WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 120


__ADS_3

"Beraninya kau menyusup ke kantorku" Sebastian mencengkeram kuat dagu wanita di depannya. Seandainya Sebastian tak mengingat kalau dia wanita, sudah dihajarnya orang di depannya ini.


Tubuh Putri semakin bergetar ketakutan.


"Kerjakan tugasmu" perintah Sebastian kepada para anak buah untuk memberikan efek jera buat wanita itu.


Seandainya tak segera dia temukan, entah apa yang terjadi pada istri dan janinnya. Itu sampai sekarang yang Sebastian sesali.


Sebastian keluar dari ruangan memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk menemukan jawaban dari pengakuan Putri.


"Tuan kemarilah" ujar Dewa memanggil Sebastian mendekat.


Dewa menunjukkan rekaman CCTV kantor Blue Sky.


"Orang ini yang menemui Putri di Blue Sky" jelas Dewa.


Sebastian mengamati orang itu, "Aku tak mengenalnya Wa" mata Sebastian masih ke arah ponsel Dewa.


"Coba kuingat. Sepertinya aku pernah melihatnya" kata Dewa.


"Apa kita pernah kerjasama dengan orang model beginian?" dahi Sebastian mengkerut.


"Bukan kerjasama, tapi hal lain. Cuman aku masih belum mengingat" imbuh Dewa.


Dewa mencoba membuka galeri ponsel. Dia teliti satu-satu foto yang dia dapat dari kiriman aplikasi pesan.


"Kau ini seperti kurang kerjaan aja sih Wa, buka-buka galeri" celetuk Sebastian.


Dewa mendiamkan Sebastian beberapa lama.


"Dewa" panggil Sebastian. Sebal karena dicuekin Dewa.


"Akhirnya ketemu juga" ulas Dewa menarik nafas lega.


"Apaan sih? Nggak guna" sindir Tian.


"Kalau belum tau, jangan asal ngomong tuan" sahut Dewa mencelos.


"Nih..." Bara menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan orang yang sama di rekaman cctv tadi tapi dengan tampilan yang berbeda.


"Kau punya gambar yang lain lagi?" pertegas Sebastian.


"Tuan ingat kejadian alergi di kota A dulu?" tanya Dewa.


"Untuk apa kau ungkit lagi?" kata Sebastian.


"Ini orang yang sama tuan" ucap Dewa dengan penuh keyakinan.


"Kalau memang orang yang sama, bukannya saat ini harusnya di berada di penjara" sahut Sebastian.


"Benar juga tuan. Tapi saya akan menyelidiki lebih lanjut. Karena saya yakin, ini orang yang sama yang dengan sengaja memberikan seafood kepada anda" tanggap Dewa.


"Terserah kau saja" Sebastian duduk di samping Dewa.


Dewa semakin sibuk. Saat ini Dewa mencoba mencari titik lokasi nomor yang menghubungi Putri untuk terakhir kalinya.


Mata Dewa memicing karena berhasil meretas isi ponsel Putri. Kalau melihat isi chat nya pasti ini nomor yang memerintahkan Putri, batin Dewa.


Dewa tersenyum lagi karena berhasil menemukan titik lokasi orang yang memerintahkan Putri.


Salah satu anggota yang ditugasi Sebastian keluar dari ruangan di mana Putri diinterogasi.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Sebastian.


"Dia mengaku tuan. Dialah yang memasukkan sebuah serbuk ke gelas anda" lapor anggota itu.


"Yang menyuruh?" tandas Tian.

__ADS_1


"Belum ada pengakuan dari mulut wanita itu" imbuhnya.


"Siaaallllll...alot sekali" umpat Sebastian.


"Gading" panggil Dewa kepada anggota yang sedang melapor kepada Sebastian.


"Suruh yang lain ke titik lokasi!!!" perintah Dewa.


"Sudah ku share di grub" imbuh Dewa.


Sebastian menoleh meminta penjelasan.


"Semoga saja dia belum kabur tuan. Aku sudah menemukan titik lokasi orang yang menyuruh Putri" jelas Dewa.


"Di mana dia?" seloroh Sebastian.


"Di kota A" perjelas Dewa.


"Kerahkan orang-orang kita yang di sana. Kalau perlu kau telpon tuan Dika untuk ikutan membantu" perintah Sebastian.


"Baik" sahut Dewa cepat.


Dewa melaksanakan apa yang menjadi perintah Sebastian saat ini.


Tak lupa Dewa juga menghubungi kepala penjara di kota A yang kebetulan dia kenal. Dewa mengirimkan sebuah foto yang ditemukan tadi dan menanyakan keberadaan orang itu.


Jawaban dari kepala penjara membuat Dewa tercengang mendengarnya.


"Tuan, menurut keterangan yang saya dapat. Orang yang mencelakai anda di kota A itu ternyata telah dibebaskan oleh seseorang yang lumayan berperpengaruh. Tapi sayangnya kepala penjara tak mengenal orang itu" Dewa memberitahu semua informasi yang dia dapat kepada Sebastian.


