
Selepas fitting Sebastian mengajak Mutia mampir sebentar ke Blue Sky karena ada berkas yang musti diambilnya sendiri.
"Kita ke Blue Sky sebentar ya? Ada sesuatu yang harus kuambil" kata Sebastian.
"Oke, ntar aku nungguin di mobil aja ya" pinta Mutia.
"Ikutan aja. Biar kamu juga tahu ruanganku di mana" tutur Sebastian seakan tak terbantah.
"Hhmmm" tanggap Mutia.
Sebastian memberhentikan mobilnya tepat di depan lobi perusahaan yang bangunannya menjulang tinggi itu.
Dia buka pintu sebelah, dia gandeng wanita cantik sehingga ratusan pasang mata yang berada di sana fokus melihat ke arah mereka berdua.
Sebastian yang bersikap dingin seperti biasa, tidak demikian halnya Mutia yang tetap berusaha ramah kepada semua yang berpapasan dengannya.
"Nggak usah ramah-ramah" bisik Sebastian ke telinga sang istri. Mutia hanya mencebik menanggapi perkataan sang suami.
Banyak juga karyawan wanita yang menatap remeh kehadiran Mutia di samping sang tuan muda itu.
Ponsel Mutia berdering kala mereka berdua menuju lift.
"Siapa?" tanya Sebastian.
"Langit" Mutia menunjukkan layar ponselnya.
"Iya sayang" jawab Mutia. Mendengar perkataan Mutia, orang-orang yang di sana mungkin bisa berprasangka buruk. Sudah digandeng mesra oleh sang CEO masih juga berani memanggil sayang ke orang lain.
Tapi mereka juga nggak sepenuhnya salah sih, karena sebelumnya sang CEO belum pernah sekalipun go public. Sebastian menutup rapat tentang hal-hal pribadinya.
"Iya nyusul ke sini aja. Minta antar om Pandu ya" jawab Mutia dan menutup panggilan Langit.
Mutia menyusul sang suami yang menunggunya di depan lift khusus.
"Ayo" Sebastian menggandeng kembali sang istri.
Pujian dan juga gunjingan di antara karyawan, tidak diperdulikan oleh mereka.
Langit juga telah sampai di Blue Sky. Dengan berlari kecil masuk lobi depan.
Seorang security menghampirinya. "Hei anak kecil, ngapain ke sini. Ini bukan arena mainan" hardiknya.
Langit yang biasanya ceria, sekarang menunduk sekaligus takut karena pertanyaan security. "Kenapa satpam di sini galak-galak sekali? Tidak seperti pak Sarno" gumam Langit.
"Aku mau bertemu daddy tuan" lirih Langit.
__ADS_1
"Kamu tahu nggak, siapapun daddy mu itu pasti sedang sibuk sekarang" security itu berkata penuh intimidasi.
"Nggak mungkin. Bunda saja tadi menyuruhku ke sini" perjelas Langit.
"Nggak mungkin daddy dan bunda mu di sini. Bisa saja mereka jalan ke tempat lain" ucanya penuh penekanan.
"Tuan muda kecil" panggil Pandu dari arah yang berbeda.
Langit menengok, demikian juga security itu.
"Maaf, lama ya nunggu? Tadi Om Pandu mampir toilet sebentar" ucapnya, dijawab anggukan Langit.
"Mau kuantar ke ruangan Daddy?" tanya Pandu.
"Eh, bentar Pandu. Siapa anak kecil ini?" tanya security yang juga mengenal Pandu. Karena sebelumnya sering mengantar tuan Baskoro ke Blue Sky.
"Nanti kau juga akan tau. Aku ngantar tuan muda kecil dulu ya" Pandu menggandeng Langit ke arah lift yang sama dengan Sebastian tadi meninggalkan security yang bertanya-tanya dalam hatinya.
"Om, kantornya Daddy buesar sekali ya. Padahal kantornya bunda aja sudah besar" cerita bocah polos itu.
