WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 72


__ADS_3

Sementara Dena dan Dewa telah sampai di bandara. "Bagaimana sih Kak Mutia. Bisa-bisanya memberi perintah untuk pergi dengan manusia ini" gerutu Dena dalam hati.


Entah kebetulan atau bagaimana, di dalam pesawatpun mereka duduk berdampingan. "Alamak nasib gue gini amat ya" ucap Dena melabuhkan pantatnya di kursi yang bersebelahan dengan kursi Dewa. Dewa seakan tak memperdulikan keberadaan Dena.


"Pagi Non Dena" tengok Dewa menyapa partner barunya.


Sapaan Dewa membuat Dena terlonjak.


"Mari kita laksanakan tugas ini dengan cepat dan tepat, jadi nggak perlu lama-lama bersamamu" tukas Dewa.


"Heh, pe-de amat sih kau. Siapa yang mau juga lama-lama denganmu" ucap Dena dibuat emosi oleh kata Dewa barusan.


"Oke, deal. Kita sepakati tak lebih dari dua hari di kota S" Dewa mengajak bersalaman Dena.


"Ogah, sehari saja" tukas Dena menepis tangan Dewa


"Hei, ingatlah. Semua tergantung kinerjamu. Aku cuma ditugaskan untuk membantu. Camkan itu!!!" tandas Dewa kemudian terdiam.


"Emang sapa juga yang butuh bantuan kamu" gumam Dena.


Untung saja Dewa telah memakai headset untuk menutupi kedua telinga dari ocehan Dena yang sudah seperti lebah itu.


Pesawat telah lepas landas menuju kota S.


Dena dan Dewa telah naik pesawat. Sementara Mutia masih dalam perjalanan ke Mutia Bakery. "Pandu, jadwalmu sampai siang kosong. Abis itu jemput Langit dan langsung antar Langit ke mansion oma dan opa nya ya. Sore nggak usah menjemputku" perintah Mutia halus. "Baik nyonya" jawabnya sopan.


"Oh ya Pandu, sudah menikah?" tanya Mutia.


"Sudah nyonya, alhamdulillah sudah ada dua anak juga" Pandu tetap fokus menyetir mobil mewah yang baru datang dari showroom itu.


"Ooo..kirain kamu belum menikah Pandu. Kamu masih muda sekali" tukas Mutia.


"He...he...saya memang menikah muda nyonya. Bahkan lulus SMA langsung dinikahkan" celetuknya.


"Loh, kok bisa?" Mutia dibuat heran oleh sopir barunya.


"Abis pacar saya waktu itu sudah hamil duluan. Makanya saya langsung dinikahkan waktu itu" jelas Pandu.


Mutia menepuk jidatnya.


"Sudah berapa lama kerja di tuan Baskoro?" lanjut Mutia.


"Baru dua tahun nyonya. Itupun kalau tidak menggantikan ayah saya yang sudah tua, mana tuan Baskoro percaya dengan saya" imbuh Pandu.

__ADS_1


Itulah yang sering dilakukan oleh Mutia, terutama ada karyawan baru. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan seperti sebuah obrolan, sehingga karyawan merasa nyaman bercerita dengannya. Padahal di balik itu, Mutia sedang menyelidiki latar belakang karyawannya.


Sesampai di Mutia Bakery, Mutia disibukkan oleh persiapan pembuatan wedding cake yang akan dipakai dua hari lagi di pesta pernikahan keluarga Supranoto. Dengan harga mahal yang dibandrol oleh perusahaan miliknya, maka Mutia juga sudah memesan kristal swarovski untuk penambahan detil wedding cake. Detail pembuatan sangat diperhatikan oleh tim produksinya. "Kak Mutia, beneran ini mau dipakai dua hari ke depan?" tanya kepala tim produksi yang artinya juga seorang chef handal yang dimiliki oleh Mutia. Mutia mengangguk membenarkan.


"Oke semangat tim. Kita mulai pekerjaan ini" ujarnya.


"Sukses untuk semua. Fighting" tukas Mutia yang bahkan mengikuti adegan drakor itu.


Semua tersenyum menanggapi ucapan sang bos yang berada di pantry.


Memang untuk wedding cake itu sudah termasuk sangat mewah. Karena dilihat harganya saja, sudah bisa dibuat untuk membeli sebuah rumah KPR. Tapi untuk golongan menengah ke atas yang merupakan langganan dari Mutia Bakery, bisa jadi harga segitu hanyalah sebagian kecil dari harta mereka.


Mutia tak ambil pusing dengan itu. Prinsipnya dia memberikan layanan terbaik dan kepuasan customer adalah hasil akhirnya. Membina kepercayaan lebih sulit daripada sekedar mendatangkan customer baru.


Sebastian yang baru tiba di Blue Sky sendirian tanpa asisten. Sebastian menaruh pantatnya di kursi kebesaran. Sang sekretaris masuk dengan gaya genit seperti biasanya. Sebastian yang baru mengetahui, karena biasanya saat sang sekretaris masuk ke ruangan Sebastian asyik ngbrol dengan Dewa.


"Hei..kau. Apa memang gayamu seperti ini tiap hari?" tanya Sebastian.


Sekretaris itu mengernyitkan alisnya, tak tahu arah bicara sang bos.


"Tiap hari aku sudah begini tuan" jawabnya.


"Mulai besok ganti bajumu yang sopan dan tertutup. Ini kantor bukan club malam" tandas Sebastian.