"Ada apalagi ini? Ternyata tak semudah yang kukira" Sebastian memijit pelipisnya.


"Tuan, kok aku kepikiran dengan tuan Frans ya" celetuk Dewa.


"Alasannya?" Karena Sebastian tak pernah menganggap Frans adalah saingannya. Tapi bukan berarti Sebastian berteman dengan Frans.


"Anak buah kita sudah bergerak menuju lokasi yang sudah kukirim. Tuan Dika juga mengerahkan anak buahnya ke sana" tandas Dewa.


"Wa, kau awasi juga Frans dan Supranoto" perintah Sebastian.


.


Sebastian kembali ke rumah sakit, selama menunggu laporan anak buah yang sedang disebar oleh Dewa.


Sengaja Sebastian, belum melapor ke pihak berwajib terlebih dahulu. Sebelum dia tahu sendiri siapa dalang di balik kejadian-kejadian yang mencelakai dirinya dan juga keluarganya.


Senyuman Mutia yang menyambut kedatangannya, sedikit banyak bisa mengurangi rasa penat yang dirasa oleh Sebastian


"Sudah selesai urusannya sama Dewa?" tatap Mutia.


"Belum, masih nunggu kabar lanjutan dari Dewa" Sebastian duduk mendekat dan mencium kening sang istri.


"Mama sama papa sudah pulang kah?" Sebastian menanyakan karena hanya ada bik Inem di ruangan Mutia.


"Sudah, mama sama papa belum lama kok keluar" jawab Mutia.


"Aku bersih-bersih badan dulu" Sebastian masuk ke kamar mandi ruang VVIP dan sekalian membawa baju ganti.


Semerbak khas sabun mandi menyeruak di kamar perawatan Mutia


"Sayang sini sebentar!" pinta Mutia. Sebastian pun mendekat.


"Deketin ketiakmu" pinta Mutia.


"Hah?" Sebastian terbengong.


Mutia merangkul sang suami, dan menciumi ketiak Sebastian. "Heemmmm...segernya" Mutia menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Mana ada ketiak yang begitu yank?" ucap Sebastian ikut merasa geli.


Bik Sumi yang berada di sana pun memilih menghindar keluar dari ruangan.


"Bik, mau keluar?" tanya Mutia.


"Beliin nasi pecel dong" pinta Mutia.


"Iya nyonya. Tuan sekalian?" tanya bik Sumi.


"Boleh dech" ucap Tian.


"Sayang, kamu tadi sudah bersihkan badan belum?" tanya Tian.


Gelengan kepala Mutia didapatinya.


"Saya bantuin ya" Sebastian menawari. Mutia mengangguk.


"Sayang tambah kenceng aja" tutur Sebastian dengan arah mata ke dada Mutia.


"Orang hamil kan mesthi begini yank, apalagi kalau sudah menyusui bayi" jelas Mutia.


Tapi pikiran Sebastian sudah melanglang buana.


Mutia yang baru tersadar akan pertanyaan Sebastian. Dengan secepat kilat menutup area dada nya.


"Ingat pesan prof. Abraham kalau harus puasa dulu" Mutia menimpali membuat Sebastian bersungut.


"Ha...ha...tolong ambilin baju ganti dong sayang" rajuk Mutia.


Sebastian melakukan apa yang diminta oleh sang istri.


Bersamaan dengan itu ponsel Sebastian pun berbunyi.


"Ini sayang" Sebastian menyerahkan baju ganti untuk sang istri dan membantu memakaikan baju terutama pada lengan yang terpasang infus itu.


Ponsel kembali berdering, Dewa calling.


Mutia menatap sang suami. "Dewa yang nelpon" tukas Tian.


"Halo Wa" ucapnya setelah menggeser icon hijau.


"Tuan, orang yang kita cari sudah dibawa ke base camp" Dewa langsung melaporkan hasil kerjanya.


"Oke Wa. Bentar lagi aku menyusul" ucap Sebastian sambil berbisik. Sebastian juga meminta Dewa untuk mengirim dua orang anak buah untuk berjaga di depan pintu kamar sang istri. Sebastian menutup panggilan dari Dewa.


"Mau kemana lagi sayang?" selidik Mutia.


"He...he...Dewa memanggilku lagi" Sebastian belum memberitahu apa yang terjadi kepada sang istri, karena tak ingin membuat cemas sang istri.


"Dewa... Dewa...terus" Mutia bersungut.


"He...he...jangan marah dong sayang. Ini memang penting" kata Tian merayu sang istri yang sedang merajuk.


Kebetulan bik Inem datang dengan membawa bungkusan nasi pecel, membuat Mutia sedikit melupakan kemarahan kepada sang suami.


"Sayang, boleh ya??" Sebastian tak membuang kesempatan.


Mutia mengangguk.


Sebastian secepat kilat berjalan keluar pintu.


"Loh, tuan nggak makan dulu?" tanya Bik Inem.


"Nggak bik, sepertinya dia buru-buru" ucap Mutia sambil membuka nasi pecel yang masih mengepul itu.


"Sepertinya enak" celetuk Mutia.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2