Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Signal


__ADS_3

Yukiya jatuh pingsan. Eric dan Julia bergegas memanggil Ambulance untuk membawa Yukiya ke rumah sakit. Namun, sebelum meninggalkan lokasi, Julia sempat memungut kartu ‘king of Diamond’ yang ditinggalkan pelaku di tempat kejadian.


Ia sudah bisa menduga, berkaitan dengan siapa kejadian ini.


***


Sesampai nya di rumah sakit Eric dan Julia diminta untuk mengisi data diri Yukiya. Begitu menyebutkan nama Yukiya, petugas rumah sakit langsung memeriksa daftar pasien lama dengan nama serupa.


“Yukiya Isadores?” petugas rumah sakit itu berusaha memastikan. Eric menoleh kearah Julia, namun gadis itu juga menggelengkan kepala nya tanda tak tau. Yukiya tak pernah memberitahukan nama belakang nya, selain itu nama belakang nya pun tak tercantum di data sekolah.


“Lahir di Yokohama, 19 Desember?” Eric berusaha mencocokan tanggal lahir Yukiya dengan data pasien di tangan petugas rumah sakit itu.


“Ya” petugas rumah sakit menganggukan kepala nya. ia bergegas menghampiri Yukiya dan melakukan Scanning otomatis pada wajah pemuda itu, untuk memastikan bahwa Yukiya adalah Yukiya Isadores yang ada di daftar pasien.


“Maaf sus, kami nggak tahu data diri lengkap nya. student pass nya juga sepertinya ketinggalan” ucap Eric. saat di bawa dengan Ambulance, Eric sudah berusaha mencari Student pass milik Yukiya. Namun tampak nya, yukiya meninggalkan Student pass nya entah dimana.


“Oh, iya nggak apa apa… dia pasien lama rumah sakit ini. data diri nya sudah ada pada kami” petugas rumah sakit itu segera menuju loket.


“Ini dimana?” tanya Yukiya begitu membuka mata nya di rumah sakit. petugas rumah sakit lain nya tengah membersihkan luka di belakang kepala nya.


“Ada luka sobekan sebesar tiga senti meter di kepala lo. dan ini harus di jahit” Julia menjelaskan keadaan nya pada Yukiya.


Yukiya meringis kesakitan ketika kapas yang sudah dibasahi alcohol itu menyentuh kulit kepala nya.


“Jadi, nama belakang lo Isadores?” tanya Eric pada Yukiya. Yukiya tampak terkejut, namun ia berusaha mempertahankan sikap tenang nya.


“Iya, keren nggak?” ucap nya berusaha tetap tenang.

__ADS_1


Eric menghela nafas panjang. Sebaik nya, ia tidak membahas hal itu disaat seperti ini.


“Ada nomor keluarga lo yang bisa dihubungin nggak? Buat ngasih tahu kalau lo ada disini?” tanya Julia.


“Hape gue mana?” Yukiya malah menanyakan ponsel nya. Eric langsung menyerahkan jas Yukiya dimana terdapat ponsel yukiya di saku nya.


“Gue nggak ngotak atik hape lo kok.”


Tentu saja membuka ponsel Yukiya adalah hal yang sulit karena ponsel itu sudah dilengkapi Iris Scanner yang cukup canggih.


“Yang tahu gue disini, Cuma kalian kan?” tanya Yukiya penuh selidik. Julia dan Eric menganggukan kepala nya bersamaan.


“Nggak usah ngehubungin siapa siapa.” Ucap Yukiya datar.


“Loh, terus penanggung jawab lo selama disini siapa?”


            Petugas rumah sakit yang sebelum nya meminta data diri Yukiya kembali ke ruang perawatan.


“Maaf, akan dilakukan prosedur penanganan khusus. Silahkan menunggu di ruang tunggu” ucap petugas itu yang mengusir Yukiya dan Julia secara halus. Dua petugas itu langsung membawa tempat tidur Yukiya ke tempat lain.


“Mata-ashita” ucap Yukiya sambil melambaikan tangan nya, sebelum menghilang menuju ruangan lain di Central hospital.


“Kode Pandora? Maksud nya apa Ric?” tanya Julia penasaran.


Eric berpikir sejenak. Ia pernah mendengar istilah itu, tapi sudah lama sekali.


Kalau tak salah ingat, kode itu juga digunakan padanya beberapa tahun yang lalu

__ADS_1


***


“Jadi, Yukiya juga di rawat disini?” tanya Alfian begitu Eric dan Julia menceritakan semua yang baru saja terjadi ketika mereka hendak menjenguk dirinya. Karena diminta untuk menunggu di ruang tunggu tanpa melakukan apapun, Eric dan Julia pun memutuskan untuk pergi ke ruangan tempat Alfian di rawat.


“Ya gitulah, kejadian nya ngedadak banget. Ada luka sobekan yang perlu dijahit di kepala Yukiya” Julia menjelaskan.


“Terus, keluarga nya udah dihubungin?”


“Yukiya minta jangan hubungin siapa siapa. Ya… kita sih ngikutin dia aja”


“Lagian, setahu gue bokap nya masih dalam perjalanan ke Indonesia. Dan nyokap nya lagi ada urusan di paris” Eric menambahkan.


“Hmm, semoga aja dia nggak kenapa napa”


            Alfian menyuapkan potongan buah yang di kupas oleh Julia. Syukurlah ada pejalan kaki yang sempat merapikan barang belanjaan Eric saat kejadian itu terjadi.


“Sorry kalau gue harus ngasih kabar buruk sementara lo masih di rawat. Tapi…”


Julia mengeluarkan kartu yang sempat ia pungut dari lokasi tempat penyerangan pada Yukiya terjadi. Kartu ‘King of Diamond’


“Apa ini mengingatkan lo ke sesuatu?” tanya Julia.


“Sialan… bener bener nggak kenal ampun” gerutu Alfian ketika melihat kartu itu.


“Jadi, emang ada maksud lain dibalik penyerangan ini? tapi siapa yang ngelakuin ini semua? Dan, buat apa?” tanya Eric penasaran.


Alfian memperhatikan kartu itu dengan seksama. Siapapun yang mengetahui sejarah El diablo pasti mengenal kartu ini.

__ADS_1


“Nggak salah lagi. Ini ulah nya King”


***


__ADS_2