WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 141


__ADS_3

Sementara itu di Blue Sky, Sebastian memperlihatkan senyum simpulnya. Ternyata asyik juga sedikit mempermainkan mereka.


Selain untuk istrinya dan juga Opa Winardi, sedikit banyak Sebastian juga pernah merasakan dipermainkan oleh Janetra.


"Bodohnya aku dulu, menjadi penurut karena wanita ular itu" umpat Sebastian bergumam.


Terdengar ketukan pintu. "Masuk!" perintah Sebastian.


"Selamat siang tuan, ada yang ingin kusampaikan" celetuk Dewa dan terus duduk di kursi depan meja sang CEO.


"Apa?" tukas Sebastian dengan mata tak beralih dari berkas.


"Janetra baru saja melahirkan, jadi kalau ingin ngerjai dia nunggu waktu yang tepat" kata Dewa.


"Emang kau dokternya?" hardik Tian.


"Ya bukan tuan" tangkis Dewa.


"Ha...ha...jangan-jangan kau ada hati dengan dia" Sebastian terbahak mendengar Dewa.


"Bukan...bukan...bukan itu maksudku. Hadech jadi serba salah" kata Dewa mengusap tengkuknya.


"Makanya, kalau nggak ngerti jangan asal bicara" sela Tian.


Dewa bengong menanggapi ucapan Sebastian.


"Jangan dikira aku cuman asal saja ya. Orang-orang kita sudah kuberi tugas untuk nanya ke dokter yang menolong si Janetra itu" beritahu Tian.


"Terus?" imbuh Dewa penasaran.


"Terus...terus...!!! Orang-orang kita juga tak asal saja ngerjain wanita pasca lahir tuh" ucap Tian.


"Apalagi lahir spontan, gitu kan maksud tuan???" sahut Dewa.


"Itu kau paham yang aku maksud" pungkas Tian.


"Aku tahu sebatas mana untuk memerintahkan orang-orangku Wa. Apalagi istriku sekarang juga sedang hamil" kata Tian.


"Siap tuan. Ternyata hatimu juga ada sisi melow nya juga" canda Dewa.


"Apa hanya itu yang ingin kau bicarakan?" tanya Tian.


"Anda masih terlalu baik untuk mereka tuan, masih memberi uang ganti uang liontin. Dan nyonya masih juga memberi uang depe untuk rumah sakit. Kenapa nggak buat nambahin bonusku aja sich" kata Dewa.


"Orang yang terbiasa hidup menjadi benalu, terbiasa dengan segala macam fasilitas mewah. Hidup dengan uang segitu pasti cukup menyulitkan mereka. Nggak sampai seminggu uang segitu pasti sudah ludes" jelas Sebastian.


Dewa termangu.


"Masih ada lagi nggak? Kalau nggak, sesi curhatmu kututup" imbuh Tian dan kembali fokus ke kertas-kertas di mejanya.


"He...he...ada tuan, aku mau ijin ke Mutia Bakery. Boleh nggak tuan?" gurau Dewa.


"Nggak" tandas singkat Tian dan sukses membuat Dewa bersungut.


"Ha...ha...persis cewek loe" Sebastian terbahak.


Kalau anda bukan bos gue, sudah kuremas-remas seperti kertas biar lungset. Gerutu Dewa dalam benak.


"Ngapain masih di sini? Mau *******-***** gue?" celetuk Sebastian.

__ADS_1


Si bos ini tau aja pikiranku. Umpat Dewa.


"Wa, aku nanti ikut ke Mutia Bakery" kata Tian saat Dewa membalikkan badan.


Kenapa tuan ni musti ngikut. Orang mau kencan juga. Batin Dewa.


"Aku nggak akan ganggu kencanmu. Tapi sebelumnya kau harus bantu aku ngecek semua keuangan Mutia Bakery lengkap dengan cabang-cabangnya" beritahu Tian.


Dewa kembali membalikkan badan, "Tuan, bisa sampai tengah malam dong?" kata Dewa dengan melotot.


Sebastian hanya mengangkat kedua bahunya, "No komen" imbuh Tian.


Dewa keluar dengan menyebutkan semua nama binatang di kebun binatang. Pokoknya lengkap tanpa terkecuali.


Sementara Sebastian terbahak, berhasil mengerjai Dewa.


.


Sementara itu di kontrakan Supranoto, mereka bertiga berberes rumah.


