WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 107


__ADS_3

Sebastian telah kembali ke rumah sakit dengan membawakan permintaan sang istri.


Semua yang tak sengaja berpapasan dengan Sebastian pasti merasa aneh. Seorang cowok gagah dan tampan, dengan penuh percaya diri membawa serenteng kembang gula kapas di tangannya.


"Halo sayang, I'm.coming" Sebastian masuk dengan rasa senangnya karena berhasil membelikan keinginan sang istri.


Ternyata di sana sudah ada mama Cathleen dan juga papa Baskoro yang duduk di ruangan tamu yang tersedia di ruangan VVIP.


"Kamu itu beli apaan Tian?" tanya mama.


"Beli ini Mah. Lupa tadi aku namanya" seloroh Sebastian.


"Buat Mutia?" imbuh mama.


"Ya buat siapa lagi?" sahut Sebastian.


"Ya sudah, kamu bawa masuk sana dulu" suruh mama.


Sebastian beringsut dari duduk dan menemui sang istri yang ternyata masih ditemani oleh bik Sumi. Sementara Dena pamit sesaat setelah tuan Baskoro dan mama Cathleen datang.


"Ni sayang makanan yang kau pesan" Sebastian menyodorkan beberapa kembang gula kapas ya.g diikat jadi satu.


"Banyak amat?" Mutia terbengong dengan banyaknya pembelian Sebastian.


"Daripada bolak balik mendingan kubeli semua aja" alasan Sebastian.


Mutia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bisa diabetes dong kalau makan segini banyak" Mutia memutar bola matanya malas.


"Nggak dihabisin juga nggak apa-apa sayang. Bahkan kau pandang saja juga boleh. Apalagi kalau memandangku terus menerus. Aku akan senang sekali" Sebastian terkekeh.


Mutia mengerucutkan bibirnya. Sebastian kecup bibir itu karena merasa gemas. Bahkan Bik Sumi sampai memalingkan muka melihat keromantisan tuan dan nyonya.


"Maaf ya bik, aku sengaja" celetuk Sebastian tanpa rasa berdosa.


"Sayang, mau dibuka sekarang?" Sebastian mengambil sebungkus kembang gula kapas itu.


Mutia mengangguk saja, karena saat ini dia ingin makanan itu. Mulut yang terasa pahit, membuatnya makan makanan manis.


"Sayang, bagaimana ceritanya kau bisa kuliah di kampusmu itu? Apa karena punya saudara di kota ini?" Sebastian mulai mengorek sang istri tanpa membuat Mutia curiga.


"Nggak ada. Aku kuliah di situ karena beasiswa yang aku dapat dan juga ada asrama. Jadi bisa hemat buat biaya hidup" celetuk Mutia.


"Oooooo..." dia memang tak punya saudara di sini.


Mutia sudah tak mau lagi kala suapan ke empat.


"Terus ini yang ngabisin siapa dong?" Sebastian mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Kamu, siapa lagi?" Mutia terkekeh.


"Hah?" Sebastian mencoba sedikit dan merasa aneh di pangkal lidahnya.


"Makanan apa ini? Aneh?" ucap Sebastian.


Mutia terbahak melihat ekspresi sang suami.


.


Tiga hari sudah Mutia dirawat di rumah sakit itu. Pagi ini prof. Abraham telah visite. Dan Mutia diperbolehkan pulang. Plester bekas infus pun masih setia menempel di punggung tangan kiri Mutia.


Dengan naik kursi roda Mutia didorong Sebastian menuju parkiran mobil.


Sementara Pandu telah menunggu di sana dengan setia nya.


"Apartemen saja Pandu" perintah Sebastian saat mobil mulai melaju perlahan.


"Baik tuan" jawab Pandu.


Mutia hanya menyandarkan bahunya pada sang suami. Meski mual dan muntah nya sudah mereda, tapi masih menyisakan sedikit rasa lemas. Wajahnya pun masih sedikit pucat.


Sebastian yang sibuk dengan tab, membuka laporan-laporan yang dikirimkan Dewa. Karena selama Mutia dirawat, Sebastian pun tak pernah datang ke Blue Sky. Hanya Dewa yang sibuk wira wiri untuk menemui sang bos.


Diliriknya sekilas sang istri yang nampak terpejam itu.


