WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 129


__ADS_3

Tuan Baskoro dan semua yang di sana menatap Sebastian. Menunggu penjelasan selanjutnya.


"Apa arti tatapan kalian?" Sebastian memandangi orang yang di sana satu persatu.


Sungguh kalau bersama keluarga, ketengilannya tak ada yang berubah.


"Dewa melaporkan apa?" tanya tuan Baskoro.


"Ooohhhh itu?" sahut Sebastian.


Semua masih menunggu Sebastian bicara.


"Tian, ayolah!!" mama Cathleen sampai gemas dibuatnya.


"He...he...sabar dong Mah" Sebastian terkekeh.


Sebastian pun menceritakan jalan sidang kasus Frans dan anak buahnya.


Mereka semua lega mendengar keputusan hakim.


"Tian, terus apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Reno.


"Mikirnya besok aja, aku mau mandi" jawab Sebastian sekenanya. Membuat semua yang di sana merasakan sebal yang luar biasa.


Sebastian menggandeng Mutia, tanpa memperdulikan yang lain.


Dan seperti biasa, kali ini semua menginap di mansion Tuan Baskoro. Daripada kena omelan mama Cathleen jikalau memaksakan pulang.


Langit dan Bintang bahkan meminta tidur bersama.


Sebastian dan Reno juga ikut menemani mereka saat akan tidur.


Bahkan bukan Langit dan Bintang lagi yang bermain, CEO Blue Sky dan dokter spesialis bedah jantung itu malah yang sibuk saling beraksi memainkan sebuah game online.


"Dad?" panggil Langit.


"Papah" panggil Bintang.


"Kalian berisik" celetuk kedua anak kecil itu bersamaan. Membuat Sebastian dan Reno hanya saling pandang.


"Kita mau tidur" sungut Langit.


"Daddy sama papa Reno main di luar aja" sahut Bintang menimpali.


Sebastian menggaruk kepala yang tak gatal, begini rasanya diusir ya...he...he...


Reno dan Sebastian berjalan beriringan keluar dadi kamar anak-anak.


"Emang enak diusir anak sendiri???" ledek Catherine. Terlihat Mutia menahan tawa di belakang Catherine.


.


"Sayang mau pulang apartemen atau sama mama di sini?" Sebastian menawari sang istri saat dia mau berangkat kerja.

__ADS_1


Dewa sudah menunggunya di depan mansion.


"Boleh aku ke Opa Winardi?" Ijin Mutia menunggu persetujuan sang suami.


Sebastian berpikir sejenak, bukannya tak membolehkan. Tapi keamanan Mutia dan Opa menjadi prioritasnya saat ini.


"Sayang, gimana kalau nunggu aku longgar aja. Kalau kita sering kesana, takutnya membuat keluarga Supranoto curiga. Keamanan Opa loh yang jadi taruhannya" Sebastian mengungkapkan alasan supaya sang istri mengerti.


"Hhmmmm baiklah. Aku percaya sama kamu sayang" kata Mutia.


Sebastian pergi setelah pamitan ke Mutia.


"Dewa, kita ke alamat ini dulu" suruh Sebastian sambil menyebutkan alamat yang dimaksud.


Sebastian mencoba menghubungi nomer yang ada di kartu nama itu


"Selamat pagi, dengan tuan Budi?" tanya Sebastian.


"Selamat pagi, maaf tuan Budi sedang bersama klien. Ada yang bisa kami bantu. Saya Hana asistennya" beritahu Hana.


"Baik nona Hana. Saya Sebastian Putra, CEO Blue Sky. Bisa kah hari ini saya membuat janji temu dengan bos anda?" Sebastian menimpali.


"Baik tuan Sebastian. Akan saya tanyakan dulu, nanti saya kabari kembali. Terima kasih" pungkas Hana.


"Dewa, kau siapkan berkas-berkas untuk mengakuisisi semua perusahaan yang dipegang oleh tuan Supranoto" perintah Sebastian.


"Bukannya ada saham Frans juga di salah satu anak cabangnya" imbuh Dewa.


