WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 131


__ADS_3

Sebastian menyuruh Dewa untuk langsung ke panti tempat Opa Winardi berada.


"Wa, jangan sampai keduluan laki-laki tua itu" kata Sebastian.


"Nggak usah buru-buru tuan. Aku jamin Tuan Winardi akan menolak mentah-mentah kedatangannya" tukas Dewa dengan yakin.


Sebastian memicingkan mata mendengar perkataan Dewa.


"Kok kamu yakin?" tukas Sebastian.


"He...he...aku telah menaruh beberapa anak buah kita untuk berjaga di sana" jelas Dewa.


"Aku juga sudah memberi kabar ke Sarah untuk terus mangawasi Opa Winardi" lanjut Dewa.


"Wah, kamu gercep juga Wa" puji Sebastian.


"Dan sebagai hadiahnya, aku akan jadi sponsor utama acara lamaranmu ke Dena" kata Sebastian lebih lanjut. Dijawab senyuman oleh Dewa.


Dan benar saja, saat Sebastian dan Dewa akan berbelok ke arah jalan tempat panti jompo berada. Mobil yang dikendarai Iwan berpapasan dengan mobil yang dikendarai oleh Supranoto yang telah keluar dan melaju di jalan utama.


Gerbang panti jompo langsung terbuka saat mobil Sebastian berhenti di depannya.


Sepertinya Sarah sudah memberitahu penjaga akan kedatangan Sebastian dan Dewa.


Sebastian langsung masuk diikuti Dewa. Mencari keberadaan Sarah terlebih dahulu.


"Selamat datang tuan Tian" sapa nya.


"Mutia nggak ikut?" tanyanya.


"Kebetulan tadi aku ada rapat dan langsung mampir ke sini" beritahu Sebastian.


"Opa Winardi di mana?" tanya Tian.


"Seperti biasa, beliau berada di kamarnya" tukas Sarah.


"Baiklah, aku akan langsung saja ke sana" kata Sebastian.


"Sebelumnya aku ucapin makasih atas kiriman hari ini tuan. Para Opa dan Oma sangat senang menerimanya" ucap Sarah.


"Sama-sama" jawab singkat Sebastian.


Sebastian kali ini mencari keberadaan Opa Winardi bersama Dewa tanpa diantar oleh Sarah.


Sampai di depan pintu, Sebastian mengetuk pintu.

__ADS_1


"Opa, ini aku Tian" kata Sebastian.


Hampir dua menit Sebastian menunggu.


Pintu perlahan terbuka dari dalam.


"Masuklah!" suruh Opa.


Sebastian pun masuk bersama dengan Dewa yang tak lupa membawa map yang berisikan berkas sesuai perintah dari Sebastian.


"Apa sudah kau siapkan semua?" tatap lelaki renta itu dengan pandangan teduh.


Sebastian mengangguk.


"Baiklah. Di lembar mana aku harus tanda tangan?" tanya Opa.


Dewa pun maju dan menunjukkan letak di mana Opa harus membubuhkan tanda tangannya.


"Tian, sekali lagi aku titip cucu dan cicitku. Sayangi mereka. Jangan seperti diriku yang menyia-nyiakan putra kandungku sendiri" kata Opa Winardi dengan rasa sesal yang mendalam.


"Aku janji Opa" sahut Sebastian tegas.


Dewa membereskan berkas yang telah dibubuhi tanda tangan Opa.


"Opa, kita tinggal nunggu legalitas dari pak Budi saja" jelas Sebastian.


"Semua sudah berlalu Opa, bahkan cucumu itu sudah bisa berdiri di kakinya sendiri. Perusahaan Bakery yang dia bangun dari nol, telah berkembang pesat" cerita Sebastian penuh kebanggaan.


"Padahal aku saja, hanya bisa meneruskan perusahaan keluarga yang telah dirintis oleh papa" imbuhnya.


"Itu artinya kau mengakui kalau cucuku memang hebat?" seutas senyum nampak di bibir Opa Winardi.


Sebastian mengangguk. Dia sengaja mengatakan itu agar Opa tidak dihinggapi rasa bersalah lagi.


"Opa, seumpama akhir minggu ini kita mengunjungi makam ayah bagaimana?" usul Sebastian.


"Kalau kalian ada waktu, Opa sih ikut saja" jawabnya.


"Baiklah, nanti aku bilang ke istriku. Sekalian aku ajak Langit" imbuh Sebastian.


Sebastian tak mau cerita tentang Supranoto yang barusan datang, dia tak ingin menurunkan mood Opa yang sekarang lebih baik.


"Oke Opa, kita balik. Sampai jumpa Sabtu ini" Tian beringsut dari duduk dan pamitan ke Opa.


Opa Winardi memeluk cucu menantu nya itu. "Makasih Tian" ucapnya lirih di telinga Sebastian.

__ADS_1


"Itu sudah kewajibanku sebagai seorang suami, yang bahkan awalnya aku juga menelantarkan wanita yang menjadi ibu dari anakku itu Opa" ucap jujur Sebastian.


Dan hal itu sudah diketahui semua oleh Opa Winardi. Karena Sebastian telah menceritakan semua kisah hidupnya bersama Mutia.


.


Tepat dua hari, Sebastian mendapatkan kabar dari pak Budi pengacara Opa. Kalau semua pengalihan aset dan perusahaan tuan Baksono Winardi telah dipindahtangankan ke Mutia Arini.


"Sayang, ada berita gembira nih" panggil Sebastian ke arah Mutia yang sedang menyiapkan sarapan.


Semenjak mual muntah nya berkurang dan memilih resign dari perusahaannya sendiri, Mutia semakin rajin memasak.


Apalagi saat di mansion, mama Cathleen sangat suka mengajari sang menantu memasak lauk-lauk kesukaan Sebastian.


"Ada apa?" tukas Mutia menghampiri sang suami yang barusan duduk dengan baju siap berangkat ke kantor.


"Hheemmm, barusan tuan Budi kasih kabar" beritahu Tian.


"Apa?" seloroh Mutia dan duduk di samping sang suami.


"Semua aset Opa dan perusahaan sudah dialihkan atas nama kamu" lanjut Tian.


Mutia nampak menarik nafas panjang.


"Kok nggak semangat sih sayang? Ini amanat loh dari Opa" tutur Sebastian.


"Iya aku tahu. Aku takut amanat Opa tidak bisa aku jalankan dengan baik" tukas Mutia.


"Yakinlah, kamu pasti bisa" Sebastian menyemangati.


"Kuperhatikan kata-katamu barusan sudah seperti suporter bola loh yank?" celetuk Mutia dengan senyum di bibirnya.


"Kan aku suporter setia nya Langit Putra Ramadhan" sahut Sebastian. Dan mereka tertawa.


"Aku panggil Langit dulu, telat nanti ke sekolahnya" Mutia beranjak bangkit dari kursi.


"Aku aja yang panggil. Kamu duduk aja... Oh ya sayang, besok kita ke makam ayah dan ibu. Opa kita ajak sekalian" kata Tian. Mutia mengangguk mengiyakan.


"Besok sekalian kita ajak Opa saat aku periksa kandungan ya?" pinta Mutia.


"Baiklah" jawab Sebastian dan selanjutnya melangkah ke arah kamar Langit.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2