
Apa kau akan percaya kalau sekarang aku bilang bahwa aku mencintaimu? Rasa cinta itu mulai tumbuh, saat aku melihat bagaimana kau mencintai Langit dengan sepenuh hati. Padahal kau tau seberapa bejat laki-laki yang tega merusakmu. Bahkan kau dengan berbesar hati menerima kehadiran laki-laki ini untuk menyayangi putramu yang telah kau besarkan dengan susah payah. Bahkan kau begitu percaya padaku bahwa aku tak akan merebut Langit darimu" ucap haru Sebastian yang mulai menitikkan air mata.
"Tian, beri aku waktu untuk berpikir. Terima kasih atas semuanya. Aku sudah memaafkanmu semenjak dulu, meski kita sekiranya tak dipertemukan.Tapi bagiku Langit lah prioritas utamaku saat ini. Meski kau datang belakangan, setelah aku melalui masa-masa kepahitan. Akan sangat picik sekiranya aku tidak memberi kesempatan Langit untuk lebih mengenal papa kandungnya" panjang lebar Mutia berkata.
"Langit yang begitu mudah membuka hatinya untukmu, Langit yang sangat menyayangimu. Bahkan sejak mengenalmu Langit tidak pernah lagi mimpi buruk yang membuatnya mengigau hampir tiap malam. Itu juga yang membuatku percaya bahwa kau orang yang baik. Bahkan bila kau mau dengan kuasamu itu, kau bisa dengan mudah merebut Langit dariku, tapi tidak pernah kau lakukan" tandas Mutia.
"Tapi Langit juga membutuhkan orang tua lengkap Mutia. Beri kesempatan juga padaku untuk membuktikan rasa cintaku padamu" tukas Sebastian. Karena capek berdiri, mereka berdua akhirnya terduduk di hamparan luas itu.
Acara romantis yang disiapkan oleh Dewa sebelumnya, sungguh tak berguna. Bahkan orang-orang suruhan Dewa untuk membawa rangkaian huruf mulai selonjoran di area perkebunan teh yang agak jauh lokasinya dari keberadaan Sebastian dan Mutia. Memang Sebastian meminta Dewa, menjelang keberangkatannya ke kota A untuk menyiapkan semua ini. Tapi sayang lamarannya mesthi ketunda menunggu kepastian jawaban dari Mutia.
"Sampai kapan aku menunggu mu? Kita sama-sama sudah dewasa. Semakin cepat kau putuskan, semakin baik buat Langit dan juga buatku he..he.." celetuk Sebastian saat mereka sudah duduk selonjor bersama. Sudah tidak ada gurat kesedihan lagi di wajahnya. "Hhmmm, bukan ku menolakmu Tian. Tapi bagaimana ya..aku juga bingung dengan perasaanku" tukas Mutia. Meski sudah dewasa, Mutia bahkan tidak pernah mengalami berpacaran. Saat kuliah dengan teman mayoritas wanita dan selepas pulang kuliah juga sibuk bekerja. Mutia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal lain apalagi untuk berpacaran. Mana sempat.
__ADS_1
"Atau kau jangan-jangan bingung dengan kalimat apa akan menerimaku???" gurau Sebastian. Dia kalau nebak suka asal. Tapi benar. Gerutu Mutia dalam hatinya. "Benar tidak?" tanya Sebastian lagi.
"Mutia, aku tau loh kamu tidak pernah pacaran" imbuh Sebastian. "Hah, pasti kau menyelidikiku ya???" Mutia bersungut. "Ya pastilah. Aku kan juga ingin tau kisahmu setelah aku tau kau bunda anakku" tandas Sebastian. "Aku mau nanya, seumpama aku wanita nakal bagaimana?" tanya balik Mutia. Sebastian nampak berpikir, "Hhmmm, wanita nakal pun seumpama masih mempertahankan bayi nya dan menyayanginya tulus. Pasti masih ada sisi baik di hatinya. Beda lagi kalau kau gugurkan atau kau buang bayimu setelah lahir, itu baru deskripsi nakal yang sesungguhnya. Itu kalau menurutku sih, yang lain silahkan aja dengan pandangan masing-masing. Mau tau kenapa aku yakin kalau kau wanita baik?" tanya Sebastian membuat Mutia mengangguk penasaran. "Karena aku yakin, aku yang pertama buatmu. Benar kan???" goda Sebastian. Semburat merah nampak di pipi Mutia. "Bahkan aku masih teringat dengan jelas rasa sakitnya" tukas Mutia. "Aku minta maaf untuk itu. Semua di luar kendaliku" ucap tulus Sebastian.
"Mutia, kuulangi lagi pertanyaanku. Berapa lama aku harus menunggu keputusanmu" tanya ulang Sebastian. "Hhmmm bagaimana ya? Benar apa yang kau katakan tadi. Aku malu untuk menjawabnya. Kalau kukatakan iya sekarang, kok aku seperti wanita yang gampang sekali menerima cinta seseorang. Tapi kalau kujawab tidak, tapi aku juga suka padamu" ucap Mutia dengan rasa malu nggak ketulungan. Mutia menunduk menyembunyikan wajahnya.
Sementara Sebastian masih menelaah kata demi kata yang diucapkan Mutia. Saat tersadar, "Jadi kau terima? Benar kau terima?" Sebastian menegaskan kembali jawaban Mutia. Tidak ada jawaban, yang ada hanya anggukan kepala Mutia.
