WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 97


__ADS_3

Para lelaki dewasa yang berbeda usia itu membicarakan perihal Mutia sampai lupa kalau mereka semua belum makan malam.


Bunyi perut Sebastian lah yang mengingatkan kan hal itu.


"Ada yang demo tuh perutnya pah" celetuk Reno.


"Ha...ha...ayo makan. Sampai lupa" tuan Baskoro terkekeh.


Mereka bertiga keluar bersamaan dari ruang kerja. Saat berjalan keluar dan melewati ruang keluarga ketiga laki-laki itu menemukan masing-masing wanitanya sedang menangis sesenggukan.


"Ada apa ini? Kok menangis? Siapa yang berani membuat kalian sedih?" tanya Sebastian.


Sementara Reno dan tuan Baskoro berlalu saja melewati mereka, sudah hafal dengan kebiasaan wanitanya itu. Sebastian yang baru beberapa minggu bersama sang istri mungkin masih awam akan hal itu.


"Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis?" Sebastian mengulangi pertanyaannya.


Mutia masih sesenggukan. Karena tak mampu bersuara, telunjuknya mengarah ke layar televisi.


Sebastian menengok ke arah telunjuk Mutia. "Hah? Hanya karena itu?" heran Sebastian yang melihat sebuah adegan mengharukan di televisi itu.


"Sudah...sudah...ayo makan saja. Daripada melihat yang nggak jelas itu" Sebastian mengikuti langkah tuan Baskoro dan Reno ke meja makan.


Mama Cathleen, Catherine dan juga Mutia ikut ke meja makan juga.


Melihat hidangan yang ada di atas meja, membuat wanita hamil itu sampai menelan ludah beberapa kali.


Melihatnya Sebastian menawari sang istri, "Mau yang mana?"


Mutia menunjuk ke arah bebek goreng lengkap dengan sambal dan juga lalapan.


Mama Cathleen sengaja menghidangkan itu karena mendengar beberapa hari yang lalu Sebastian sangat menginginkan itu.


Setelah mengambilkan seporsi kecil nasi buat sang suami lengkap dengan lauk pauknya, dan juga sang putra. Mutia benar-benar mengambil bebek goreng yang telah didekatkan Sebastian di depannya.


"Kau nggak mau yang ini sayang?" Mutia menawari sang suami. Dijawab gelengan Sebastian


Mereka makan tanpa banyak suara. Semua mata tertuju ke arah bumil yang makan dengan lahap itu. Semoga saja tidak keluar habis ini, doa Sebastian dalam batin.


Tapi ternyata kenyataan kadang tak sesuai. Belum juga selesai makan, Mutia berlari ke arah toilet. Mutia kembali memuntahkan apa yang dia makan sebelumnya.


Sebastian menyusul dan memijat tengkuk sang istri dengan lembut dan dia bersihkan sisa muntahan yang berada di sudut bibir Mutia.


"Teh hangat ya?" kata Sebastian saat memapah sang istri untuk duduk lagi.


Sebastian benar-benar membuatkan segelas teh hangat untuk sang istri. Mama Cathleen yang melihatnya ikut senang. Putra tengilnya telah benar-benar berubah.

__ADS_1


"Makan lagi ya? Tadi kan sudah keluar semua" imbuh Sebastian. Mutia hanya menggeleng. Saat ini dia benar-benar tidak ingin makan yang ada di sana.


"Mau apa?" Sebastian seakan tahu kalau istrinya sudah tak minat lagi dengan menu yang ada di sana.


"Bakso seperti yang dibelikan Dewa waktu itu" celetuk Mutia.


"Hah? Apa masih buka?" Sebastian hanya bisa garuk kepala.


"Bakso yang lain aja ya?" tukas Sebastian lagi. Bakso kan rasa dan bentuknya juga hampir sama, pikir Sebastian.


"Nggak mau, aku ingin yang di depan parkir kantormu" tolak Mutia.


Bagaimana Mutia memaksa ingin makan bakso yang di sana. Padahal kan belum pernah melihat bentuk apalagi merasakannya, Sebastian membatin.


"Itu yang namanya ngidam Tian. Ayo lekas belikan" sela Reno.


"Ntar kalau nggak kesampaian, anakmu bisa ngeces lho" imbuhnya.


"Mana ada begitu. Dokter kok percaya begituan" sindir Sebastian.


"Ha...ha...dibilangin kok nggak percayaan" tukas Reno.


