WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 36


__ADS_3

Sebastian mengabari Dewa untuk bersiap meluncur ke tempat terjadinya kecelakaan kereta itu, tanpa tau kalau sebenarnya Mutia telah turun sebelumnya.


Keberuntungan memihak mereka karena hujan mulai reda. Dewa menyiapkan sebuah helikopter yang telah siap di helicopter runway di atas gedung bangunan hotel itu. Sebastian pun bersiap, rona kecemasan sangat terlihat di wajahnya. "Dewa, sudah ada kabar terbaru belum?" tanya Sebastian berjalan cepat menuju lift. "Korban semakin bertambah Tuan" tukas Dewa singkat. "Evakuasi korban juga menyulitkan tuan, karena lokasi yang sulit dijangkau" imbuh Sebastian. "Mutia, Langit...semoga kalian baik-baik saja" doa Sebastian.


Sampai di lokasi kejadian pun heli tidak bisa turun karena tidak ada dataran yang bisa dipakai untuk landasan darurat. Akhirnya dengan seutas tali, Sebastian, Dewa dan juga yang lain turun. Langit yang mulai gelap, dan tanah yang basah akibat hujan yang baru reda menambah sulit menjangkau lokasi.


Di lokasi kecelakaaan, ternyata sudah ada beberapa tenaga sukarelawan yang datang untuk membantu mengevakuasi korban. Sebastian mulai mencari di antara korban yang telah dinyatakan meninggal, tapi tak menemukan kebaradaan Mutia dan Langit di sana. Ada helaan nafas yang telihat di wajahnya. "Gimana Tuan, di sebelah sini aku tak melihat nyonya Mutia dan juga Langit" ucap Dewa. "Aku juga tak menemukannya" tukas Sebastian. "Ayo kita lihat di gerbong lain" ajak Dewa. Kali ini Sebastian mengikuti permintaan Dewa. Sementara anak buah yang lain Dewa perintahkan untuk membantu evakuasi. Sebastian dan Dewa menelusur satu demi satu rangkaian kereta itu, tapi sama sekali belum menemukan keberadaan Mutia dan Langit.


Sebastian mengambil ponsel di sakunya, iseng-iseng dia tekan kontak Mutia. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif" terdengar jawaban panggilannya. "Di mana kau Mutia?" gumamnya.


Tinggal gerbong terakhir yang belum mereka telusuri. "Semoga saja tidak ada kejadian yang tak diinginkan" gumam Sebastian. Gerbong terakhir adalah gerbong terparah kerusakannya, gerbong terseret jauh dari lintasan. Saat Sebastian masuk, banyak orang yang merintih meminta tolong. Sebastian menelisik satu persatu penumpang di sana. Saat tiba di penghujung gerbong, dilihatnya sosok wanita dengan postur dan potongan rambut seperti wanita yang dicarinya. Sosok yang nampak dari belakang sedang memeluk putranya, seakan melindungi sang putra. Deg, jantung Sebastian seakan berhenti berdetak. "Mutia...." panggilnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Tidak ada respon, batin Sebastian. "Apa dia pingsan?" gumam Sebastian. Dengan cepat dia balikkan tubuh wanita itu. Sebastian terlihat menghela nafas dalam, ternyata bukan dia. Terus di mana kamu Mutia??? Pertanyaan itu terus ada dalam benak Sebastian. Dewa yang mengkuti Sebastian juga tidak menemukan keberadaan Mutia.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan nyonya Mutia sudah turun di stasiun sebelumnya tuan?" celetuk Dewa tak sengaja. "Otakmu encer juga Wa" puji Sebastian. "Wa, tetep perintahkan anggota kita untuk membantu evakuasi. Kita balik ke kota A" perintah Sebastian. Dengan naik heli, Sebastian balik ke kota A. Tapi tidak langsung ke hotel, Sebastian menuju stasiun yang ada di kota itu.


Kepada petugas yang ada di sana, Dewa meminta rekaman CCTV yang terpasang di stasiun itu. Dengan sejuta alasan yang diutarakan, akhirnya Dewa diijinkan melihat rekaman di sana.


"Stop, ulang rekaman di menit ke sebelas" ujar Sebastian tiba-tiba. Tepat di menit itu terlihat di layar, Mutia sedang menggandeng Langit sementara tangan yang satunya membawa koper. "Ketemu..." ucap Sebastian dengan wajah sumringah daripada tadi.


"Iya Tuan, tapi itu sudah empat jam yang lalu. Sekarang ke mana nyonya Mutia?" tanya bodoh Dewa. "Tugasmu mencarinya" sergah Sebastian sambil melangkah keluar lobi stasiun.


