
“loh, kalian udah disini ternyata?” ucap Alfian yang berpapasan dengan Yukiya dan Elvira di tangga. “baru aja gue mau nyusul ke kelas kalian. Eric kemana?”
“Eric ngambil poster ke ruang Jurnalistik. Paling entar nyusul kalau ruang pertemuan nya udah fix” jawab Yukiya.
“oooh…” Alfian mengangguk paham. “lo udah sehat El? Kok kemarin tumben nggak ngabarin gue?” tanya Alfian pada Elvira.
“Cuma agak kurang enak badan aja kok…” Elvira beralasan.
“hmm… bagus deh kalau nggak kenapa napa. Oh ya, buat hari ini kayak nya kita bisa pake perpustakaan deh. Gue udah izin buat pake salah satu ruang baca.” Ucap Alfian seraya berangkat menuju perpustakaan diikuti Yukiya dan Elvira.
Elvira dapat merasakan hawa keberadaan tipis yang mengikuti nya, sesosok hantu berambut perak tersenyum pada nya. pikiran gadis itu menjadi tenang.
Tak akan ada yang bisa menghapus keberadaan nya, selama mereka bersama.
***
“selain biodata yang diserahin ke sekolah, nggak banyak yang gue dapet soal latar belakang Yukiya. Dia ikut program Advance class dua kali di jepang, jadi pendidikan sekolah dasar Cuma dia tempuh selama empat tahun. Dia lanjut home schooling dan lulus SMP dua tahun yang lalu.” Julia menjelaskan.
“lulus dua tahun yang lalu? Berarti… dia sempet skip class dua tahun?”
Julia mengangguk.
“yup, bahkan walau dia skip class, umur nya tetep lebih muda dari usia rata rata anak diangkatan kalian. Selain itu, ada yang aneh juga sama identitas dia…”
Julia membuka website sekolah yang menampilkan biodata murid murid di Santana, dan menunjukan halaman milik Yukiya pada Eric.
“Nama orang tua, dan alamat rumah nya dirahasiakan. Bahkan nama belakang nya pun dirahasiakan. Kenapa pihak sekolah, nutupin identitas asli Yukiya?” tanya Julia heran.
“gue pun nggak tahu…”
__ADS_1
“oke, menurut lo… ada berapa jalur masuk supaya bisa keterima di sekolah ini?” tanya Julia.
“setahu gue, ada tiga jalur masuk. Jalur Test Akademik 70%, jalur prestasi non akademik 20% , dan jalur rekomendasi khusus 10%.”
“oke, gue tau soal jalur test akademik dan jalur prestasi non akademik. Tapi jalur rekomendasi khusus itu… bisa tolong jelasin detail nya? dari mana 10% anak anak ini dapet rekomendasi?” tanya Julia.
“dari seratus anak yang diterima tiap angkatan, selalu ada sepuluh anak yang di rekomendasiin sama yayasan. Atau, orang orang yang berpengaruh di yayasan. Buat angkatan ini, salah satu nya gue dan Elvira. Walaupun hasil ujian kami ada di peringkat yang tinggi, kami tetep ngambil jatah jalur rekomendasi khusus. Jadi, jatah buat anak yang ikut testing nggak berkurang. Selain kami berdua, ada juga anak titipan pejabat pejabat yang bersedia bayar duit lebih buat pembangunan sekolah dan lain lain.” Eric menjelaskan.
“jalur nyogok maksud nya?”
“gue lebih suka nyebut mereka sebagai anak anak dari jalur kontribusi khusus. Mau bagaimanapun, Saint Foundation kan bukan badan amal murni. Kalo mereka emang bersedia buat investasiin asset mereka disini, kenapa enggak? Toh penempatan kelas nya tetep disesuaikan sama hasil ujian tulis. Dan mereka nggak dapat perlakuan khusus.” Eric beralasan.
“oke, setelah lo tau itu semua… apa lo punya kecurigaan kalo Yukiya termasuk bagian dari sepuluh anak yang masuk lewat jalur rekomendasi khusus?”
Eric berpikir sejenak.
Julia menyandarkan kepala nya ke kursi. Permintaan Eric sungguh akan menjadi pekerjaan yang panjang.
“sebener nya, di angkatan sebelum sebelum nya pun… ada kasus yang mirip Yukiya kaya gini, dimana ada beberapa latar belakang seperti nama orang tua dan alamat rumah di rahasiakan. Dan sebagai bagian dari klub Jurnalistik kami dilarang buat nyari tahu tentang itu semua.”
Julia mengambil jeda beberapa saat sebelum melanjutkan pembicaraan nya.
“apa lo bener penasaran, sama latar belakang Yukiya?”
Eric mengangguk yakin.
“apa lo siap, ngungkap rahasia dibalik institusi punya bokap lo sendiri?”
***
__ADS_1
YukiYukia : “Ric, kita kumpul di perpus. Poster udah diambil?”
EricG : “poster udah diambil. Gue kesana sekarang”
YukiYukia : “ruang baca nomor 8 ya”
EricG : “oke”
Eric memasukan kembali ponsel nya ke saku jas dan pergi menuju perpustakaan.
“kalo lo siap buat segala konsekuensi nya, gue siap kerja sama sama lo buat ngungkap itu semua. Tapi ingat, ini Cuma diantara kita berdua aja.”
Eric teringat kata kata Julia sebelum ia meninggalkan ruang jurnalistik. Apa ia siap dengan segala konsekuensi nya?
Eric tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Soal El diablo, ia tak perlu berpikir panjang untuk terjun langsung ke Arena. Ia bersedia menyaksikan sendiri kegiatan klub itu bahkan walau tempat itu sangat berbahaya. Tapi mengungkap sesuatu yang berkaitan dengan institusi dan yayasan milik sang ayah… itu sesuatu yang berbeda. Satu hal yang pasti Eric sadari, Alexander Gildereich tidak mungkin menyuruh nya pulang dan bersekolah disini tanpa alasan.
Eric tiba di perpustakaan dan langsung menuju ruang baca nomor delapan sesuai petunjuk Yukiya.
“woi! Disini!”
Yukiya melambaikan tangan nya pada Eric.
Diantara belasan murid kelas S yang memperlakukan nya dengan canggung, hanya pemuda itu yang benar benar memperlakukan nya seperti teman sebaya. Melihat Yukiya yang selalu bersikap baik sejak kedua nya pertama kali bertemu di masa Orientasi membuat Eric berpikir ulang mengenai rencana nya dengan Julia.
Sebenar nya, apa yang Yukiya sembunyikan?
***
__ADS_1