Rencana awal jika Mutia menerima lamaran saat tulisan will you marry me terpampang, Sebastian disuruh oleh Dewa untuk menyiapkan sebuah cincin untuk Mutia. Persis adegan sinetron Dewa mengajarkan Sebastian saat itu. Sebastian seolah-seolah berjongkok untuk menyerahkan cincin. Bahkan Sebastian telah latihan untuk adegan itu..he..he... Tapi rencana kadang tak sesuai realita. Mutia menerima lamaran Sebastian saat mereka telah ngobrol lama dan duduk selonjoran di hamparan rumput yang luas itu tak ada adegan romantisnya.
Ternyata hati dan reaksi tubuh Mutia berbanding terbalik saat berpelukan dengan Sebastian. Tubuh Mutia bergetar hebat saat itu. Reaksi ketakutan yang ingin dihilangkan oleh Mutia kembali mengular dalam tubuhnya. Kejadian malam itu begitu teringat jelas dalam memorinya, bagaimana tubuh laki-laki yang mengungkung dan memaksanya melakukan hubungan suami istri. Bahkan aroma laki-laki itu juga masih terekam dalam otaknya. Sebastian melonggarkan pelukannya, "Maafkan aku" selorohnya pelan. Mutia menangis, ternyata trauma itu begitu dalam tertancap dalam hatinya.
__ADS_1
"Kita pulang saja" utas Mutia mengajak Sebastian.
"Hhmmmm" masih ada hawa keheningan di antara mereka berdua. "Sebaiknya kau ganti parfummu" celetuk Mutia saat mereka tengah berjalan menyusuri perkebunan teh di sana. Sebastian berpikir, kok nyuruh ganti parfum. Apa hubungannya? Bahkan parfum favoritku mulai kuliah dulu. Sebastian membau baju bahkan ketiaknya, takut ada yang salah. Mutia mulai bisa tersenyum melihatnya. "Aku nggak suka baunya, mengingatkanku pada laki-laki yang telah tega padaku malam itu" jelas Mutia. "Dan itu aku !!!!!" tunjuk Sebastian ke arah dirinya sendiri. "Iya...aku tau. Nggak usah dijelaskan lagi. Gantilah parfummu" pinta Mutia lagi. "Baik nyonya. Siap laksanakan" Sebastian patuh seperti Langit kalau disuruh makan ayam goreng...he...he....
'Kruk...kruk....bunyi perut Mutia.."Kayaknya ada yang lapar?" goda Sebastian. "Banget" jawab Mutia tanpa ada jaimnya kali ini. Sebastian kaget juga melihatnya. Kalau biasanya wanita yang berhadapan dengan dirinya, akan berusaha menjaga image. Tapi tidak berlaku untuk Mutia. "Mampir di sebelah sana aja!!!" ajak Sebastian. Dan duduklah mereka di sana di sebuah kedai kecil di area perkebunan teh itu. Sebenarnya Sebastian tadi hanya mencoba saja mengajak di sebuah warung kecil itu, tak disangka Mutia langsung menyetujuinya.
Tanpa menunggu ditawari oleh Sebastian, Mutia pesan menu yang diiginkan. "Pak mie cup instan rasa soto dua sama teh panas satu" pesan nya. "Kok teh panasnya cuma satu?" toleh Sebastian. "Itu semua untukku. Kamu pesen aja sendiri" jawab Mutia. "Hah...???" Sebastian bengong. "Habis???" tanyanya tak percaya. "Habislah lah, sapa suruh ngajak ke tempat seperti ini. Sudah dingin, jadi bawaannya lapar" Mutia menggosok-ngosok telapak tangannya untuk mengurangi hawa dingin di tubuhnya. Mana ada persiapan baju hangat untuk acara dadakan seperti ini. Sebastian menggenggam erat telapak tangan itu dan Mutia mendiamkannya. Ada rasa nyaman mengalir dalam tubuh Mutia, saat genggaman tangan itu semakin erat. "Pak, aku samakan aja dengan istriku" celetuk Sebastian dengan pede yang tinggi. Gantian Mutia yang bengong. Istri???? Batin Mutia.
Mutia dengan lahap memakan mie yang telah diseduh itu. Bahkan uap panasnya masih mengepul. "Pelan-pelan, masih panas tuh" ucap Sebastian. "Hmmm...enaknya. Sudah lama sekali nggak makan ini" gumam Mutia. Sebastian menoleh, "Kok bisa??" penasaran juga Sebastian. "Mana aku berani makan di depan Langit. Langit tak kuperbolehkan makanan instan seperti ini" tandas Mutia. "Ooooooo..." Sebastian menjawab singkat. Padahal Sebastian sendiri juga baru kali ini makan mie instan seperti ini. Rasanya aneh menurut Sebastian. Tapi nggak apa-apalah daripada kelaparan...he...he...
Mereka berdua telah berada dalam mobil yang sama saat mereka berangkat ke area pegunungan tadi. Mutia bahkan dengan santainya bersendawa, "Maaf...maaf..." ucapnya. Sebastian hanya geleng kepala saja. Kesan pertama sebagai wanita anggun dan elegan entah menguap kemana.
__ADS_1
"Kita ke mansion papa. Langit dan Bintang sudah berada di sana bersama kak Catherine" ajak Sebastian. Tak ada sahutan. Sebastian menoleh, "Hmmm tidur rupanya" gumam Sebastian. Dia tepikan mobilnya, Sebastian menyelimuti Mutia dengan jas nya dan kembali melajukan kendaraannya.
to be continued, happy reading