WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 100


__ADS_3

"Apa maksudnya coba. Tak ada angin tak ada hujan, datang-datang nawarin kerjasama yang menguntungkan katanya. Aneh nggak sih?" Mutia juga tak mengerti.


Semalam tuan Supranoto, sekarang Frans. Ada apa dengan mereka? Pikir Sebastian.


Daripada mikirin terus yang ada malah bikin lapar, kuhubungi Dewa aja ah buat pesenin makanan. Pikir Sebastian.


"Sayang, kalau jenuh istirahat aja di ruang sebelah" kata Sebastian, hendak mengambil setumpuk berkas di depannya.


"Aku di sini aja" Mutia mendudukan tubuhnya di kursi panjang nan empuk itu.


"Katanya mau makan siang?" celetuk Mutia.


"Iya nih, mau minta tolong biar dipesenin sama Dewa" celetuk Sebastian sambil mengirim pesan ke Dewa.


"Mau makan aja, ngrepotin Dewa sih. Kupesenin aja ya?" Mutia menawari.


"Oke my beloved wife" kerlingan mata di dapat oleh Mutia dan dia pun tertawa.


"Maaf ya sayang, belum bisa jadi istri yang baik" lanjut Mutia melow.


Sebastian mendongak, fokusnya berubah ke sang istri. "Loh?"


"Belum bisa nyiapin keperluan kamu" ucap Mutia lagi.


Sebastian pun akhirnya menghampiri sang istri. "Sayang, saat aku mengucapkan janji kepada Allah, aku sudah menerima semuanya tentangmu. Bahkan kau mau menjadi istriku saja itu sudah menjadi anugrah terindah untukku" peluk Sebastian. Sudah persis kayak judul lagu saja.


"Sudah..sudah...jangan lagi dipikirkan. Biar aku saja yang pesan makanannya" Sebastian mempererat pelukannya, padahal dia sudah meminta Dewa untuk memesankan menu makan siang.


Saat ini bagi Mutia, bahu Sebastian lah sandaran ternyamannya. Dia sendiri juga merasa aneh, kenapa sekarang menjadi sosok yang melow dan manja. Padahal waktu kehamilan Langit, Mutia adalah sosok yang mandiri tanpa banyak keluhan. Apa karena keadaan? Tentu saja jawabannya iya.


Tepat sepasang suami istri itu berpelukan, Dewa membuka pintu. Dewa membego di tempat melihat mereka yang tak mengenal tempat itu. Alhasil pelototan tajam sang bos dia dapatkan.


Dengan isyarat mata, Sebastian menyuruh Dewa keluar dulu. Dewa hanya bisa mengangguk menuruti permintaan sang bos, Dewa mundur pelan-pelan dan menutup pintu. Tapi karena ada yang ngagetin dari belakang, jadilah pintu ruangan CEO seakan terbanting membuat semua yang ada di sana jadi terjingkat termasuk Mutia.


"Siapa sayang?" Mutia membalikkan badan melihat ke arah pintu yang sudah tertutup itu.


"Penampakan kali" canda Sebastian, padahal dia juga tau kalau yang barusan keluar adalah Dewa sang asisten.


Sebastian menggerutu karena acara pelukannya terganggu oleh ulah Dewa. Dia lupa kalau sebelumnya telah meminta Dewa untuk memesankan makan siang untuk dirinya dan juga sang istri.


Sementara di luar, Dewa juga mengumpat. Bahkan semua nama hewan di kebun binatang dia sebutkan satu persatu. Saking kagetnya tadi.


Dewa hendak memaki orang yang sengaja mengagetkannya. Saat berbalik, Dewa hanya bisa mengusap tengkuknya tidak jadi memaki. Karena yang datang adalah Catherina, nyonya muda alias kakak kandung Sebastian.


"Apa? Mau memaki?" celetuk Catherine dengan sorot mata seakan menguliti Dewa.


"Mana aku berani nyonya" sanggah Dewa kembali mengusap tengkuknya. Aman dari sang adik, kakak nya datang.


"Mutia ada? Aku tadi ke Mutia Bakery, sama asistennya dibilangin ke sini" cerita Catherine.


"Ada tuh di dalam. Masuk aja nyonya. Tapi nggak usah aku anterin ya" kata Dewa. Takut mendapat amukan singa di dalam. Membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk Dewa meremang.


"Memang ada apaan?" Catherine penasaran.


"Nggak ada apa-apa nyonya. Aman" ujar Dewa meninggalkan Catherine terpaku di depan pintu. Dewa lupa tujuan awalnya. Kalau dia tadi hendak menanyakan menu apa yang diinginkan sang bos untuk makan siang.


Catherine mengetuk pintu yang tertutup rapat karena bantingan Dewa tadi.


Sebastian beranjak dengan niat bulat mengomeli sang asisten.

__ADS_1


"Dewa...ganggu orang saja" teriak Sebastian bersamaan pintu yang terbuka.


"Loh, kok kakak? Mana Dewa?" Sebastian celingukan mencari keberadaan Dewa.


"Balik ruangannya" tukas Catherine tanpa rasa bersalah.


Catherine nyelonong aja masuk ruangan CEO. "Hai Mutia. Sibuk nggak?" tanya Catherine mengambil tempat duduk di samping Mutia.


