WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 90


__ADS_3

Kalau sampai ikut, bisa gagal rencanaku. Pikir Mutia. Kamu nggak tau saja Mutia, kalau akan ada kejutan yang lebih besar buat kamu.


Mutia membeli beberapa alat tes kehamilan dan langsung disimpannya dengan rapi di dalam tas.


"Sudah yank?" tanya Sebastian saat sang istri telah kembali.


"Sudah. Yuk kita pulang" ajak Mutia.


"Bunda, kapan adiknya datang?" celetuk Langit tiba-tiba.


"He...he...Langit mau dipanggil kakak?" kekeh Mutia.


"Ya dong bun" tukas Langit.


"Kalau gitu mulai sekarang bunda sama Daddy akan manggil Langit dengan kakak. Gimana?" imbuh Mutia.


"Tapi kan adiknya belum keluar bun" tolak Langit.


"Langit berdoa, Daddy berusaha. Ya nggak bun?" sela Sebastian.


Mutia menatap Sebastian, sementara Sebastian hanya tertawa saja.


"Sayang, seharian besok nggak usah ke Mutia Bakery ya? Aku ingin kau temani seharian" pinta Sebastian.


"Langit juga" sela Langit tak mau kalah dengan sang Daddy.


"Loh? Kok gitu?" seloroh Mutia.


"Daddy sama aku besok kan ulang tahun Bun. Bunda nggak lupa kan?" kata Langit penuh penekanan.


"He...he...kira-kira bunda harus jawab apa?" gurau Mutia sambil menoleh ke sang anak yang duduk di belakang.


"Bunda nggak boleh lupa. Kalau lupa sekarang Langit ingetin. Kadonya cukup bunda nemenin Langit aja besok" pintanya.


"Aku juga" sergah Sebastian.


"Ih Daddy masak nggak mau ngalah sama anaknya sih?" Langit manyun.


"Kan Langit sudah sama bunda waktu ulang tahun sebelumnya. Daddy baru ini loh ada bunda" Sebastian beralasan. Langit tambah manyun lagi.


"Bagaimana ya, tapi bunda besok full kerjaan" Mutia nampak serius berpikir.


"Yaaaaaahhhhh...Bunda nggak asyik" tukas Sebastian dan Langit bersamaan.


*****


Dan beneran yang terjadi, keesokannya Mutia dikungkung oleh dua lelaki kesayangan yang berbeda usia.


Mereka berdua tak habis-habisnya ngerjain Mutia yang dengan sengaja tak mengucapkan ulang tahun buat mereka berdua.

__ADS_1


Dimulai pagi-pagi buta, Sebastian telah meminta jatahnya bahkan sampai dua kali. Mereka berdua telah bertukar peluh. "Sayang, inimu kok tambah kenceng aja sih?" tatap matanya mengarah ke dada Mutia yang hanya tertutup selimut.


"Boleh kamu di atas?" lanjut Sebastian.


"Lagi?" bahkan nafasnya aja masih ngos-ngosan malah diminta memimpin permainan.


"Sudah dua kali lho yank?" pertegas Mutia.


"Tapi aku ingin itu?" ucap Sebastian ke arah yang tadi.


Sebastian membantu Mutia untuk menggerakkan pinggul, sementara bibirnya tak mau bergeser dari benda kembar yang semakin kencang itu.


Terdengar lenguh4n mereka yang entah keberapa kali. Mutia ambruk di samping sang suami.


"Makasih" sambil bibirnya menempel di kening sang istri.


"Selamat ulang tahun suamiku. All the best on your special day. I love you" Mutia memeluk sang suami yang masing-masing dalam keadaan polos itu.


"Makasih sudah menjadi kado terindah untukku di tahun ini" Sebastian mengeratkan pelukannya.


Mutia merasakan mual yang luar biasa saat Sebastian tertidur. Dia geser lengan sang suami perlahan, agar tak mengganggu tidurnya. Secepatnya dia berlari ke kamar mandi. Semua isi perutnya telah habis tak bersisa.


Mutia baru teringat akan alat tes kehamilan yang dibelinya kemarin.


Dipakenya alat itu, dengan harap-harap cemas dia celupkan alat itu ke dalam air seni yang ditampung sebelumnya.


Mutia segera membersihkan diri dan bersiap untuk membangunkan Sebastian.


