Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
His last Words


__ADS_3

    “kenapa lo nelpon gue? bukan nya gue udah bilang kalau hari ini gue ke kantor agensi?” ucap Daniel begitu mengangkat ponsel nya yang sedari tadi berdering.


    “kamu belum bilang apa apa ke saya” jawab gadis di seberang telepon. Dari suara dan cara bicara yang formal, tampak nya ini bukan Ivana. Daniel memeriksa layar ponsel nya, dan benar saja. Ternyata memang bukan Ivana yang menelpon, melainkan Janetta.


    “oh, sorry kirain Ivana. tumben banget lo nelpon gue jam segini. Emang nya ada hal yang nggak bisa dibicarin besok lagi?”


    Janetta terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


    “tadi siang, karena Eric masuk kedalam Archein mu, kamu juga… sempat masuk kedalam Archein mu sendiri kan?” Janetta balik bertanya.


    “iya, emang nya kenapa?”


    “pintu dengan symbol Eos. Pintu yang dijaga oleh Phobos dan Deimos. Apa kamu… melihat nya?”


    Daniel mengingat kembali kejadian siang tadi, ketika ia masuk kedalam Archein nya sendiri bersama Eric. pintu itu ada disana, ruang jiwa milik nya yang bahkan tak ia ketahui. Awal nya, ia ingin mematuhi perintah Janetta untuk tidak mengusik apapun yang tidak menjadi tujuan nya didalam sana. tapi, ketika Eric menanyakan soal masa lalu nya, atau ingatan yang hilang…


    Sesungguh nya, Daniel tak memiliki masa lalu.


    Bukan karena dirinya hilang ingatan. Melainkan karena sisi manusia seperti masa lalu dan segala ikatan didalam nya adalah sesuatu yang tidak diciptakan dalam dirinya. karena ia tidak berasal dari sesuatu yang hidup. Karena seluruh jiwa nya adalah sesuatu yang bersifat Artifisial. Karena Archein yang menjadikan dirinya manusia adalah hasil rekonstruksi dari makhluk fana. Ia hanya bocah kecil yang tak memiliki apa apa, lalu dibentuk sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan orang lain.


    Menjadi manusia utuh adalah suatu kemewahan yang tak akan pernah ia, maupun Janetta miliki.


    “iya, gue lihat pintu itu didalam Archein gue”


    “lalu?”


    “gue buka, karena penasaran” jawab Daniel jujur. Nafas Janetta tercekat mendengar jawaban itu.


    “tapi, ini belum waktu nya!”


    “gue tahu, ini nggak bakal ngerubah rencana kita. Ini nggak bakal ngerubah tujuan utama gue juga”


    “tapi, disini ada Esper yang bisa membaca pikiran manusia. Bagaimana kalau—“


    “Janetta!” sedikit menyentak, membuat gadis yang menjadi lawan bicara nya terdiam. “jalanin semua nya sesuai protokol. Misi lo adalah misi lo, misi gue ini nggak ada hubungan nya sama sekali sama lo. jadi…” Daniel mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan perkataan nya.

__ADS_1


    “nikmatin momen ini, sebelum kontrak kita selesai… dan kita bakal masuk lagi ke dalam sangkar”


***


    Suara deburan ombak, dan matahari yang bersinar terik. Eric dapat merasakan hembusan angin laut yang menerpa wajah nya, terasa lembap dan hangat. Pasir pantai yang kasar menempel di kaki nya, tentu saja karena Eric tak mengenakan alas kaki.


    Seorang anak laki laki duduk sendirian, sambil menatap ombak yang menghantam garis pantai. Pemuda itu terlihat familiar, ia menoleh dan melambaikan tangan kearah Eric. begitu rupanya, pantas saja mereka bertemu di tempat seperti ini.


    Eric mendudukan dirinya di samping King. Saat ini, sosok yang ia lihat bukan lah sosok makhluk menyerupai mayat hidup dengan tubuh pucat membiru dan luka disana sini. King terlihat seperti manusia normal, dan ia terlihat begitu hidup.


    “gue belom sempet ngucapin terimakasih sama lo.” ucap King.


    “terus terang, gue kaget loh begitu lo ngilang gitu aja sementara gue dikepung Zombie Zombie nggak jelas. Kurang ajar banget, lo nyelametin diri gitu aja setelah gue tolongin” protes Eric, yang langsung disambut oleh tawa dari King.


    “sorry, itu satu satu nya cara supaya gue nggak dirantai ke tempat itu lagi. Dengan begini, badan gue nggak bakal dimanfaatin lagi oleh mereka.”


    “iya, nggak apa apa kok. toh akhirnya gue ditolong dan selamat.”


