
“Halo, Eric? apa kamu ngeliat Alfian?” tanya suara di seberang telpon. Ternyata itu pak Nathanael yang menelpon dari nomor ponsel milik Alfian.
“Waktu saya ninggalin ruangan bapak, kak Alfian masih disana kok. Katanya mau ngadem dulu karena AC nya dingin” jawab Eric.
“Biasa nya juga begitu… kalau nggak bareng Julia, biasa nya dia pulang bareng saya. Tapi dia nggak ada di ruangan dan di daftar Student log juga nggak ada keterangan kalau dia udah pulang”
“Oke pak, saya kesana sekarang ya”
Sambungan terputus.
“Siapa?” tanya Gio penasaran.
“Pak Nathanael… kata nya Alfian tiba tiba ngilang” jawab Eric singkat.
“Hah? Ngilang gimana?”
“Gue juga nggak tahu. Yang jelas, gue mau balik ke sekolah sekarang. Perasaan gue nggak enak” ucap Eric seraya mengemasi barang barang nya dan bersiap untuk pergi.
“Kalo gitu gue ikut” ucap Gio.
Kedua nya pun pergi meninggal kan café dan kembali menuju ke sekolah.
***
Eric dan Gio mengetuk pintu ruangan Nathanael beberapa kali sebelum akhir nya guru kesenian itu membuka kan pintu untuk mereka.
“Gimana pak, apa Alfian udah ketemu?” tanya Eric begitu bertemu dengan Nathanael.
“Saya udah nyari ke perpustakaan, ruangan kelas, kantin… dia nggak ada di mana mana.” Ucap Nathanael sambil mempersilahkan Eric untuk masuk.
__ADS_1
“Permisi pak, saya dari The hive… barangkali saya bisa bantu cari Alfian” Gio meminta izin untuk masuk ke ruangan Nathanael.
“Ya, silahkan masuk” ucap Nathanael kemudian.
Tak banyak yang berubah dari ruangan itu, keadaan nya masih sama seperti dua jam yang lalu ketika ia meninggalkan Alfian disini.
“Dia bahkan ninggalin ponsel nya disini. Itu anak kemana sih” ucap Nathanael setengah frustasi.
“Jangan jangan ada yang nyulik?” Eric berspekulasi.
“Nggak mungkin ada yang nyulik dia… kalau pun ada, orang itu pasti udah KO duluan” jawab Gio yakin.
“Emang nya kak Alfian bisa berantem?” Eric meragukan.
“Loh, emang nya lo nggak tahu? Dia mantan ketua The hive sebelum gue…”
Andai perkataan itu tak keluar dari mulut Gio sendiri, Eric mungkin tak akan mempercayai nya.
“Memang nya Alfian sakit pak?” kali ini Gio yang mengajukan pertanyaan. Walau pernah berada di organisasi yang sama dan menjadi teman sekelas selama satu tahun, ternyata masih ada banyak hal yang tak Gio ketahui tentang Alfian.
Nathanael mengelengkan kepala nya.
“Kalian pernah denger istlah Library’s of life?”
***
Alfian terbangun di sebuah reruntuhan. Ia melihat ke sekeliling. Bangunan ini tampak menyerupai bangunan pada abad pertengahan. Langit langit nya sudah runtuh, sekeliling tembok dipenuhi tanaman rambat. Aneh nya, terdapat banyak rak buku berjejer disana, juga sebuah peti mati dari kayu hitam. Pemuda itu melepaskan pandangan nya ke langit.
Ah… ia tahu tempat ini, sebuah dunia tanpa siang dan malam. Alam bawah sadar nya sendiri.
__ADS_1
“Apa gue pingsan?” tanya Alfian pada diri nya sendiri.
“Tidak, lebih buruk dari itu. kau berada dalam masa kritis.”
Seorang anak kecil menghampiri nya. anak kecil yang menyerupai wujud nya saat masih kecil.
“Kau berada di dasar kolam sedalam dua meter. Kehabisan nafas, se sosok makhluk gaib yang mendiami air mengambil alih tubuh mu agar tetap berada disana. Kalau seseorang tak cepat cepat menyelamatkan mu, kau akan segera mati.” Anak kecil itu menjelaskan.
“Se… seriusan?” ucap Alfian tak percaya. “sialan, harus nya gue nggak datang ke tempat itu sendirian… gue nggak tahu kalau kolam renang itu beneran ada penghuni nya” ucap Alfian kesal. “terus gimana dong? Gue harus terima kalo gue mati gitu aja?”
“Ada satu cara untuk memastikan kalau tubuh mu aman sampai ada seseorang yang menyelamatkan mu” ucap anak kecil itu.
Peti mati hitam yang ada di tempat itu tiba tiba bergerak dan terbuka dengan sendiri nya di hadapan Alfian.
“Dengan memasuki peti mati ini, kau akan memasuki fase kematian semu. Sampai seseorang menyelamatkan mu, tubuh mu akan baik baik saja…”
“Tapi, nggak ada jaminan kalau gue bakal keluar dari peti itu kan?”
Anak kecil itu menganggukan kepala nya, jujur.
Alfian menghela nafas panjang.
Apa suara Nathanael bisa menjangkau peti mati ini? dan jika ya… apa suara nya cukup untuk membangunkan Alfian?
Apa seseorang akan menjemput nya disini?
Tak ada yang tahu. Tapi jika ada cara untuk mempertahan kan nyawa nya, walau berisiko Alfian tak punya pilihan lain selain mengambil kesempatan tersebut.
Alfian melangkahkan kaki nya dan perlahan membaringkan tubuh nya dalam peti mati itu. peti mati itu tertutup. Langit mendung yang menggantung di atas sana menurunkan hujan nya. membasahi peti mati Alfian dalam alam imajiner nya sendiri.
__ADS_1
***