"He...he...nggak kak. Lagi nemenin daddy nya Langit" tukas Mutia membenarkan posisi duduknya.


"Jalan-jalan yukkk. Ntar mampir mansion kita ajak mama sekalian" tatap Catherine penuh bujuk rayu.


"Kak, jalan-jalan sendiri aja" posesif Sebastian mulai muncul.


"Urusan wanita, laki-laki nggak boleh ikut-ikutan" ujar Catherine.


"Plissss Mutia" rayu Catherine lagi.


Mutia memandang sang suami, seolah minta persetujuan.


"Boleh, tapi harus ngabarin aku dimanapun tempatnya" kata Sebastian.


"Dasar CEO posesif" Catherine memberi julukan baru buat sang adik.


"Apa kularang aja ya istriku pergi" goda Sebastian.


"Kubilangin mama sama papa dong" ucap Catherine tak mau kalah.


Mutia yang memandang kakak adik itu debat, hanya bisa menahan tawanya. Mereka bahkan seperti Tom Jerry untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya.


"Ayo kak, kita berangkat" ajak Mutia beranjak.


"Lihat tuh, mukamu kalau merajuk nggak ada bedanya dengan Langit" Catherine tertawa melihatnya.


"Yeeeiiiiii....aku kan daddy nya. Ya wajar dong kalau mirip" sergah Sebastian.


Mutia dilema lagi. Memang benar apa yang dikatakan oleh sang suami. Padahal dia juga janji mau pesan online tadi. Saat hendak membuka ponsel, "Sudah dipesenin sama Dewa sayang" celetuk Sebastian.


"Sudah, kalau mau pergi sama kakak pergi aja. Jangan lupa kabarin" tukasnya.


Sesungging senyum di bibir Mutia, "Makasih sayang. Love you" Mutia bahkan mulai berani mencium bibir sang suami di depan Catherine.


"Dasar, anggap aja aku tak ada" umpat Catherine.


"Ha...ha...makhluk astral dong" gurau Sebastian.


Catherine hanya mencebik tanpa menanggapi ucapan sang adik.


Mutia dan Catherine benar-benar meninggalkan Sebastian menuju mansion tuan besar Baskoro.


Sepeninggal mereka, Sebastian menelpon Dewa.


"Dewa, pesenin bakso yang di parkiran bawah. Seporsi aja tanpa bakso" perintah Sebastian.


Dewa yang menerima telpon masih menelaah ucapan sang tuan. "Bakso tanpa bakso, maksudnya apa coba?" gumamnya.


"Dewa, kau dengar nggak?" ulang Sebastian.


"Iya tuan, masksudnya bagaimana bakso tanpa baksonya?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Seperti istriku tadi, pesenkan mie sama kuah bakso aja. Kayaknya enak dech" Sebastian sudah membayangkan bagaimana nikmatnya. Melihat sang istri yang dengan antusias makan, membuatnya ingin makan yang sama dengan Mutia.


Tadi aja ditawarin nggak mau. Kan inginnya baru sekarang. Bela Sebastian dalam hati.


"Oke Tuan, aku turun. Ada lagi?" tanya Dewa.


"Hhhmmmm apa ya? Nanti aja ku kirim pesan" Sebastian menutup panggilannya.


.


.


Mutia dan Catherine telah sampai mansion tuan Baskoro.


"Mah, jalan-jalan yukkkk" teriak Catherine saat masuk mansion.


"Datang-datang buat gaduh aja" tuan Baskoro menghampiri dua wanita cantik itu.


"He...he...papa. Mama mana?" tanya Catherine.


"Tuh.." arah mata tuan Baskoro ke arah dapur.


"Oke Pah" Catherine mencium pipi tuan Baskoro.


"Mau ngajak mama ke mana?" selidik tuan Baskoro.


"Urusan wanita, laki-laki nggak boleh tau" celetuk Catherine terkekeh.


"Hhmmm" tuan Baskoro melanjutkan acara baca koran.


Catherine dan Mutia menghampiri mama Cathleen yang sedang sibuk memasak itu. Mama memang terbiasa menyiapkan menu untuk sang suami. Apalagi sekarang mereka hanya berdua, karena dua anaknya sudah mandiri. Meski banyak asisten rumah tangga yang membantu, mama Cathleen selalu menyempatkan untuk sang suami. Kesibukan untuk mengusir kejenuhan.


"Loh, kapan datang" tanya mama yang barusan melihat kedatangan putri-putrinya.


"Barusan Mah" celetuk mereka berdua.


"Mah, jalan-jalan yukkk"ajak Catherine.


"Mama selesain dulu tugas mama. Kalian sudah makan siang belum?" mama Cathleen menyiapkan menu di atas meja makan.


Melihat sang menantu yang beberapa kali menelan ludahnya, "Bumil mau?" celetuk mama Cathleen tersenyum.


Seakan ketahuan, Mutia mengangguk dengan malu-malu.


"Cath...panggil papa mu. Kita makan siang dulu baru jalan" perintah mama.


"Siap nyonya bos" Catherine menghampiri tuan Baskoro.


Mereka bertiga benar-benar pergi setelah makan siang bersama.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


komen, like ramein dong 🤗


Salam sehat


💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2