"Dena, lekas kau bawa kue-kue yang kubuat kemarin" kirim pesan Mutia sebelum membangunkan sang suami.


"Sayang, sayang...lekaslah mandi" Mutia menggoyang tubuh sang suami yang masih terlelap. Dia dekati wajah sang suami, niatnya hendak menoel hidung mancung sang suami. Tapi ternyata Mutia kalah cepat dengan gerakan tangan Sebastian. Mutia terjerembab kembali dalam pelukan sang suami.


"Segarnya istriku. Main lagi yukk" gurau Sebastian.


"Idih, nggak mau ah" Mutia mencoba mengurai pelukan sang suami. Tapi tiba-tiba saja Sebastian berlari ke kamar mandi dan seperti halnya Mutia dia juga merasakan mual yang luar biasa.


Mutia menyusul sang suami ke kamar mandi. "Sayang, kamu kenapa?" Mutia cemas dengan keadaan sang suami yang lebih lemas daripada dirinya. "Nggak tau, tiba-tiba saja mual banget" ucap Sebastian yang terduduk di closet.


"Kubuatkan teh hangat ya, untuk ngurangin mual" Mutia menawari dan Sebastian mengangguk pasrah.


"Ayo balik kamar dulu" Mutia memakaikan kimono mandi untuk sang suami.


Drama mual telah selesai untuk pagi ini.


Selepas mandi, saat mereka bertiga duduk menikmati sarapan pagi. Mutia mengambil dua buah kue yang beda karakter. Satu untuk sang putra dan satu untuk suami tercinta.


"Selamat ulang tahun para kesayangan bunda, wiss you all the best" ucapan dan doa Mutia untuk sang suami dan juga sang putra.


Kedua laki-laki yang sangat disayanginya itu memeluknya bersamaan.

__ADS_1


"Badan bunda kegencet nih, jadi susah nafas" canda Mutia. Barulah keduanya mengurai pelukannya masing-masing.


"Makasih bunda" cium Langit ke sang bunda.


"Makasih sayang" demikian juga Sebastian melakukan hal yang sama seperti Langit.


Langit dan Sebastian meniup kue masing-masing. Potongan pertama mereka bahkan sama-sama dipersembahkan untuk istri dan bundanya. Awal pagi yang indah buat keluarga kecil itu.


Tak lupa Mutia menyerahkan kado yang telah dipersiapkannya.


"Maaf hanya ini yang bunda bisa berikan. Bunda belum bisa nyiapkan sebuah pesta untuk kalian berdua" jelas Mutia.


Langit membuka kado dengan penuh antusias. Sama halnya Sebastian.


Langit tertawa senang dengan sebuah kado berupa sebuah tab dengan merk terkenal. "Makasih bun".


"Langit, ingat boleh buka hanya Sabtu Minggu" Mutia mengingatkan sang putra.


Langit pun mengangguk pasrah.


Sementara Sebastian hanya melongo melihat kado dari sang istri. Terbungkus kotak besar indah, tapi isinya hanya sebuah stik dengan dua garis merah di tengah. Sebastian sendiri tidak tahu itu apa dan gunanya untuk apa.


"Sayang, ini apaan?" tanyanya penasaran.


Terdengar bel pintu berbunyi, menandakan ada tamu yang datang.


Dena, Dewa dan bik Sumi datang bersamaan, bahkan mereka menggunakan baju dan warna yang sama.


Mereka mengucapkan selamat ulang tahun untuk bos besar dan bos kecil.


"Tuan, sedari tadi kok manyun aja?" celetuk Dewa.


"Lihat tuh kadoku, Langit aja dapat tab terbaru. Aku hanya dapat begituan" sungut Sebastian menunjuk box kadonya.


Dewa sedikit melirik isinya. Sementara hanya tersenyum menanggapi tanpa mau menjelaskan.


Dena pun ikut penasaran dibuatnya.


"Hah, beneran kak?" tanya Dena ke arah Mutia. Mutia mengangguk.


"Selamat kakakku yang cantik dan baik hati. Semoga dilancarkan semuanya" Dena memeluk Mutia, demikian juga bik Sumi.


"Ada apaan ini. Aku dan Langit yang ulang tahun, kenapa istriku juga mendapat ucapan" sergah Sebastian.


Dewa hanya menepuk jidatnya, kenapa sang tuan pagi ini bego amat.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading πŸ’

__ADS_1


__ADS_2