Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Declare


__ADS_3

Awalnya, Ivana menolak untuk mempercayai kata kata yang keluar  dari bibir Julia, hingga ia mendapati bahwa beberapa tetes air mata jatuh di pipi gadis itu.


“Udah enam tahun nyokap gue dirawat di rumah sakit jiwa, ada donatur nggak dikenal yang membiayai semua biaya perawatan dia, termasuk bayarin uang sekolah gue. gue pikir, semua bakal baik baik aja. sampai pada suatu hari, seseorang bilang kalau diluar sana, ada video skandal yang melibatkan nyokap gue dan salah satu orang penting di Bellkarta. Gue mati matian nyari video itu di internet, sampai akhirnya… gue dapet informasi soal The core, soal kak janetta yang entah gimana caranya berhasil ngumpulin semua rahasia dan informasi bawah tanah di Bellkarta. Karena itulah, gue mati matian masuk The core. Supaya gue bisa dapet akses menuju video itu, supaya gue bisa nge hapus bagian tergelap dari hidup gue itu selamanya” gadis itu bercerita sambil berusaha menahan tangis nya.


“Maafin gue, gue nggak bermaksud ngejual lo atau nyakitin Alfian” lanjutnya.


Ivana mengubah posisi nya agar berhadapan langsung dengan Julia dan memeluk gadis itu erat erat.


“Kenapa lo nggak bilang dari dulu? Kenapa lo harus nanggung ini semua sendirian?” ucap Ivana penuh empati. Tentu saja, Ivana bisa merasakan beban seperti apa yang harus dipikul Julia, mengingat kisah yang terjadi di hidupnya pun terasa mirip.


“Seandainya lo cerita dari awal, gue dan Alfian pasti bakal bantuin lo” ucap Ivana tulus.


Julia menggelengkan kepala nya.


“Gue takut, gue takut kalo kalian bakal ninggalin gue kalau tahu latar belakang gue yang sebenarnya. Kalo orang orang tahu soal hal ini, gue bisa jadi bahan bully an. Gue nggak mau” ucap nya sesegukan. “please… jangan kasih Alfian soal ini. cukup lo aja yang tahu” Julia setengah memohon.


“Gue bakal jaga rahasia lo, lo tenang aja”

__ADS_1


Ivana mengusap kepala Julia dalam pelukan nya, berusaha menenangkan gadis itu.


“Biar impas, gue juga bakal cerita soal nyokap gue” ucap Ivana. setelah Julia berhasil menenangkan dirinya sendiri.


***


Distorsi waktu.


Elvira membuka kedua matanya, mendapati bahwa dirinya tengah terbaring diatas kasur masih dalam keadaan mengenakan seragam sekolah. gadis itu melirik ponsel nya untuk memeriksa tanggal dan waktu yang tertera.


Dua hari berlalu sejak ia tertidur. Selama itu, Vira pasti telah mengambil alih kesadaran nya. entah apa saja yang Vira lakukan ketika gadis itu mengendalikan tubuh ini. yang jelas, itu pasti melibatkan sesuatu yang tak mungkin ia lakukan, ini terbukti dari tumpukan buku di meja belajar yang jika dilihat dari sampulnya, Elvira tahu benar kalau buku buku itu milik nya. dan benar saja, ketika gadis itu memeriksa nya, buku buku itu ternyata adalah milik Yukiya.


Tepat sebelum Elvira melangkah masuk ke kamar mandi, tiba tiba ia bisa medengar suara ketukan di pintunya. Ia sudah bisa menebak, kalau yukiya pasti akan datang untuk mengambil buku buku nya.


Gadis itu terpaksa menunda kegiatan mandinya, kemudian menuju pintu sambil membawa setumpuk buku yang barusan di taruh di atas meja belajarnya. Elvira membukakan pintu nya untuk tamu tersebut.


“Hei, mau ngerjain tugas bar—“ kata kata Yukiya terputus karena Elvira yang datang untuk membuka pintu, langsung meletakkan tumpukan buku buku yang ia bawa di lantai, dekat kaki Yukiya.

__ADS_1


“Ups… lo bukan Vira kayak nya” ucap Yukiya begitu menyadari perubahan drastic dari gadis yang kini menatapnya dengan tatapan kesal.


“Elvira kan?” Yukiya berusaha memastikan.


“Ngapain lo kesini? Harusnya lo udah tahu dong, kalau gue nggak terima murid laki laki sebagai tamu” tanya gadis itu ketus. “bawa barang barang lo dari sini, dan tolong jangan datang ke apartemen gue seenaknya”


Yukiya langsung tertawa mendengar pernyataan Elvira.


“Astaga, lo tuh lucu banget. Kalo gue udah dapet izin dari Vira, ya harus nya lo juga ngizinin dong? Kehidupan ini kan milik kalian bersama, bukan seratus persen milik lo sendiri”


Elvira mengepalkan tangan nya kesal.


“Apa lo sebenci itu sama gue Cuma gara gara gue tahu sedikit rahasia lo? apa perlu gue bongkar semuanya?” gadis itu mengancam.


Yukiya mencengkram daun pintu kuat kuat, membuat Elvira was was karena khawatir pemuda itu akan melukai nya.


“Berhenti! Lepasin daun pintu gue, atau gue teriak biar satpam datang kesini?” gadis itu kembali mengancam.

__ADS_1


“Elvira… kita sama sama tahu, kenapa Eric dipanggil kesini. Kalau Eric udah balik dari amerika… itu artinya, riwayat lo akan berakhir d


__ADS_2