WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 85


__ADS_3

Tanggapan berbeda dari duo D. Jika Dewa mendengus kesal, beda lagi sama Dena. Dena malah berdoa, semoga pesanan yang didapat tidak sesuai selera sang tuan. Jadi dirinya ikut kecipratan.


Tak lama setelah itu panggilan Sebastian terdengar lagi.


"Dewa...kesini!!!" panggilnya.


Dewa beranjak dan segera menemui sang tuan. Sampai di meja makan, Sebastian kelihatannya telah menyelesaikan acara makannya.


"Wa, makasih ya. Sesuai janjiku, bonusmu telah kutransfer" Sebastian.


Karena ini masih ada banyak, habiskan saja semua" tunjuk Sebastian ke meja makan.


"Bukannya ini masih utuh semua tuan?" tanya Dewa yang melihat belum ada satupun makanan yang dibuka.


"Iya, aku sudah kenyang" kata Sebastian.


"Loh...es campur sama baksonya?"Dewa membego di tempat.


"Kamu makan aja semua. Atau kau ajak si Dena. Aku sudah kenyang saat mencium aromanya tadi" Sebastian meninggalkan Dewa yang masih termangu di tempat duduknya.


"Kenyang dengan mencium aroma?" gumam Dewa.


"Ah, masa bodoh. Yang penting tuan sudah ngijinin. Kubawa aja ah" celetuk Dewa mangangkat makanan yang masih utuh itu. Bahkan lengkap dengan kantung plastiknya.


Dewa mengajak Dena yang masih menunggunya di ruang tamu apartemen Sebastian.


Mutia keluar dari kamar mencari keberadaan sang suami. Penerbangan yang lumayan memakan waktu membuat tubuhnya ingin diistirahatkan. Mutia meninggalkan sang suami saat mondar mandir menunggu kedatangan Dewa tadi.


"Sayang...Sayang...kau di mana?" panggil Mutia beberapa kali.


"Masih di ruang kerja" sahut Sebastian.


Mutia membuatkan secangkir kopi hangat untuk sang suami.


Saat melewati meja makan dilihatnya meja itu telah bersih. Mutia tersenyum, dia mengira kalau sang suami telah makan makanan yang dibelikan Dewa.


"Sayang, ini kopinya" Mutia menghampiri Sebastian yang fokus dengan laptop di depannya.


Sebastian memeluk sang istri yang baru datang itu. Mutia mencoba melerai pelukan sang suami, tapi Sebastian tak membiarkan itu. Pelukannya semakin erat dirasa Mutia.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?" Mutia dibuat heran oleh ulah sang suami seharian ini. Ada-ada saja tingkahnya selepas pulang dari bandara.


"Kopinya nggak diminum? Mumpung hangat" Mutia menawari ulang


"Tapi aku belum makan, lambungku nggak kuat minum kopi kalau kondisi kosong" jelas Sebastian.


"Loh, bukannya tadi sudah makan menu yang dibelikan Dewa?" tanya heran Mutia.


"Nggak aku makan" Sebastian tak melepaskan pelukannya.


"Kok bisa?" Mutia semakin heran.


"Menghirup baunya aja aku sudah kenyang" imbuh Sebastian singkat.


"Loh???" Mutia menatap aneh sang suami.


"He...he...baru sekarang aku lapar beneran. Ayo makan!" Sebastian mengajak Mutia untuk menemaninya makan.


"Tapi aku belum nyiapin" tandas Mutia.


"Mie goreng instan aja nggak apa-apa, lapar banget nih" rengek Sebastian.


CEO Blue Sky pun ternyata juga mau makan mie instan.


Mutia dengan cekatan membuatkan menu yang diminta oleh sang suami. Mutia juga menambahkan tumisan daging cincang di atasnya.


Selera Sebastian meningkat melihat mie goreng yang terhidang. Bahkan uap panasnya masih mengebul di atas piring saji.


Saat hendak menyuapkan sendok pertamanya, Langit datang. "Dad, aku juga mau".


Suapan pertama harus dia relakan buat sang putra. Terus berlanjut suapan-suapan berikutnya. Sementara sang Daddy hanya bisa menelan ludah melihat Langit yang sangat lahap.


"Kenyang Dad, makasih ya" tukas Langit.


"Sayang..." panggi Sebastian kembali.


"Iya, aku buatin lagi" Mutia menyalakan kompor listriknya kembali.


"Mie kuah aja ya, dicemplungin putih telur" pinta Sebastian.

__ADS_1


"Wah, menu anak kos tuh" celetuk Mutia.


Tak sampai lima menit, mie kuah ala anak kos telah siap dihidangkan di depan sang suami.


Sebastian bahkan sampai menelan ludahnya beberapa kali.


"Wowwww...lezatos" puji nya.


"Emang pernah makan beginian sebelumnya?" seloroh Mutia yang ikutan duduk di hadapan sang suami.


"Belum" geleng Sebastian.


"Iya juga ya, mana ada keluarga sultan menu beginian" tawa Mutia meledak.


"Kalau aku mah, ini menu sehari-hari. Terutama tiga tahun hidup di asrama. Jelas-jelas harus pengiritan global. Hari ini rasa soto, besok ganti rendang, besoknya lagi ayam bawang" cerita Mutia sambil nostalgia masa lalu, mengabsen rasa-rasa mie instan.


"Oh ya?" gantian Sebastian yang heran dengan cerita istrinya.


Meski waktu kecil kedua orang tuanya sering mengajak diri dan kakaknya ke sebuah panti asuhan, tapi tentu saja dia tak mengerti detail kehidupan di sana.


Dengan sangat lahap, Sebastian menikmati mie kuah rasa soto yang dibuat oleh istrinya.


"Besok mau lagi dong yank" Sebastian menghirup kuah hingga tetes terakhir.


"Nggak boleh sering-sering, sebulan lagi baru boleh" larang Mutia. Sebastian bersungut kala Mutia tak mengijinkan kemauannya.


"Nggak baik sayang kalau terlalu sering. Katanya mau ngurangi asupan karbo?" jelas Mutia.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Senin malam Selasa pagi, ke pasar beli ikan


Up telah datang lagi, yukkk segera ramaikan


Stay cool


💝

__ADS_1


Follow IG @moenaelsa_


__ADS_2