    Suasana kembali hening, pandangan Eric kembali tertuju pada lautan lepas.


    “uh, jadi… kita mau ngomongin bisnis sekarang?” tanya Eric heran. King menggelengkan kepala nya.


    “nggak, ini soal… konspirasi dibalik pembangunan pulau Bellkarta. Pulau hasil Reklamasi teluk yang di bangun tiga puluh tahun yang lalu”


    Eric mengernyitkan dahi nya heran.


    “gue… nggak tahu kalau pulau ini punya cerita kaya gitu”


    “gue juga nggak tahu banyak. Gue Cuma bakal cerita soal beberapa hal yang terkait sama kematian gue.”


    “oke… gue nyimak”


    “tiga tahun yang lalu, gue dipanggil ke tempat ini buat jadi wadah Lilith” King memulai ceritanya.


    “wadah… Lilith? Maksud lo cewek iblis yang tadi kita temuin di Archein lo?”

__ADS_1


    King menganggukan kepala nya.


    “tapi, ternyata badan gue nggak cukup kuat buat nampung kekuatan Lilith. Dan seperti yang lo lihat, akhirnya gue mati. Dan entah gimana ceritanya, gue terjebak disini.” King mengenang.


    “jadi, soal kejadian kak Ivana dan Yukiya, juga waktu El diablo diambil alih sama kak Daniel, lo juga nggak tahu?”


    King menggelengkan kepala nya.


    “ada rencana besar, yang lagi disusun oleh seseorang di pulau ini. gue nggak paham soal Okultisme dan bisnis. Yang jelas… semua ini udah dimulai bahkan jauh sebelum Lilith dibangkitin.”


    King bangkit dari tempat nya duduk dan melangkah melewati garis pantai. Air laut yang sejuk menyentuh telapak kaki nya. dimata Eric, bagian yang menyentuh air laut itu tampak agak terdistorsi dan kabur. Matahari bergerak cepat. Tiba tiba saja langit yang semula biru, berubah menjadi jingga dan menggelap.


    “Ivana sama Gio apa kabar? Mereka salah satu anak buah yang paling deket sama gue waktu gue masih jadi ketua El diablo. Gue harap, mereka sehat sehat…”


    “mereka baik baik aja kok. kak Ivana sama kak Gio sekelas di SMA Santana, dan mereka keliatan akur”


    “loh Ivana sama Gio sekolah? siapa yang biayain?” tanya King heran.


    “loh… lo nggak tahu ya? orang tua kak Ivana itu kolega bokap nyokap gue. dia anak konglomerat, nggak mungkin nggak punya biaya buat sekolah. sedangkan kak Gio… kalau nggak salah, dia udah diadopsi sama seseorang” Eric menjawab sepengetahuan nya.


    “bagus kalau gitu…”


    King melangkah semakin jauh kearah laut, dan Eric mulai bangkit dari tempat nya duduk.


    “pemimpin El diablo yang baru gimana? Apa dia bisa nge handle anak buah sebanyak itu? apa orang nya baik?”


    “gue nggak tahu banyak soal kak Daniel. tapi, El diablo yang baru anggota nya untuk saat ini Cuma Kak Daniel, Kak Ivana dan… gue. mereka juga jadi klub resmi SMA Santana, dibawah pengawasan dewan keamanan sekolah yang dipimpin kak Gio. tapi lo nggak usah khawatir, bahkan Cuma dengan dua anggota pun, El diablo nggak pernah kalah dari geng manapun.”


    King tersenyum mendengar cerita Eric. mendengar kabar bahwa semua nya dalam keadaan baik, sudah cukup untuk membuat dirinya merasa tenang. seolah beban yang tak dapat dijelaskan, terangkat dari dirinya. karena bahkan tanpa dirinya, semua orang mulai bergerak ke arah yang terasa benar. Matahari di ufuk barat, telah tenggelam sepenuh nya. dan rembulan berwarna keperakan yang menggantung di langit menjadi satu satu nya penerangan di tempat itu.


    “titip salam buat semua nya dan… maaf. Buat semua masalah yang udah gue timbulin selama ini. gue emang nggak tahu apa yang terjadi di luar sana. tapi, kalau gue emang ngelakuin sesuatu yang buruk, gue Cuma bisa minta maaf”


    Angin laut berhembus kencang, menerpa Eric. tubuh King mulai terdistorsi. Berubah menjadi kepingan kepingan cahaya yang bertebaran. Seperti ribuan kunang kunang yang terbang, dan melepaskan seberkas cahaya terakhir, Sebelum akhirnya redup dan memudar. Sebuah salam perpisahan yang tak terucapkan.


    Sungguh sebuah kehidupan yang singkat.

__ADS_1


***


__ADS_2