
Ponsel Sebastian berdering, kala mereka mau keluar dari ruang pemeriksaan.
"Tuan, hanya mau memberitahu kalau nona Sarah barusan ngabari kalau tuan Supranoto mengacak-acak panti untuk mencari keberadaan Opa Winardi" kata Dewa tanpa titik koma.
Dahi Sebastian nampak berkerut.
"Sepertinya mereka mulai bertindak anarkis Wa? Apa dia tahu kalau Opa sedang bersama kita?" tanya Sebastian.
"Nona Sarah tak memberitahu. Tapi penjaga gerbang depan tak sengaja bilang keberadaan Opa Winardi. Dia bilang Opa keluar kota bersama nyonya karena diancam oleh Supranoto" jelas Dewa.
"Sial. Kalau begitu keselamatan keluargaku yang terancam sekarang" gerutu Sebastian.
"Dewa, kau tau kan apa yang harus kau lakukan?" kata Sebastian yang juga perintah bagi Dewa.
"Siap tuan" Dewa menutup panggilan telpon ke Sebastian.
Supranoto pasti sekarang sedang kebingungan. Sumber kehidupannya bahkan telah diambil alih semua oleh Sebastian.
Perusahaan yang dipegang olehnya telah berganti kepemilikan. Sementara Supranoto belum tahu siapa yang mengambil alih perusahaannya.
Karena Sebastian mengakuisisi perusahaan milik Opa Winardi tidak semata-mata memakai nama Blue Sky, tapi memakai nama anak perusahaan yang tidak terlalu mempunyai nama.
Supranoto pasti tidak mengira kalau itu semua ulah Sebastian.
Sebastian tak ingin langsung membuat keluarga itu langsung di penjara. Kehidupan penjara terlalu enak buat mereka bertiga. Mereka harus merasakan bagaimana susahnya hidup di jalanan. Batin Sebastian geram.
"Ada apa sayang?" Mutia menghampiri sang suami yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Nggak kok sayang. Ini Dewa sedang melaporkan proyek yang sedang kukerjakan di kota A" jelas Sebastian dengan sedikit ada kebohongan di sana.
Sebastian tak ingin istrinya banyak memikirkan hal-hal berat yang membuat dirinya cemas.
"Sayang, gimana kalau kita ajak Opa ke apartemen untuk beberapa hari?" tanya Sebastian menunggu persetujuan istrinya.
Tanpa memberitahu kalau sebenarnya keselamatan Opa terancam.
"Beneran?" Mutia nampak antusias.
Tian mengangguk dan mengelus puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Tanya Opa dulu aja" sela Mutia.
"Opa" panggil Mutia menghampiri tuan Winardi yang sedang bergurau bersama Langit.
__ADS_1
"Ada apa Nak?" Opa mendongak menatap Mutia yang mendekat ke arah dirinya.
Langit yang dikesampingkan oleh Opa buyutnya merajuk.
"Opa, ayo pulang. Aku masih ingin main sama Opa" sungut Langit membuat Opa Winardi gemas dan mencubit pipi Langit pelan.
"Idih bikin gemas aja cicit Opa" celetuk tuan Winardi.
Mutia memanfaatkan momen itu untuk mengajak Opa menginap di apartemen mereka.
"Opa, bagaimana kalau menginap di rumah kita aja. Kasihan tuh Langit belum puas seharian bersama Opa" kata Mutia dengan menjadikan Langit sebagai tameng.
"Bener Opa" tukas Langit dengan semangat.
"Apa nggak merepotkan kalian???" tanya Opa.
"Nggak ada yang direpotkan Opa" sela Sebastian menghampiri mereka bertiga.
"Yang ada kita malah senang kalau Opa mau tinggal bersama kami" imbuh Sebastian.
Akhirnya dengan alasan Langit, Sebastian dan Mutia berhasil membujuk Opa Winardi untuk tinggal bersama mereka walau untuk beberapa hari ini saja.
Urusan beberapa hari ke depan pikirkan nanti saja, batin Sebastian. Yang penting sekarang Opa Winardi bersedia dulu tinggal bersama mereka.
"Nggak usah Opa, biar Dewa aja yang menyiapkan. Dia sudah terlalu banyak ambil gaji buta selama ini" ucap Sebastian dengan bercanda.
"Jangan, kasihan nak Dewa. Karena Opa, Dewa yang direpotkan" tolak Opa Winardi.
"Nggak apa-apa Opa, itu juga sudah tugas Dewa" imbuh Sebastian menjelaskan.
"Iya Opa. Uncle Dewa pasti akan menurut kalau diperintah Daddy" celetuk bocah kecil itu menggemaskan.
"He...he...." Sebastian hanya terkekeh mendengar ucapan anaknya. Sekarang Langit seakan menjadi fotocopian dirinya.
Kakek buyut dan cicitnya itu saling bergandengan saat keluar dari klinik dokter Abraham.
Sebastian tak melihat kalau ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi hangat keluarganya saat itu.
Siapa lagi kalau bukan Janetra. Dia yang sejatinya ingin memeriksakan kehamilan yang sudah trimester akhir tak sengaja melihat sepasang suami istri yang tampak sangat bahagia itu keluar dari ruang pemeriksaan.
Dia mengepalkan kuat jari jemarinya. Dia juga melihat Opa Baksono Winardi sedang bersama mereka.
"Awas saja kalian" gerutu Janetra.
__ADS_1
Nyonya Martha, "Ayo kita masuk. Sudah dipanggil tuh".
"Oh iya Mah" jawab Janetra dan melangkah ke arah ruang pemeriksaan.
Tak lama mereka telah keluar dari ruang pemeriksaan.
Saat akan membayar di admin, "Maaf nyonya, kartu anda tak bisa" ucapnya.
"Hah? Coba ulang lagi!" suruh Janetra tak percaya.
Petugas admin itupun mengulang lagi apa yang dikatakan Janetra. Hasilnya pun tetap sama.
Bahkan Janetra juga mengganti dengan kartu yang lain, tetap saja tidak bisa digunakan.
"Mah, bagaimana ini? Aku nggak bawa tunai" ujar Janetra kebingungan.
"Aku juga nggak bawa. Bagaimana sih kamu ini" nyonya Martha malah memarahi Janetra.
Mereka berdua malah berdebat sendiri.
"Maaf nyonya, terus ini gimana?" sela petugas admin itu.
Janetra dibuat bingung akhirnya.
Prof. Abraham yang barusan keluar setelah memeriksa pasien terakhir, menghampiri petugas admin.
"Ada apa?" tanya Abraham.
"Maaf tuan, tapi nyonya ini tidak mau membayar biaya periksa" kata karyawannya.
"Bukannya tak mau membayar. Aku nggak tau kalau semua kartuku terblokir" ujar Janetra ketus.
"Tapi anda kan juga tidak punya tunai nyonya?" sela karyawan klinik itu membuat Janetra semakin tersulut emosinya.
"Sudah...sudah...free kan aja" ujar prof. Abraham menengahi.
Prof Abraham meninggalkan tempat itu, tapi masih bisa mendengar ucapan Janetra. "Tuh dokter Abraham aja menggratiskan, kalian aja yang suka ribut" tukasnya meninggalkan klinik.
Prof Abraham hanya tersenyum simpul. "Semua pasti ulahmu Tian" gumamnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