"Aku telpon Dewa aja lah, barangkali dia masih di kantor. Biar dia yang pesan" Sebastian hendak mengambil ponsel yang tertinggal di ruang kerja.


"Ha...ha...beratnya yang mau nambah bayi" ledekan Reno semakin menjadi. Alhasil cubitan Catherine sang istri didapatnya. "Suka sekali sih ngusilin adikku" tukasnya.


Sebastian bersungut mendengarnya.


Sebastian akhirnya berangkat sesuai permintaan sang istri. Tapi saat tiba di sana tak didapatinya abang tukang bakso yang biasa mangkal di situ.


"Pak, abang bakso yang di sini apa sudah pulang?" tanya Sebastian.


"Hari ini nggak jualan tuan. Dengar-dengar sih istrinya melahirkan di kampung" jelas tukang parkir yang jelas-jelas mengenal siapa yang sedang mengajaknya bicara itu.


"Matih gue. Bisa-bisa anak gue ileran seperti yang dibilang oleh Reno" gumam Sebastian.


"Tuan, ada perlu apa kok sampai mencari pak Kusnan?" tanyanya heran.


"Nggak kok pak, hanya ingin beli baksonya saja" ungkap Sebastian.


Tukang parkir itu ragu mau menawari sang tuan muda, karena sebetulnya pak Kusnan meninggalkan sisa dagangannya karena tadi buru-buru pulang kampung.


"Sayang, abang baksonya tutup. Dia pulang kampung, istrinya melahirkan" kata Sebastian menelpon. Suara nya pun terdengar oleh tukang parkir itu.


"Tuan, jadi baksonya buat istri?" sela tukang parkir itu. Sebastian mengiyakan dengan bahasa isyarat karena sedang menelpon Mutia.

__ADS_1


"Pak Kusnan tadi meninggalkan dagangannya begitu saja di sini. Maaf apa tuan berkenan?" tanya nya takut-takut.


Sebastian bagai menemukan harta karun. Karena ngidam sang istri akhirnya keturutan.


"Beneran pak, boleh ini kubawa?" tanya Sebastian meyakinkan. Tukang parkir itupun mengangguk saja.


"Pak, sampaikan pak Kusnan terima kasih banyak" Sebastian meninggalkan uang sejuta untuk bakso yang dibawanya.


"Tuan, ini kelebihan" tukas pak parkir. Tapi Sebastian keburu masuk dan melajukan mobilnya.


Bersamaan itu dari arah yang berlawanan mobil Dewa lewat perlahan. Tukang parkir itu mendekati samping mobil Dewa dan mengetuk kaca mobil yang tertutup.


"Ada apa pak?" tanya Dewa.


"Tuan Dewa, tadi tuan muda barusan dari sini. Anehnya kesini cuma mau beli baksonya pak Kusnan" cerita pak parkir.


"Begini tuan Dewa, tadi tuh tuan muda ninggalin uang yang banyak. Sisa uangnga kutitipkan anda saja ya" tukang parkir itu merasa tidak enak, karena uang yang diberikan Sebastian terlalu banyak.


"Pak, terima aja. Anggap aja itu rejeki putramu di rumah" Dewa menimpali.


"Sudah nggak usah terlalu dipikirkan. Mari pak" Dewa kembali menjalankan mobil keluar area parkir perusahaan.


Sebastian telah sampai mansion. Didapatinya sang istri yang telah tertidur ditemani sang mama.


"Kok udah tidur aja Mah?" tanya Sebastian.


"Iya, tadi Mutia menunggumu lumayan lama. Mungkin badannya terasa lemas abis muntah tadi" jelas mama.


Sebastian membangunkan sang istri, karena dia telah dapat makanan yang diinginkannya.


"Sayang, ini baksonya. Ayo makan" bisik pelan Sebastian.


Mutia yang sudah terlelap hanya menjawab dengan gelengan kepala saja. Sebastian membelalakkan mata. Dia yang telah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan bakso yang diminta, sampai di rumah hanya dijawab gelengan kepala sang istri.


"Harus sabar Tian, apalagi di perut istrimu ada calon bayi. Itu kan karena perbuatan kamu juga" kata mama Cathleen tak kuat menahan tawa melihat tampang Sebastian saat ini.


Sungguh seharian ini Sebastian kalang kabut oleh acara ngidam sang istri. Ini baru sehari. Besok-besok semoga tidak lagi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Minggu berlalu, senin pun datang #othor sibuk ngehalu, biar up segera datang 🤗🤗🤗


Salam sehat buat semua 💝

__ADS_1


__ADS_2