"Bagaimana anda yakin Tuan?" ucap Dewa penasaran.


"He...he....tujuan Supranoto mencari Opa Winardi untuk apa? Selain memaksa untuk menandatangani surat kuasa untuk menjual semua perusahaan dan aset-asetnya" ucap Sebastian terkekeh.


Ponsel Sebastian berdering, dan terlihat nomor yang tadi dihubunginya.


"Maaf tuan Sebastian, dengan Budi ini. Adakah yang bisa dibantu?" sapa tuan Budi ramah.


"Baik tuan, saya mau membuat janji temu dengan anda hari ini. Bisa kah?" kata Sebastian.


"Bagaimana kalau selepas makan siang. Sebelumnya saya ada janji temu dengan tuan Supranoto" jelas pengacara Opa Winardi itu.


Dahi Sebastian berkerut mendengar ucapan tuan Budi.


"Oke tuan, di mana kira-kira saya bisa menemui anda?" tanya Sebastian.


"Di kantor saya saja" tukas Tuan Budi dan menyebutkan alamat lengkap kantornya.


Biasanya Dewa lah yang mengatur pertemuan-pertemuan Sebastian dengan klien.


Tapi karena amanat Opa Winardi, semua Sebastian lakukan sendiri.


"Gimana tuan, kita ke mana dulu?" tanya Dewa.


"Ke Blue Sky aja dulu" pinta Sebastian.

__ADS_1


"Siap Tuan" jawab Dewa membelokkan laju mobil ke arah Blue Sky.


Sebastian dan Dewa menyelesaikan semua pekerjaan yang ada di Blue Sky terlebih dahulu sebelum nanti menemui tuan Budi.


"Wa, nanti kalau nggak keburu. Selepas dari tuan Budi kita mampir ke Opa Winardi. Siapkan semuanya jangan sampai ada yang kelewat" suruh Sebastian.


"Siap tuan" Dewa melangkah menuju ruangannya sendiri.


Ponsel Dewa berdering, kali ini Dena lah yang menghubungi.


"Halo Wa, gimana kabar kamu. Gimana kalau nanti makan siang bareng dekat sini" ajak Dena.


"Sori Den, hari ini sibuk banget. Malah selepas makan siang, diajak Tuan Sebastian" terang Dewa.


"Yaaaahhhhhh, padahal aku mau ngomong sesuatu ke kamu" kata Dena.


"Bicara sekarang aja!" seloroh Dewa.


"Nggak seru, kalau nggak ketemu langsung" imbuh Dena


"Weekend ini nonton yuk Den" ajak Dewa. Daripada bete mendingan jalan sama Dena. Pikir Sebastian.


"Beneran nih ngajak?"


"Heemmmm" ulas Dewa.


"Oke, kujemput nanti ya. Sekarang mari kita kerja dulu" Dewa mengakhiri panggilan telpon.


Dewa membayangkan ketemuan pertama dengan Dena saat di kota S. Dia sibuk dengan peresmian cabang baru Mutia Bakery. Sedang Dewa sedang menemani sang tuan karena melarikan diri dari pernikahannya.


Dena yang marah karena Dewa tak sengaja memanggilnya nyonya saat sarapan di hotel yang sama. Gadis galak, itulah kesan pertama Dewa.


Dewa tersenyum sendiri membayangkan itu semua.


Hingga sebuah tepukan di bahu mengagetkannya.


"Kerja wooiiii..." teriak Sebastian di telinga Dewa.


"He...he..." Dewa terkekeh karena ketahuan sang bos.


Dewa mempersiapkan berkas-berkas yang sekiranya diperlukan nantinya.


Dewa sudah terbiasa dengan semua itu. Puluhan perusahaan telah diakuisisi oleh Blue Sky, di luar cabang -cabang yang didirikan sendiri oleh tuan Baskoro.


"Kita makan siang di luar saja" ajak Sebastian.


Bos dan asistennya itu keluar ruangan masing-masing saat jam makan siang.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2