WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 138


__ADS_3

Sebastian masih memandangi layar laptop di depannya.


"Terlalu mudah bagi mereka kalau hanya kubabat habis hartanya" gumam Sebastian.


"Berani sekali memanfaatkan kebaikan istriku" ucap Sebastian kesal.


"Sepertinya memberi mereka sedikit pelajaran akan lebih seru" Sebastian masih bergumam.


Sebastian menyandarkan kepala ke sandaran kursi di belakangnya.


"Kuhubungi Dewa aja" Sebastian meraih ponsel di atas meja kerja.


"Iya Tuan" jawab Dewa pada panggilan video itu.


Sebastian memicingkan mata, mengawasi ruangan di mana Dewa berada.


"Kau di mana?" selidik Sebastian.


Dewa terlihat hanya garuk-garuk kepala. Belum apa-apa sudah ketahuan sang bos.


"He...he...maaf tuan. Masih di apartemen nyonya" jawab Dewa jujur.


"Lekas naik, kutunggu kau di ruang kerja. Awas saja kau apa-apain Dena. Besok kusuruh kawin kalian!" sergah Sebastian.


"Nikah tuan, bukan kawin" seloroh Dewa menimpali.


"Nggak usah banyak omong, lekas naik" perintah Sebastian.


"Tuan, ini sudah tengah malam loh" Dewa mengucapkan alasan agar tak disuruh naik.


"Sudah tau tengah malam tapi masih ngendon aja kau di situ" tukas Sebastian sengit.


"Lekas sini, kuhitung sampai sepuluh harus sudah sampai" kata Sebastian mematikan panggilan telponnya.


Dewa masuk ke ruang kerja dengan nafas ngos-ngosan, saat hitungan sampai sembilan setengah.


Sebastian tertawa menyambut kedatangan Dewa.


Emang dasar bos sialan, gerutu Dewa dalam benak. Mana dia berani mengumpat secara terang-terangan.


"Besok aku mau bilang istriku, kalau kalian berdua siap ke penghulu" kata Tian.


"Hah?" Dewa bengong.


"Tuan, memanggilku hanya untuk itu?" tukas Dewa.


"Heemmm..." gumam Tian.


"Padahal aku tadi sedang mbenahin kran air bocor di apartemen nyonya loh" beritahu Dewa.


"He...he..." Sebastian terkekeh melihat muka Dewa yang merah padam. Pasti dia saat ini sedang mengumpat ke dirinya.


"Lihat ini" suruh Sebastian membalik layar laptop ke arah Dewa.


"Jam segini masih disuruh kerja" tukas Dewa dengan menggerutu.

__ADS_1


"Lihat dulu! Baru komen" seloroh Sebastian dengan tetap duduk santai di kursi kebesarannya.


Dewa melakukan apa yang diminta oleh sang bos.


"Jadi...?????" ucap Dewa seakan tak percaya dengan apa yang dilihat di layar laptop itu.


"Kau juga termasuk orang yang masuk perangkapnya Janetra?" sindir Tian.


Dewa menggaruk kembali rambutnya, "Tapi akting wanita uler itu sungguh luar binasa Tuan" tukas Dewa.


"Masih ada loh orang yang tak percaya dengan si wanita uler itu" imbuh Tian.


"Siapa?" tanya Dewa.


"Tania Fahira, dia lah yang memasang semua alat yang ada di kamar Janetra. Aku saja kalah cepat dengan geraknya" Sebastian terkekeh. Sahabat bar-bar nya termasuk jeli memahami keadaan. Sebastian hanya cukup bilang ke Bara sang sahabat yang dokter dan sekaligus pemilik rumah sakit dimana Janetra dirawat untuk membuat keributan kecil di sana.


"Sekarang kau tinggal membantuku mengeksekusi mereka" lanjut Tian.


"Kamu dengar sendiri kan apa yang akan mereka lakukan?" tanya Tian. Dewa hanya bisa mengangguk.


.


Sebastian dan Dewa melanjutkan aktivitas seperti biasa setelah semalaman mereka rapat di ruang kerja Sebastian.


Bahkan Dewa ketiduran di sana.


Pagi-pagi Opa Winardi lah yang memergoki keberadaan Dewa dan membangunkannya.


"Sayang, kita berangkat dulu" Sebastian beranjak dari meja makan, diikuti Dewa yang juga ikutan sarapan pagi di mansion.