Sebastian yang sudah terlanjur memakai heli, bahkan dari stasiun ke hotel pun dia juga skalian naik helikopter kembali. Orang kaya mah bebas. Orang-orang yang memandang takjub pun seakan tak dia pedulikan. "Wa, kita kembali dulu. Perintahkan anak buahmu yang lain, untuk datang ke lokasi kecelakaan. Bantu sampai selesai" ujar Sebastian. Dewa mengangguk.


Helikopter mendarat dengan sempurna. Ternyata saat itu Langit melihatnya. "Bun...bunda...lihat itu. Ada heli" Langit memanggil bundanya. Mutia memposisikan dirinya di belakang Langit dan ikut melihatnya. "Itu pasti orang yang sangat kaya dan sibuk Langit, sampai ke mana-mana bawa heli" jelas Mutia. Ternyata memang benar-benar ada ya Sultan di dunia nyata, batin Mutia. Wah, nggak tau aja kalian kalau yang turun di sana lagi sibuk mencari keberadaan kalian berdua. "Aku juga ingin naik helikopter seperti itu bun, pasti keren" sela Langit saat Mutia melamun. "Eh...kau bilang apa Langit?" Mutia tergagap. Langit pun mengulang perkataannya bahwa dirinya ingin naik helikopter. Mutia hanya menggaruk kepalanya, karena tidak tau musti menjawab apa.

__ADS_1


Sementara Sebastian diiringi Dewa berjalan ke kamarnya, "Wa, kau selesaikan tugasmu malam ini" perintah Sebastian sebelum masuk kamarnya. Dewa mengangguk mengikuti perintah Sebastian. Sampai di kamar Sebastian mencoba mendial kembali nomor Mutia, tapi tetap tidak ada jawaban. "Apa kau berniat pergi dariku Mutia? Setelah aku tau semuanya, tak akan kubiarkan kau dan anakku jauh dariku" janji Sebastian dalam hati.


Keesokan hari berita tentang bangkrutnya perusahaan dari keluarga Supranoto menjadi trending topik. Dewa benar-benar melakukan apa yang diperintahkan oleh Sebastian. Sementara itu perusahaan Blue Sky semakin bersinar, karena aksi sang CEO yang membantu mengevakuasi korban-korban kecelakaan kereta. Entah siapa yang memvideokan hal itu, tapi aksi Sebastian sangat jelas terlihat di sana. Membuat reputasi Blue Sky yang sudah berada di puncak menjadi semakin menjadi. Bahkan karena aksi heroik itu, Sebastian diundang langsung oleh perusahaan perkereta apian untuk menerima penghargaan. "Mereka tidak tau saja, kalau niatku awalnya bagaimana..." gumam Sebastian. "He..he...niat awalnya karena faktor kecemasan kan Tuan?" tukas Dewa. "Cemas ditinggal seseorang" lanjut Dewa menggoda bos nya.


"Wa, ketemu belum keberadaan Mutia?" tanya Sebastian serius mengalihkan pembicaraan Dewa. Dalam hati Dewa, benar-benar ni bos nya. Tidak kasih waktu istirahat barang sebentar. Bahkan sampai pagi Dewa lembur untuk memporak porandakan Supranoto Grub. Dewa menghela nafas yang terasa berat. "Mau kutransfer bonusmu sekarang atau kutunda bulan depan?" tegas Sebastian. Mendengar kata bonus diucapkan oleh sang bos, Dewa dengan sigap menjawab "Siap Tuan". Dewa dengan sigap melacak keberadaan Mutia melalui nomer ponsel Mutia. Entah bagaimana cara Dewa menelusuri nya, "Ketemu tuan" ujar Dewa saat menekan tombol enter di laptopnya. "Di mana?" celetuk Sebastian. "Nggak jauh dari tempat ini" tukas Dewa dengan senyum khasnya


Sebastian mengambil ponsel, karena Dewa telah mengirimkan lokasi Mutia dan juga Langit. "Bagaimana kau tau, kalau ponselnya Mutia saja mati" Sebastian memperhatikan pesan Dewa. "Siapa bilang mati, coba aja kau hubungi Tuan!!" jelas Dewa. Sebastian mencoba melakukan apa yang dibilang Dewa, dan mendial nomer Mutia. Terdengar nada sambung ponsel yang aktif. "Kalau gini, aku sendiri juga bisa Wa" tukas Sebastian senewen. "Halo Daddy" terdengar suara anak kecil yang sangat dirindukannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued

__ADS_1


__ADS_2