini ke gue!”


    “Aku nggak peduli soal itu! yang jelas, Eric dalam bahaya dan kita harus tolong dia!” Vira menunjuk kea rah laut lepas.


    “Eric… dalam bahaya?”


    “Iya, dan satu satunya cara buat nyelametin dia adalah dengan masuk ke Archein orang ini!” Vira menjelaskan.


    Elvira menatap Vira dengan tatapan tak percaya.


    “Nggak! Gw gak mau masuk kesana. Gue nggak mau masuk ke dalam Archein orang yang udah mati” Elvira menolak. Tapi Vira dengan sigap langsung meraih lengan Elvira dan menyeret gadis itu ke arah laut.

__ADS_1


    “Nggak! Gue bilang gak mau!” Elvira terus berontak.


    “Aku nggak butuh persetujuan alter Ego kaya kamu. asal kamu tau, aku bisa aja ngelakuin hal ekstrim kaya gini—“ masih dengan serpihan batu karang yang sama, Vira menggoreskan sisi tajam batu itu ke lengan nya. darah segar menetes dari sobekan luka itu, dan luka serupa muncul di lengan Elvira.


    “Lo udah Gila! Rasa sakitnya nyata! Lukanya bakal berdampak langsung ke badan kita!”


    “Itu badan Aku! Dan aku bebas mau ngelakuin apapun! selama ini, kamu ngusir aku dengan nyakitin badan itu, karena kamu tahu aku benci rasa sakit. Tapi kali ini nggak. Kalau itu bisa dipakai buat nyelametin Eric, aku nggak keberatan sama sekali!” Vira bersikeras.


    “Sinting… dasar cewek sinting!”


    “Aku tahu, aku udah nggak waras.” Vira masih terus menyeret Elvira ketengah laut, keduanya semakin jauh dari garis pantai. “Aku tahu, orang orang itu berusaha buat nyingkirin sisi gak waras ini… supaya aku lebih berguna”


    Gelombang laut itu terasa lebih kuat. namun, dalam dunia imajiner itu… Vira dapat melewati air penuh gelombang itu dengan mudah.


    “Tapi, walau aku dibilang nggak waras… keinginan aku buat ngelindungin Eric    gak pernah berubah.”


    “Dan hal itulah… yang nggak kamu punya sebagai tiruan aku yang lebih waras”


    Dalam satu dorongan, Vira menjatuhkan dirinya dan Elvira kedalam palung itu. Elvira tampak panic dan terus berusaha mempertahankan dirinya agar tetap berada di permukaan, sementara Vira sudah memasrahkan dirinya ke kedalaman laut.


    Tentu saja usaha Elvira sia sia, karena palung itu merupakan rekaman ulang proses kematian King, dan siapapun yang masuk ke zona itu akan merasakan apa yang dialami King menjelang kematian nya.


    Semakin dalam


    Semakin dalam


    Jauh kedalam palung tak berdasar.


***

__ADS_1


    Semula, memang tak ada papun disana. Tapi mendadak dari kejauhan, awan hitam pekat yang bergulung gulung muncul perlahan. Itu bukan awan hitam biasanya, warnanya jauh lebih pekat dari Comulonimbus yang biasa muncul di perairan hangat dengan kelembapan tinggi.


    sesuatu yang kuat, datang mendekat, Eric dapat merasakan nya.


    “Apa? apa yang bakal dateng?” tanya Eric bingung. Apa ini pertanda baik? Atau buruk?


    “Gue nggak tahu siapa dia… tapi yang jelas, dia cewek. dia yang bikin gue terikat disini. Dan kalo boleh dibilang… mungkin dia yang ngebangkitin gue di tempat ini setelah mati” King menjelaskan seadanya.


    “Tunggu, jadi dia manusia atau bukan?”


    “Dia jelas bukan manusia. Manusia nggak mungkin bisa ke tempat ini”


    “Tapi, gue manusia asli Woy!!”


    “Maksud gue… kecuali manusia aneh kaya lo”


    Awan hitam itu memang berada di kejauhan, tapi keberadaan energy luar biasa itu justru Eric rasakan dari dalam dirinya sendiri.


    Dadanya terasa panas. Seolah bara api muncul dari jantung nya, dan membakar dirinya perlahan. Eric mulai merasakan nyeri yang hebat. Saking sakitnya, pemuda itu sampai tak sanggup berdiri di atas kedua kakinya dan jatuh diatas kedua lututnya.


    “Woy, lo nggak apa apa?”


    Bahkan bernapas pun terasa sulit.


    “Manusia… lemah”


    Muncul suara wanita yang terdengar asing dari dalam kepala nya.


***

__ADS_1


__ADS_2