Tak lupa Sebastian ciumi perut istrinya, "Daddy berangkat sekarang. Jagain bunda ya" kata Sebastian berbisik ke arah perut Mutia. Sebuah gerakan di sana.


"Apa itu tadi?" kata Tian, yang memang belum tahu karena selama hamil Langit Sebastian tidak pernah mendampingi Mutia.


"He..he...dia mulai menendang sayang" jelas Mutia.


"Really?" Sebastian seakan tak percaya.


"Heemmmm" gumam Mutia dengan mengangguk.


.


Sementara itu di rumah sakit, Tuan Supranoto dan nyonya Martha terburu-buru hendak keluar rumah sakit.


"Papa sama mama mau ke mana?" tanya Janetra.


"Kita mau ke toko perhiasan sayang, mau menjual liontin mama mu ini" kata tuan Supranoto.


"Hanya ini harapan satu-satunya untuk kita bisa bertahan hidup" ucap nyonya Martha dengan memegang liontin yang masih melingkar di leher.


"Oke Mah, Pah. Hati-hati kalian" kata Janetra.


Setelah papa dan mama nya keluar, Janetra kedatangan dokter dan perawat untuk visite pagi.


"Gimana kabarnya nyonya, sepertinya anda sudah kelihatan bugar?" sapa dokter Anita.

__ADS_1


"Oke, kita periksa dulu" imbuh dokter Anita.


Dokter Anita memeriksa Janetra dengan seksama.


"Sepertinya anda sudah sehat nyonya. Siang ini anda dan bayi anda sudah boleh pulang" kata dokter Anita.


"Baik dokter, terima kasih atas bantuannya" jawab Janetra.


"Oh iya nyonya, untuk biaya administrasi tolong selesaikan di bagian admin" beritahu perawat yang mengikuti visite sang dokter.


"Bukannya semua sudah dibayarkan?" tanya Janetra heran.


"Tanya aja ke bagian admin nyonya" kata perawat itu dengan sopan.


Janetra meninggalkan bayinya yang terlelap untuk bertanya di bagian admin. Dengan penuh keyakinan dia datang ke sana. Karena semalam dia dengar sendiri kalau semalam Mutia telah melunasi biaya rawat inapnya tanpa ada sanggahan dari Sebastian.


"Maaf kak, boleh minta kuitansi pelunasan biaya rumah sakit atas nama saya, Janetra" kata Janetra yang duduk di depan meja kasir.


"Baik kita cek dulu nyonya" ucap sang kasir.


Setelah menunggu, "Maaf nyonya, tagihan anda sebesar lima belas juta sekian belum terbayarkan" beritahu kasir laki-laki itu.


"Ah, masak sih???" kata Janetra menimpali.


Kasir itu menunjukkan bill tagihan ke Janetra. Dan disitu tertulis kalau memang semua belum terbayarkan.


"Hah? Bagaimana bisa?" tanya Janetra.


"Siapa yang menandatangani sebagai penanggung jawab ku semalam? Bukannya disitu tertulis Mutia Arini?" telisik Janetra.


"Tidak ada nyonya. Berkas tanda tangan persetujuan semuanya atas namamu sendiri" jelas sang kasir.


"Maaf nyonya. Jadi kapan dilunasi?" tukasnya.


Janetra masih terdiam.


"Bentar kak, aku telpon orang tuaku lebih dahulu" kata Janetra pada akhirnya.


Janetra mencoba menghubungi nomor tuan Supranoto tapi hasilnya nihil. Nomor nyonya Martha pun demikian juga. Janetra hanya bisa menggerutu menunggu panggilan telponnya tersambung.


.


Sementara itu di sebuah toko perhiasan ternama yang berlokasi di mall Dirgantara. Tuan Supranoto dan nyonya Martha sedang berdebat dengan karyawati toko itu.


"Siapa bilang itu perhiasan palsu nona. Barang itu limited dan hanya ada dua di dunia ini" kata nyonya Martha mulai emosi karena perkataan wanita di depannya.


"Tapi kalung ini memang palsu nyonya. Yang asli hanya ada satu, dengan liontin bermata biru" katanya penuh keyakinan.


"Apa kau bilang? Palsu?" tanya tuan Supranoto mulai marah.


"Sebaiknya silahkan bawa surat aslinya saja nyonya, agar kami yakin kalau itu memang barang asli. Kalau anda tidak menunjukkan surat itu, maka kami anggap anda mau menipu kami" tandas karyawan itu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


💝


__ADS_2