Sampai di apartemen, ternyata Dena dan bik Sumi telah berada di sana.


"Baik tuan" tukas Bik Sumi.


"Mau tiduran apa di sini dengan Dena sama bibi?" tengok Sebastian ke sang istri.


"Di sini saja, bosan kalau baring terus" Mutia duduk di ruang tengah apartemen.


"Kalau gitu aku mandi duluan ya" ucap Tian.


Mutia mengikuti langkah sang suami, ingin menyiapkan keperluan kerja nya.


"Mau ke mana?" Sebastian membalikkan badan.


"Nyiapin keperluan kamu sayang" jawab Mutia.


"Sudah duduk aja, biar aku sendiri yang nyiapin" tolak Tian.


"Aku sudah nggak apa-apa sayang. Lagian badan terasa sakit semua kalau nggak gerak" Mutia beralasan.


Sebastian pun menuruti yang jadi kemauan sang istri.


Hari ini memang ada rapat yang mengharuskan Sebastian hadir dan tak bisa diwakilkan oleh Dewa. Makanya Sebastian sedikit terburu untuk berangkat.

__ADS_1


"Sayang, aku berangkat dulu. Hati-hati di rumah" kecup kening sang istri saat akan melangkah keluar apartemen.


Dewa sudah menunggu di basement apartemen.


"Pertemuan di resto dekat kampus kedokteran tuan" beritahu Dewa.


"Oke" Sebastian masih sibuk melihat materi kerjasama hari ini.


"Tuan, yakin mau membangun rumah sakit?" nampak keraguan di muka Dewa.


"Proyek sosial kenapa nggak?" sahut Sebastian.


Dewa masih menimbang, karena proyek rumah sakit adalah proyek padat modal. Alat-alat canggih dan tentu saja biaya perawatan yang tidak murah. Itu baru alat, belum standar bangunan dan perijinan. Baru membayangkan aja Dewa sudah geleng-geleng kepala. Apalagi ini untuk proyek sosial.


Proyek ini diadakan di kota A, bersebelahan dengan proyek yang sudah berjalan sebelumnya.


Sebastian tak tanggung-tanggung dalam setiap pengerjaan proyeknya.


"Wa, gimana tanggapan pemerintah yang di sana waktu aku membatalkan acara di kota A itu?" tanya Sebastian.


"Tidak ada tanggapan buruk tuan. Anda satu-satunya Investor besar yang bersedia masuk ke kota A" jelas Dewa.


"Tuan, apa pertimbangan anda menambahkan proyek rumah sakit ini?" Dewa penasaran dengan motif sang bos yang tiba-tiba saja ingin mendirikan rumah sakit itu.


"Proyek sosial aja. Bukannya di kota A baru ada satu rumah sakit pemerintah dan dua rumah sakit khusus?" tanya Sebastian.


"Kok anda sudah tahu?" padahal Dewa belum survey.


"Kan tidak harus menunggumu Wa...ha..ha..." tawa renyah Sebastian terdengar.


Seorang pebisnis handal tiba-tiba saja bicara proyek sosial. Pasti ada hal lain sehingga tuannya minat dengan megaproyek itu.


"Iya..ya..Wa..aku ngaku. Selain untuk proyek sosial. Dengan adanya bangunan hotel dan mall yang kita bangun, aku harap ada dampak signifikan dengan tingkat ekonomi warga. Selain itu masyarakat menengah ke atas di kota A, aku dengar sering berobat ke luar kota. Apa salahnya kita memfasilitasi mereka, untuk ngabisin duitnya..ha...ha.... Canda Wa" imbuh Sebastian masih melanjutkan tawa nya.


"Tetap aja ada peluang bisnis kan tuan?" Dewa menimpali.


"Sekali mengayuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Benar kan?" tandas Tian.


"Sudah seperti guru bahasa Indonesia aja" celetuk Dewa.


"Ha...ha..." tawa Tian semakin membahana di mobil.


"Hari ini anda segar sekali tuan?" puji Dewa.


"Lega Wa, istriku sudah dibolehin pulang. Semoga saja calon adiknya Langit tidak membuat ulah lagi..he...he..." kata Tian.


Itu kan juga karena ulahmu juga Tuan, batin Dewa.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2