Pandu mengangguk, "Iya tuan muda kecil. Ini dulu juga kantornya Opa. Karena Opa sudah ingin istirahat, sekarang tuan Sebastian yang menggantikan tuan besar" Pandu menekan tombol lantai teratas di gedung itu.
"Bunda..." panggi Langit setelah berhasil menemukan ruangan CEO.
Pandu telah kembali turun dan langsung meluncur ke mansion tuan Baskoro sesuai perintah Sebastian sebelumnya.
"Akhirnya...ketemu juga" Sebastian mengubek brankas untuk mencari berkas yang diperlukan.
"Dad" panggil Langit yang sedang bergelayut manja ke bunda.
"Langit, sini aja sama daddy. Jangan minta gendong dulu sama bunda. Nanti kalau adiknya tergencet gimana?" kata Sebastian absurd.
"Emang sudah ada adik di perut bunda dad?" celetuk Langit.
"Semoga saja" tukas Sebastian.
Mutia baru tersadar kalau dia lupa akan hari pertama haid terakhirnya. Bukannya bulan kemarin siklusnya maju satu minggu dari biasanya. Kalau begitu, àku sudah telat tiga minggu dong. Pikir Mutia.
"Sayang, saat pulang nanti mampir ke apotik sebentar ya" pinta Mutia.
"Cari apa? Apa kamu sakit?" selidik Sebastian.
"Nggak, cuma nyari obat pusing aja" tukas Mutia. Sebenarnya Mutia ingin membeli tes kehamilan. Melihat siklusnya yang tak pernah mundur sejauh ini, besar kemungkinan dia hamil.
Kalau memang positif, aku akan memberitahu saat ulang tahun mereka. Pikir Mutia.
__ADS_1
Tapi kalau masih negatif, anggap saja karena kita terlalu sering berusaha...he...he...Karena Sebastian tak mungkin hanya minta sekali jatah per hari nya.
"Sayang kok melamun sih, sudah ketemu nih ayo pulang. Langit gendong daddy aja" ajak Sebastian.
Sampai di lantai bawah, semakin banyak pasang mata yang menatap mereka. Apalagi sang CEO yang menggendong seorang anak kecil tampan dan juga menggandeng posesif wanita cantik di sampingnya. Banyak juga mereka mengabadikan momen sang CEO yang menggandeng wanita tak dikenal itu.
Dewa yang sedang mempersiapkan detail tempat acara, membuka ponsel karena sering berbunyi. Ribuan chat masuk di grub perusahaan.
"Mereka ini kerja apa mau jadi tukang gosip sih??" umpat Dewa membuka ribuan pesan itu. Dewa penasaran juga, apa yang membuat heboh sehingga ribuan karyawan ramai di grub chat.
Dewa membelalakkan mata saat melihat sebuah gambar yang dikirim oleh seorang karyawan. Di gambar itu terlihat Sebastian yang menggendong Langit dan juga menggandeng mesra sang istri.
Dewa menunjukkan gambar yang ada di ponselnya.
"Hah, bukankah ini lobi di perusahaan kamu Wa" tanggap Dena.
"Jadi tuan Sebastian sudah membawa kakak dan juga Langit ke sana?" imbuhnya.
"Tuan Sebastian kayaknya sengaja membawa nyonya ke sana" tukas Dewa.
"Go public dong" celetuk Dena
"Hanya dengan begini saja, kita bisa lihat karyawan yang setia atau hanya pura-pura setia Dena" jelas Dewa.
"Hah, kok bisa?" penasaran Dena.
"Bisa saja. Kalau kau mau tahu rahasianya, kau harus sering-sering bersamaku" canda Dewa.
"Itu sih kamu modus Wa" sungut Dena.
"Ha...ha...." Dewa terbahak.
****
Mutia benar-benar meminta sang suami berhenti di sebuah apotik.
"Mau kutemani?" tanya Sebastian.
"Nggak usah. Kamu temenin Langit aja" tukas Mutia dan membuka pintu mobil.
Kalau sampai ikut, bisa gagal rencanaku. Pikir Mutia. Kamu nggak tau saja Mutia, kalau akan ada kejutan yang lebih besar buat kamu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