
Sebastian datang lebih cepat, tidak seperti yang dia bilang ke istrinya tadi sore. Ternyata menangkap orang yang ditargetkan tak sesulit yang diperkirakan. Mutia bahkan masih berberes meja makan, karena baru selesai menemani Langit tidur.
"Loh kok belum tidur?" tanya Sebastian sambil melepas sepatu yang dipakai olehnya.
"Langit barusan tidur. Nggak tau kenapa dia terus nanyain kamu tadi" jawab Mutia.
"Aku ke kamar Langit sebentar" bilang Sebastian.
Benar apa yang dikatakan Mutia, Langit sudah terlelap. "Pasti kamu mengkhawatirkan Daddy kan?" elus Sebastian. Sebastian meninggalkan kamar anaknya setelah mengecup kening putra kesayangan dan membetulkan posisi tidur Langit yang sudah tak karuan.
"Sayang, sudah makan malam?" tanya Mutia yang masih belum beranjak dari meja makan.
"Belum. Mau makan kamu aja yank" goda Sebastian.
"Ih, mandi dulu. Abis itu kutunggu di sini untuk makan" seloroh Mutia.
"Oke, My Queen" Sebastian berlalu ke kamar, melakukan seperti yang diminta istrinya.
Mutia masih berada di meja makan saat sang suami keluar dari kamar dengan muka segarnya.
Mutia mengambilkan menu menyesuaikan diet sang suami yang mengurangi karbo kalau malam hari.
"Makasih" ucap Sebastian mulai menyuap makanan di depannya.
"Katanya telat pulangnya?" tanya Mutia sambil menaruh air minum untuk sang suami.
"He...he...ternyata rekan bisnisnya gampang diajak kerjasama. Jadi tidak perlu bicara berbelit-belit" Sebastian terkekeh.
"Syukurlah" tukas Mutia.
"Sayang, gimana di cabang S? Sudah lancar?" tanya Sebastian.
"Ya lumayan lah. Terpaksa manager yang berada di kota lain saya pindah ke sana sementara untuk membantu menyelesaikan masalah yang di sana. Omset mulai biasa sih karena produksi sudah naik. Tapi kita kan nggak bisa evaluasi hanya dalam waktu sehari dua hari" jelas Mutia.
"Iya aku paham, tapi paling nggak kan masalah satu persatu teratasi" imbuh Sebastian.
Mutia mengangguk.
"Sudahlah sayang, nggak usah dibahas lagi. Capek terus ngomongin kerjaan" tandas Mutia.
"Buat calon adiknya Langit yuuukkk" ajak Sebastian benar-benar tidak terfilter.
Melihat reaksi Mutia yang hanya mencebikkan mulutnya membuat Sebastian semangat untuk menggoda sang istri.
Dia cium bibir sang istri, karena semakin lama semakin nagih tuh bibir. Dia susuri leher jenjang sang istri.
"Daddy, ngapain itu? Kenapa kayak drakula?" tiba-tiba Langit muncul, membuat kedua orang itu terkaget dan saling menjauh.
Sebastian menggaruk kepala yang tak gatal, karena posisinya sekarang bagai maling yang sedang kepergok oleh si empunya.
Langit mendekati bunda, "Tuh kan lehernya bunda jadi merah semua. Daddy sudah kayak serangga saja" celetuk polos anak itu.
__ADS_1
Duh..duh....tadi bilangnya drakula, sekarang bilang daddy nya serangga. Dasar anakku, umpat Sebastian dalam hatinya.
"Bunda, kuambilkan salep ya. Bunda kenapa mau sih digigitin sama Daddy?" Langit beranjak mengambil salep yang dimaksud di kotak obat.
Sebastian semakin dibuat mati kutu oleh putranya. Sementara Mutia hanya bisa menahan tawanya.
Langit benar-benar mengolesi leher kemerahan Mutia dengan salep.
"Langit, ini sudah malam. Kenapa terbangun?" ucap bijak Mutia. Sementara Langit masih sibuk dengan salep.
"Langit!" tandas Mutia menengadahkan muka Langit.
"Langit tuh haus bunda, mau ambil air minum. Tapi untung saja aku bangun, kalau nggak bunda pasti habis digigitin Daddy" keposesifan Langit kembali muncul.
"La....la....la....sayang aku ke ruang kerja dulu ya" Sebastian beranjak sambil bersiul.
"Daddy duduk dulu. Nggak boleh melarikan diri" tandas Langit.
Akhirnya Sebastian duduk dan patuh sesuai ucapan Langit.
"Sekarang Daddy berjanji, tidak akan mengulang lagi seperti yang tadi" imbuh Langit.
Sebastian dan Mutia hanya bisa saling tatap. Mana ada janji seperti itu, mana sanggup aku. Batin Sebastian.
"Dad, kok malah diam!!!" lanjut Langit.
"Oke...oke...Daddy janji dech. Tapi kalau suatu saat bunda yang minta digigit, jangan salahin daddy lagi" ucap Sebastian dengan pasrah.
"He...he...." Sebastian hanya terkekah.
Mutia mengambilkan air minum untuk putranya. "Hayo diminum dulu. Bangun tidur nggak boleh marah-marah" imbuh Mutia menyodorkan segelas air minum yang diambil. Dan Langit langsung meneguk sampai habis.
"Ayo diantar Bunda, bobok lagi sekarang" Mutia menggandeng Langit.
"Ingat Dad sama janjinya" bisik Langit di telinga Sebastian.