"Pah, kenapa nggak cari orang saja sih untuk membereskan semua?" gerutu nyonya Martha.


"Kau masih punya tabungan untuk bayar mereka?" tukas Supranoto.


"Ya enggak"


"Makanya kerjain saja, dasar nggak guna" Supranoto mulai emosi.


"Apa kamu bilang Pah?" muka nyonya Martha mulai merah padam.


"Sudah...sudah...ayo dilanjutin" sela Janetra.


"Tas-tas kalian" celetuk Supranoto.


"Jangan Pah, hanya itu hartaku yang tersisa. Nanti gimana dong tanggapan teman-teman arisan mama" nyonya Martha keberatan.


"Tas ku sudah habis buat memenuhi kebutuhan kalian sebelumnya" sela Janetra.


"Eh Mah, gimana kalau kamu pinjam duit ke teman arisanmu. Bisa buat modal nih" ujar Supranoto girang karena sedikit menemukan jalan.


"Malu dong Pah" tukas nyonya Martha.


"Usaha dong Mah" kata Supranoto ngegas.


"Kalau begitu, besok bawain aku uang lima belas juta buat arisan" kata Nyonya Martha.


"Hah? Abis dong uang kita" jawab Supranoto.


"Kalau nggak ada, aku nggak bakalan datang dong Pah. Emang uang arisannya segitu" ucap nyonya Martha.


"Arisan macam apa itu? Mahal sekali" gumam Janetra.


Padahal saat mereka masih menjadi benalu di keluarga Baksono Winardi, uang segitu mah kecil.


"Oke, aku bawain uang segitu. Tapi kamu balik harus bawa uang seratus juta" kata Supranoto.


"Hah, kamu ngancam aku Pah?" nyonya Martha menimpali.


"Usaha Mah...kamu harus usahain itu. Kalau nggak dapat mendingan yang lima belas juta aku simpen saja" imbuh Supranoto.

__ADS_1


"Iya...iya...akan kuusahakan" kata Martha.


Terdengar perut keroncongan di sela-sela obrolan mereka.


"Aku lapar" celetuk Janetra.


"Beli online aja Pah" usul Martha.


"Kenapa kau nggak masak aja sih?"


"Ogah, tanganku bisa kotor kalau kupakai masak" tukas Martha.


Supranoto hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan sang istri yang masih saja berlagak orang berpunya.


Supranoto keluar untuk beli makanan. Saat di tengah jalan kampung, dilihatnya beberapa orang ngumpul di sana. Supranoto mendekat dan dilihatnya kerumunan beberapa orang di sana.


"Lagi ngumpul nih?" ujarnya sok akrab.


"Heh, kau orang baru ya? Kok baru lihat tuh muka" celetuk salah satu orang di sana.


"Iya pak, baru hari ini pindah" jelas Supranoto.


"Gabung yuk!" ajak orang itu.


"Bentar pak, mau belikan makanan buat yang di rumah dulu" pamit Supranoto.


"Ntar loe balik" sambung orang itu tetap dengan ajakannya.


.


"Papa mau kemana?" tanya Martha saat suaminya hendak keluar saat selesai makan.


Supranoto benar-benar mendatangi orang yang sedang berkumpul tadi.


"Mau ikut?" ajak orang yang tadi dan dijawab anggukan Supranoto.


"Heh, geser dong kalian. Beri tempat untuk tuan kaya ini" ujar orang itu. Melihat penampilan Supranoto sekarang, tak salah jika orang itu menyebutnya orang kaya.


"Baiklah kita kocok kartunya" ujar orang itu yang ternyata sedang bermain judi.


Supranoto berpikir, dengan judi dia berharap bisa menang. Dan uang yang dibawanya akan bertambah.


Sampai tengah malam Supranoto masih berada di sana. Uang yang dibawanya hanya tersisa satu juta. Dia sudah kalah.


"Pak, aku balik. Aku sudah tak bawa uang nih" kata Supranoto dengan sedikit mabuk.


Karena selain judi, tempat itu juga disediain minuman keras.


"Heh tuan, kalau kau tak punya uang. Bisa kukenalin kau kepada tuan kami" celetuk orang itu.


"Benarkah?" kata Supranoto dengan sempoyongan.


"Besok datanglah, nanti akan kukenalkan" beritahu orang itu.


Supranoto pulang dalam keadaan mabuk dan kalah telak.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To continued, happy reading

__ADS_1


💝


__ADS_2