"Antarkan berkas ini ke bagian HRD!! Jangan lupa pesanku tadi" Sebastian telah balik ke ruangannya.


Memang sampai detik ini Sebastian belum mengumumkan pernikahannya dengan Mutia. Di Blue Sky hanya Dewa yang tau akan hal itu.


Sebastian menghubungi Dewa yang telah sampai di kota S. "Wa, lihat berkas yang kukirim di email. Pelacakan di cabang itu bisa kau mulai dari sana. Kutunggu sampai besok sore laporanmu!!!" perintah Sebastian. "Baik tuan. Selepas tugas dari sini, cuti boleh???" imbuh Dewa. "Boleh, cuti aja seterusnya" Sebastian menutup panggilannya. Tersisa gerutuan dan umpatan Dewa di sana.


Ditinggalkan oleh Dewa membuat Sebastian sangat sibuk hari ini. Baru sore hari dia bisa menghubungi istrinya untuk menjemput. "Sayang, belum pulang kan? Tiga puluh menit. Tungguin. Love You" ucap Sebastian di pesan suara ponselnya.


Sebastian terburu menuju Mutia Bakery untuk menjemput belahan jiwanya. Ternyata sampai di sana Sebastian tak menemukan sang istri di ruangannya. Kembali dia mencari ke semua area Mutia Bakery dan teringat kalau sang istri sangat menyukai area pantry. Dan benar dugaannya, Mutia memang berada di sana. Mununggu pembuatan wedding cake pesanan nyonya Martha.


"Halo sayang, kok sudah sampai sini?" tanya Mutia sambil melihat jam di pergelangan tangannya. "Oh..sudah sore ternyata. Maaf. Terlalu asyik melihat mereka sampai lupa waktu"


Keesokan hari target yang diberikan oleh Sebastian benar-benar telah dilaksanakan oleh Dewa dan Dena. Dalam dua hari ini sangat menguji kesabaran Dena dan Dewa. Dewa mengirimkan sebuah pesan ke Sebastian. Kalau sepulangnya dari kota S mereka langsung menuju apartemen Sebastian.


Sebastian dan Mutia telah menunggu kedatangan Dewa dan juga Dena. "Langit mau ditemani bik Sumi dulu, atau main sendirian? Soalnya bunda sama Daddy mau ada keperluan dengan Om Dewa dan Aunty Dena" jelas Mutia.


"Mereka mau menikah Bun?" celetuk Langit yang melihat kebersamaan Dewa dan Dena hari ini.


"Sepertinya begitu Langit" imbuh Sebastian mengompori.

__ADS_1


"Yeeeeiiiiii, selamat Om selamat Aunty" Langit malah nampak bahagia. Padahal yang diberi ucapan selamat hanya bisa saling pandang.


Langit yang tak ingin ditemani bik Sumi, beranjak menuju kamarnya.


"Dena, Mba Ana gimana kabarnya?" tanya Mutia penasaran. "Seperti yang kita tahu sih kak, Mba Ana mengaku kalau dijebak. Dia mengaku kalau diberikan minum tanpa tahu kalau di dalamnya ada serbuk laknat. Sementara hasil tes, dia positif narkoba" jelas Dena.


"Alasan klise" tandas Dewa yang ikut mendengarkan. "Kita tunggu aja hasil release berikutnya, pasti akan berbeda" Dewa mengatakan analisanya.


"Kok bisa begitu???" tukas Dena.


"Bisa saja, lewat tes yang akan dilakukan bisa diketahui dia memakai narkoba baru-baru saja atau sudah lama memakai" jelas Dewa.


"Bisa ya begitu?" Dena tak percaya.


"Sudah-sudah nggak usah mikirin si manager itu. Wa, kamu laporkan hasil penyelidikanmu!!!"


"Sesuai email yang kau kirim tuan, aku melacak mulai dari sana. Di gudang banyak ditemukan catatan-catatan fiktif tentang keluar masuk bahan-bahan produksi. Jadi bahan yang diterima dari kantor pusat, sama bahan yang keluar untuk perbekalan produksi selisihnya lumayan banyak. Ada kerjasama terselubung antara kepala gudang dengan manager yang ada di sana. Sementara itu yang dapat saya simpulkan" Dewa mengakhiri laporannya.


Sebastian seperti mengingat-ingat sesuatu. "Dena, kamu tahu nama teman yang katanya menjebak manager itu?"


"Kok balik lagi ke si Ana?" tukas Mutia.


"Bentar sayang, kayak ada benang kusut di kasus ini" Sebastian nampak berpikir.


"Namanya Adrian tuan, seperti yang disebutkan di berita" imbuh Dena.


"Adrian...adrian...aku seperti tidak asing dengan nama itu. Tapi di mana?" Sebastian masih berusaha keras mengingat nama itu.


"Bukannya dia masih saudara jauh Nona Janetra yang pernah diperkenalkan dengan anda tuan. Bahkan dia pernah meminta bantuan untuk dipekerjakan oleh anda" sahut Dewa.


"Terus apa hubungannya dengan semua yang terjadi di cabang perusahaanku?" was-was Mutia.


"Sudah jangan kau pikirkan sayang. Aku yang akan mengatasi masalah ini" Sebastian mengelus puncak kepala istrinya.


Mau main-main lagi denganku ternyata" seringai tipis di bibir Sebastian.


"Dewa, Dena aku kira sudah cukup. Silahkan kalian pulang! Tapi kalau kalian mau kencan juga boleh" tutup Sebastian mengakhiri pembicaraan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


😊💝

__ADS_1


__ADS_2