"Bun, malam ini bunda tidur sama Langit aja. Aku belum percaya sama janji Daddy tadi" imbuh Langit.
Mutia tertawa ke arah sang suami. Sementara Sebastian semakin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa tidur sendiri malam ini, gerutu Sebastian.
Janji tinggal lah janji. Sebastian yang baru keluar dari ruang kerja. Ya, semenjak tadi Mutia meninggalkan dirinya untuk menemani sang putra tidur kembali, Sebastian masuk ke ruang kerja.
Sebastian melangkah ke kamar Langit. Dilihatnya Mutia yang sedang tertidur pulas memeluk putranya. Rasanya adem banget di hati Sebastian melihat pemandangan di depan mata.
"Sayang, ayo pindah kamar kita" bisik Sebastian di telinga sang istri. Mutia membuka mata perlahan.
"Hhmm, kalau Langit nyari?" Mutia mulai melepas pelukan tangan sang putra.
Tak disangka, pelukan putranya semakin erat. "Bunda mau ke mana?" tanya Langit bahkan dengan mata terpejam.
Melihat Sebastian akan mengucapkan sesuatu, Mutia memberi kode agar sang suami diam dulu.
__ADS_1
Melihat Langit yang nggak bisa ditinggalin, akhirnya Sebastian ikutan juga tidur di kamar Langit. Dipeluknya tubuh sang istri dari belakang, dia hirup aroma harum dari tubuh sang istri.
Mutia kembali terlelap. Sementara Sebastian masih terjaga, bahkan sekarang 'hercules' juga ikut terbangun. "Shitttttt...kenapa kau nggak bisa diajak kerjasama sih" umpat Sebastian.
Karena ada sesuatu yang sudah berdiri tegak, Sebastian kembali melancarkan aksinya. Dia pilin pelan kedua puncak sang istri. Akhirnya terdengar lenguh4n dari mulut Mutia.
Sebastian tetap waspada atas kesiapsiagaan sang putra. Dirasa pelukan Langit sudah tidak seketat tadi, maka dia jauhkan tangan sang putra menjauhi tubuh Mutia. Posisi Langit dia betulkan pelan-pelan. Deru nafas teratur menandakan kalau sang putra benar-benar telah pulas.
Diangkatnya tubuh sang istri pindah ke kamarnya. Benar-benar modus kan Daddy-nya Langit...he...he... Bahkan sekarang 'hercules' sangat bisa diajak kerjasama. Leher jenjang istri tidak dijamahnya, daripada besok terlibat masalah dengan Langit. Sebastian cukup lama bermain di area bawah leher, yang akhirnya membuat Mutia terbangun karena merasakan sesuatu yang luar biasa.
"Sayang..." panggil Mutia sambil menengok kanan dan kiri.
"Aman... Langit sudah tidur nyenyak" bisik Sebastian dilanjut saling bertukar saliva. Mana mau Sebastian mengalah kepada putranya, terutama untuk hal yang satu ini. Sungguh terlalu.
Sebastian benar-benar memanfaatkan waktu malam itu. Bahkan mereka sampai melakukan dua kali tanpa jeda. Mutia sampai dibuat lemas oleh ulah sang suami.
"Makasih, tidurlah" ucap Sebastian memeluk sang istri yang masih polos di bawah selimut yang sama. Bahkan Mutia langsung pulas tidur di pelukan sang suami. Tak lama Sebastian menyusul sang istri ke alam mimpi.
Pagi-pagi Mutia terbangun. Pelukan Sebastian bahkan belum terlepas dari tubuhnya. Beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan menunaikan kewajiban. Sebastian dia bangunkan, "Sayang, bangunlah. Sudah pagi" Mutia menggoyang tubuh Sebastian.
"Lima menit lagi. Plisssss" ucap Sebastian tanpa membuka mata. Dia telah bekerja keras semalam.
Mutia meninggalkan Sebastian yang kembali tidur dengan tubuh polos. Dan berpindah ke kamar Langit, juga untuk membangunkan sang putra.
"Sayang, ayo bangun. Sudah pagi" Mutia menghujani ciuman di pipi Langit. "Ih Bunda, kan libur hari ini. Langit masih ngantuk. Lima menit lagi, Plisssss" ucapannya bahkan sama yang dikatakan oleh daddy nya tadi.
Karena belum ada yang terbangun. Lagian hari ini dia dan Sebastian juga tidak ngantor. "Ah, mendingan buat masak saja" celetuk Mutia.
Terdengar bel dari pintu depan. Mutia segera beranjak ke sana, "Siapa pagi-pagi begini??" gumam Mutia.
Ternyata bik Sumi yang datang untuk bersih-bersih apartemen di lantai teratas itu.
"Bik, aku belum pesan tukang bersih-bersih yang online itu lho" kata Mutia.
"Mulai saat ini, nggak usah panggil-panggil lagi. Biar bibik saja yang melakukan. Bibik bosan kalau nggak ngapain-ngapain" celetuk Bik Sumi.
"Baiklah bik, tapi janji jangan capek-capek ya bik" senyum Mutia. Dijawab anggukan oleh bik Sumi.
Mutia sibuk di dapur, sementara Bik Sumi sibuk bersih-bersih. Mereka berdua bahu membahu bekerja sama. Sementara tuan dan tuan kecil masih berperang melawan selimut.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
makan pagi menu nasi padang....enaknyoooo 😊😊😊
Komen, like, vote biar karya ini makin populer
Jangan lupa follow IG author ya
@moenaelsa_
__ADS_1
💝