
“Yukiya adiknya Ivana, dan dia juga ternyata Sub esper kaya kalian…” Julia menyesap white Frappe yang baru saja tiba di mejanya. Saat ini, ia dan Eric tengah berada di kafe dimana keduanya biasa menghabiskan waktu untuk membahas hal hal mengenai penyelidikan mereka. “gue lumayan kaget begitu Alfian cerita soal itu tempo hari. Padahal, kita udah sama sama curiga kalau anak itu pasti ada hubungan nya sama Esper dan sub esper.” Lanjutnya.
“Ya makanya itu kak, makin kita gali soal murid murid yang datanya nggak lengkap, semua nya malah makin ngarah ke keberadaan Esper dan sub Esper di sekolah ini. apalagi soal… kejadian King kemaren”
Julia menaruh kembali White Frappe nya di atas meja.
“Sebenernya… apa yang terjadi sama King?” tanya Julia penasaran. “terus terang, Alfian nggak cerita soal itu. dan sekarang sekarang pun, karena hubungan kami lagi agak renggang… gue nggak berani tanya banyak soal itu. tapi gue beneran penasaran, apa yang terjadi di GOR dan kenapa King bisa tewas gitu aja?”
Eric menatap gelas Macchiato nya. kalaupun ia menceritakan hal itu pada Julia, ia tak yakin kalau gadis dihadapan nya ini akan paham… atau bahkan percaya tentang apa yang baru saja mereka alami di gelanggang olah raga terbengkalai itu.
“Gue bingung… antara harus cerita ke lo apa nggak. Apa lagi, lo nggak ada hubungan nya sama ini semua” ucap Eric jujur.
“Hei, kita punya hubungan kerja sama disini. Gue kasih tau lo semua yang gue tahu dan vice versa. Soal keterlibatan gue itu seratus persen bukan urusan lo”
“Oke oke, gue ceritain garis besar nya aja ya. intinya, kami semua yang terlibat di hari itu… datang buat nyelametin Elvira. awal nya emang gitu, sampai akhirnya dengan cara tertentu kami semua mendapat fakta bahwa King ini sebenernya udah mati sejak tiga tahun yang lalu. dan badan dia dikendalikan sama sejenis… iblis. Oke? Bingung kan?”
Julia hanya bisa ternganga mendengar penjelasan Eric.
“Iblis lo bilang?”
Eric menganggukan kepalanya.
“Iblis… iblis kaya yang di film film itu?”
“Iya, iblis loh kak”
“Kaya hantu gitu?”
Eric menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah bagaimana caranya menjelaskan tentang keberadaan iblis pada seseorang yang awam seperti Julia.
__ADS_1
“Iblis itu, makhluk yang tingkatan nya ada diatas setan. Mereka… berasal dari dunia bawah. Neraka, Abyss, Underworld, Limbo, Jahanam, atau apalah itu sebutan nya.” Eric berusaha menjelaskan sesederhana mungkin.
“Yang kaya gitu beneran ada Ric?”
Eric menganggukan kepalanya yakin.
“Kok kalian bisa terlibat sama hal hal kaya gitu sih. gini, bukan nya… ini harusnya jadi urusan orang dewasa ya? kalian kan masih SMA? Secara teknis, kita masih terhitung sebagai anak anak.” ucap Julia heran.
“Tapi, kami kan bukan anak SMA biasa. punya kemampuan kaya gini, dan dikumpulin di satu tempat yang sama, nggak mungkin Cuma kebetulan. Gue yakin, ini semua pasti mengarah ke suatu tujuan tertentu.”
Julia mengangkat gelas White Frappe nya, memandangi sisa foam di permukaan gelas itu. Inikah sebabnya Alfian tidak ingin bercerita banyak?
“Kalian… lagi ngapain disini?”
Nafas Julia tercekat, ia langsung menoleh dan mendapati bahwa Alfian sudah ada disana ada disana.
Alfian mengambil tempat duduk disalah satu kursi yang kosong.
“I… ini nggak kaya yang kak Alfian bayangin. Maksud gue—“
“Nggak usah repot repot, eric. gue nanya nya ke Julia” Alfian memotong perkataan Eric. “atau, mau main rahasia rahasiaan lagi?”
“Lo kok jadi nyebelin banget sih, ini Cuma soal kerjaan ada beberapa hal yang harus gue bicarain sama Eric” Julia beralasan.
“Dan… itu hal hal yang gue nggak boleh tahu?” Alfian mencondongkan tubuhnya kea rah Julia. “gue pacar lo selama tiga tahun, dan Eric adalah orang yang baru lo kenal beberapa hari yang lalu. menurut lo, masuk akal nggak sih kalau Eric lebih tahu tentang lo dari pada gue?”
Eric menyesap Macchiato nya gugup. Berada di tengah suatu pertengkaran, dan mengetahui kalau penyebab pertengkaran itu adalah dirinya, Eric belum pernah berada dalam posisi serumit ini. apa ia harus bersikap tidak peduli? Pura pura tidak tahu? atau diam diam menyelinap keluar ketika keadaan nya memungkinkan?
“Lo jadi curigaan mulu deh. Kan udah gue bilang kalau urusan ini nggak ada hubungan nya sama lo” Julia bersikeras.
__ADS_1
Eric masih menonton pertengkaran itu. apa ini waktu yang tepat untuk pura pura pingsan?
“Ya wajar kalo gue gampang curiga, selama lo masih banyak nutup nutupin sesuatu dari gue”
“Gue nggak bermaksud nutup untupin Fian… gue Cuma butuh waktu buat jelasin semuanya”
“Waktu lo ngejual Ivana ke El diablo, dan gue tanya alesan nya, lo bilang lo butuh waktu buat jelasin itu semua. Dan gue bilang, oke… gue maklumi. Coba sekarang jelasin ke gue. satu tahun harus nya jadi waktu yang cukup dong?”
Julia terdiam. Ia tak menyangka kalau pertanyaan itu akan terlontar juga dari mult Alfian.
Gadis itu langsung membawa tas nya, dan bangkit dari tempatnya duduk.
“Julia! Julia tunggu!” alfian menahan tangan Julia, mencegah gadiis itu agar tidak melangkah lebih jauh.
“Kenapa? Lo mau pake kemampuan lo lagi buat nahan gue supaya nggak pergi?” Julia menatap Alfian tajam. Dihempaskan nya tangan Alfian dalam satu gerakan. Kemudian, gadis itu pun berlalu pergi meninggalkan meja.
Alfian mengejar Julia keluar kafe, meninggalkan Eric yang duduk sendirian disana. Sendirian dibawah tatapan orang orang yang mencurigainya sebagai selingkuhan dari seorang gadis yang kepergok oleh pacarnya.
Eric menghabiskan sisa macchiato nya. kalau sudah begini, ia ingin buru buru pulang saja dan menghabiskan waktu libur berharganya untuk berbaring diatas kasur tanpa memikirkan apapun. tiba tiba, seorang pelayan membawa nampan berisi beberapa potong kue ke meja Eric.
“Mbak, apa pesanan nya nggak salah meja?” tanya Eric pada pelayan itu.
“Oh, tapi ini memang pesanan untuk meja nomor tujuh kok… atas nama
Julia”
Eric tak bisa protes, Julia terlanjur pergi sebelum menikmati pesanan nya. dua potong cheese cake dan satu tiramisu. Kadang Eric heran, kenapa perempuan bisa makan makanan manis sebanyak ini? ia sendiri tak akan sanggup menghabiskan semua kue ini dalam sekali duduk.
“Mbak, boleh minta dibungkus aja kue nya?”
__ADS_1
***