
"Apa kehadiran Janetra kemarin, membuatmu meragukanku???" tanya telak Sebastian seakan tau arah pemikiran Mutia.
"Kamu mengenalnya?" tanggap Mutia dan Sebastian mengangguk. Apa mungkin benar apa yang diucapkan wanita itu, bahwa dia mengandung anak Sebastian. Apa kejadiannya seperti yang terjadi padaku enam tahun lalu. Berbagai pemikiran aneh melintas di otak Mutia.
Sebastian memandang Mutia yang tampak terdiam.
"Pasti kau berpikir bahwa yang dikandungnya anakku kan?" tebak Sebastian tepat sekali. "Hah...?" Mutia terkaget. Bagaimana dia tau apa yang kupikirkan, batin Mutia. Sementara dalam benak Sebastian, ternyata sulit juga meyakinkan bunda Langit ini.
"Mutia, aku akan bicara jujur padamu" sela Sebastian. "Untuk apa? Kalau kau ingin menceritakan kisah hidupmu, percaya diri sekali kau Tian. Aku membiarkanmu dekat Langit hanya semata karena Langit yang akhir-akhir ini membutuhkan sosok ayah. Kebetulan saja kau hadir di waktu yang tepat" sarkas Mutia. "Aku tidak butuh dongengmu" potong Mutia dan beranjak menyusul Langit. Sebastian hanya bisa menghela nafas panjang. Ternyata pintu hatimu sungguh sulit diketuk, pikir Sebastian. Dia pun beranjak mengikuti langkah Mutia.
__ADS_1
Langit yang bersama Dewa sangat menikmati berbagai permainan di sana. "Dad, lekas sini" panggil Langit yang melihat Sebastian sedang mengekori langkah Mutia. Sebastian pun tersenyum ke arah Langit dan mendekat ke arahnya. "Wa, istirahatlah. Sekalian pesankan makanan ya" perintah Sebastian. "Oke, siap" tukas Dewa melangkah mencari tempat teduh.
"Nyonya, di sini panas. Ayo berteduh di sebelah sana" ajak Dewa.
Dewa memberikan es kelapa muda untuk Mutia, "Nyonya, silahkan" tawar Dewa. "Hm, terima kasih" tukas Mutia tanpa mengalihkan pandangannya dari Langit dan Sebastian yang sedang seru bermain bersama. "Ini momen langka nyonya, tuan Sebastian itu orang yang tidak gampang nyaman dengan siapapun" celetuk Dewa. Mutia tetap terdiam tanpa menanggapi. "Bahkan semenjak kejadian malam itu, tuan tidak pernah sekalipun dekat dengan seorang wanita manapun. Tuan sangat merasa bersalah" Dewa mulai dengan kata-kata kompornya. Tidak pernah dekat apa, nyatanya ada wanita yang mengaku dihamilinya. Kata Mutia dalam benaknya.
"Oh ya nyonya, belum tau kan cerita tentang wanita yang mengaku Janetra" Dewa sengaja meneruskan kata-katanya. Melihat tuannya datang menghampirinya tadi dengan muka sedikit tertekuk, Dewa yakin pasti tuannya gagal mengambil hati nyonya Mutia. Sementara Mutia tetap dengan mode diam tak menanggapi.
Bahkan dengan semangat tetap melanjutkan ceritanya, "Terus kejadian pernikahan itu, Tuan juga sengaja melarikan diri. Tuan Sebastian sengaja mengulur waktu menunggu hasil pemeriksaan rumah sakit. Dan ternyata dugaanya benar, bahwa putra yang dikandung Janetra bukan benih tuan Sebastian. Janetra yang punya alibi, maka tuan Sebastian menyiapkan bukti konkrit untuk menyangkal semuanya. Dan seperti itu lah endingnya, tuan Sebastian selamat dari jebakan Janetra untuk kedua kalinya" Dewa mengakhiri ceritanya. "Untuk apa kau ceritakan padaku???" tukas Mutia. "He...he..." Dewa terkekeh. "Ternyata nyonya sedari tadi diam menyimak juga ya???" Dewa malah balik bertanya. Biar nyonya bisa membuka hati untuk tuan Sebastian, itu maksudku nyonya. Tapi semua itu hanya dikatakan Dewa dalam hatinya.
__ADS_1
Mutia sedikit mengangkat ujung bibirnya, ternyata tidak seperti yang kukira. Batin Mutia.
Sebastian mengajak Langit, "Langit makan dulu yuk, daddy lapar nih" Sebastian sengaja mengelus perutnya. "Capek ya dad?" tanya Langit. "Daddy cemen, segitu aja sudah capek" celetuknya. Sebastian hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan putranya. Mereka berdua beranjak mendekati tempat Mutia yang sedang berteduh bersama Dewa. Sebastian melotot ke arah Dewa yang tak sengaja duduk berdekatan dengan sang nyonya. Dewa hanya bisa nyengir kuda tanpa merasa bersalah. Kau akan berterima kasih tuan bila mengerti apa yang telah kusampaikan ke nyonya Mutia tadi, kata Dewa dalam benak.
"Langit mau makan apa?" tunjuk Mutia ke arah makanan yang telah terhidang tadi. "Ayam goreng" kata Langit antusias. Mutia mengambil nasi dengan lauk ayam goreng, "Pakai ini ya?" tukas Mutia menunjuk ke salad sayur. Langit hanya menggeleng, dia memang tidak suka salad sayur yang baginya terasa aneh di lidah. "Bun, aku makan sendiri aja" sahut Langit. Mutia menyerahkan piring berisi nasi dan juga ayam goreng ke arah Langit, "Jangan lupa...???" Mutia sengaja menggantung ucapannya. "Berdoa dan cuci tangan" tukas Langit cepat. "Good" ucap Mutia mengangkat kedua jempolnya ke atas. Sementara Sebastian dan Dewa hanya mengamati interaksi ibu dan anak itu.
"Kalian nggak makan??" Mutia menoleh ke Sebastian dan juga Dewa. Mereka berdua malah kompak menyodorkan piring kosong di depannya ke arah Mutia. "Maksudnya??" potong Sebastian ke arah Dewa. Dewa hanya bisa menggaruk kepalanya, karena gerakannya tadi hanya reflek saja. "Bun, ambilin daddy dong" ucap Langit dengan mulut penuh makanan. Daripada berdebat dengan Langit, Mutia mengambil piring kosong yang diserahkan Sebastian. Dengan sengaja, Mutia mengambilkan nasi dan lauk yang banyak untuk Sebastian. Biar tau rasa, umpat Mutia dalam hati. Dewa tak dapat menahan tawa melihatnya, tapi saat menoleh ke arah Sebastian tawa itu langsung berhenti otomatis. Dewa melanjutkan tawanya dalam hati, selama ini sungguh tak ada yang berani mengerjai tuannya itu selain nyonya Mutia. Sementara Sebastian hanya bisa membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan Mutia sambil menerima piring yang telah disodorkan Mutia untuknya. Berasa kuli, batin Sebastian. "Dad, harus habis ya. Kata bunda kalau menyia-nyiakan makanan itu namanya mubadzir" ucap Langit menyela. Sebastian hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kali ini Dewa sungguh tak bisa menahan tawanya lagi.
Sungguh CEO Blue Sky tak berkutik di hadapan CEO Mutia Bakery.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 🤗