WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 106


__ADS_3

Bik Sumi duduk tepat di depan Sebastian. "Santai aja bik, tuan tidak akan memakanmu" canda Dewa untuk mengurangi ketegangan bik Sumi.


"Iya bik, biasa saja" tukas Sebastian singkat. Tapi tetap dengan wajah serius.


"Begini bik, saya hanya ingin mengetahui masa kecil istriku. Dengar-dengar mendiang mertuaku tetangganya bik Sumi" ucap Sebastian masih dengan nada serius.


"Kirain mau nanya apa Tuan. Ternyata tentang nyonya to?" Bik Sumi terkekeh.


Sebastian mengangguk.


"Memang benar adanya kalau nyonya itu adalah putri pak Aminoto dan bu Aminah. Kalau bu Aminah itu memang tetangga saya tuan. Malah teman sepermainan bibi dulu" bik Sumi mulai bercerita.


"Tapi kalau pak Aminoto saya nggak tau aslinya darimana. Karena sepulang kerja dari kota bu Aminah telah menikah dengan pak Aminoto dan membawa anak yaitu nyonya Mutia itu. Bu Aminah bilang kalau pak Amin dari kota yang jauh, kalau dijelaskan pun tetangga tidak bakalan tau. Karena pak Aminoto orang yang baik, makanya tetangga tidak ada yang mempersalahkan lagi asal usul pak Aminoto".


"Pak Aminoto bahkan rela bekerja apapun untuk menghidupi keluarganya" bik Sumi mengakhiri ceritanya.


"Jadi bibik juga nggak tau lahirnya istriku?" tanya Sebastian.


"Ya nggak lah tuan. Bahkan waktu kembali ke desa kan nyonya sudah berumur sekitar lima tahun" tukas Bik Sumi.


Dewa dan Sebastian saling pandang. Pasti ini bersinggungan dengan akta kelahiran sang istri yang baru dibuat saat usia Mutia hampir enam tahun.


"Sayang, kemari sebentar!" terdengar suara Mutia dari ruangan sebelah.


"Bentar" jawab Sebastian.


"Dewa, kau tau kan apa yang harus kau lakukan?" bisik Tian.


"Siap tuan, aku permisi dulu" Dewa memberesi berkas-berkas di meja dan telah dibubuhi tanda tangan sang bos.


Sebastian beranjak masuk ruangan sang istri yang sekarang ditemani oleh Dena.


"Sayang, aku mau sesuatu" ucap Mutia.


Sementara bik Sumi berada di belakang Sebastian.


"Mau minta apa?" Sebastian menawari.


Mutia nampak berpikir sejenak, "Beneran mau nyariin?" tanya Mutia.


"Kuusahakan kalau nggak susah...he..he.." jawab Sebastian.


Mutia masih terdiam.


"Minta apa?" Sebastian masih menunggu.


"Kembang gula kapas yang dijual di pasar malam" Mutia mengatakan keinginannya.


Sebastian nampak berpikir. "Makanan apa itu? Gula mana bisa dibuat bunga?" tanyanya heran.


Mutia hanya terbengong mendengar ucapan sang suami. Sejenak dia terlupa siapa sosok suaminya itu. Dalam kamus hidupnya, tentu saja dia tak kenal dengan makanan yang diminta oleh Mutia tadi.


Dena dan bik Sumi bahkan menahan tawa melihat ekspresi Sebastian.

__ADS_1


"Daripada repot tinggal cari aja gambarnya di ponsel Tuan" beritahu Dena.


"Nah. Pintar juga kamu Dena" Sebastian mengambil ponsel.


"Emang benar yang seperti ini? Bisa dimakan ini?" Sebastian menunjukkan gambar ke sang istri.


Mutia mengangguk.


"Emang nggak bahaya buat kehamilan kamu?" Sebastian duduk di dekat sang istri tanpa memperdulikan keberadaan Dena dan bik Sumi di ruangan itu.


Mutia mencebik, "Ya udah, aku nyuruh Dena aja"


"Iya...iya..aku berangkat. Nggak usah ngambek" Sebastian mengelus rambut sang istri.


So sweet. Batin Dena.


Sebastian pun hendak keluar untuk mencari apa yang diinginkan sang istri. "Titip istriku ya bik, Dena" ucap nya saat akan keluar ruangan.


"Kami akan menjaga sepenuh jiwa dan raga Tuan" seloroh Dena.


.


"Kak, gimana rasanya sekarang? Masih mual?" tanya Dena.


"Enggak, sudah lumayan baikan" Mutia merubah posisi tidurnya.


"Tuan Sebastian perhatian sekali ya? Beruntung sekali kakak" Dena mendudukkan pantatnya di kursi.


"He...he...iya. Suamiku mungkin juga ingin menebus kesalahannya dulu karena tidak pernah menemaniku" celetuk Mutia.


"Mumpung ada yang siaga, manfaatin kak" canda Dena.


"Ih, nggak boleh begitu Dena" tukas Bik Sumi.


"Iya..iya bik" Dena terkekeh menjawab bik Sumi yang suka serius menanggapi ucapan Dena.


.


Sebastian menyusuri jalan utama untuk mencari makanan yang diminta sang suami.


Dia juga mencari area pasar malam yang sudah langka di kota besar ini. "Di mana aku harus nyari? Ini juga masih siang, mana ada pasar malam buka" gumamnya.


Tak sengaja dia melihat keberadaan tuan Supranoto di mobil yang berhenti tepat di sampingnya.


"Ngapain juga tu4 bangk4 itu berada di daerah ini? Setahuku tidak ada proyek yang dikerjakan perusahaannya di sini" gumam Sebastian.


Lampu telah menunjukkan warna hijau, Sebastian melajukan mobilnya pelan. Sementara mobil tuan Supranoto berhasil mendahului laju mobil yang Sebastian kendarai.


"Lho kok malah belok ke kiri?" heran juga Sebastian.


Karena di sana hanya ada sebuah bangunan lama .


"Oh iya, bangunan lama itu kan juga aset perusahaan tuan Baksono mertuanya tuan Supranoto" Sebastian kembali bergumam.

__ADS_1


Sebastian tak jadi mengikuti mobil tuan Supranoto, karena dirasa tak ada hal yang mencurigakan. Sebastian kembali fokus dengan permintaan sang istri. Kembang gula kapas.


Sampai waktunya tiba makan siang, Sebastian belum mendapatkan apa yang diinginkan sang istri.


Sebastian membelokkan laju mobil ke sebuah resto. Karena perutnya telah berdemo, sedari pagi belum terisi makanan karena terburu ke rumah sakit.


Sebastian sengaja duduk di pojok ruangan. Karena dia berpikir pasti tak ada yang mengenalnya di sini. Apalagi ini hanya resto kecil.


"Silahkan pesan pak" seorang pramusaji menyodorkan buku menu yang sedikit lusuh itu.


Dalam hati Sebastian ragu antara jadi dan tidak jadi pesan.


Kalau batal perutnya sudah terlalu lapar, kalau jadi kondisi resto yang menurut Sebastian kurang terjaga kebersihannya.


"Bismillah aja, semoga aman ni perut" Sebastian akhirnya memesan daging steak.


Tak sengaja dia melihat sesuatu seperti yang diminta sang istri sedang dijajakan di depan resto.


"Bukannya itu makanan yang diminta istriku" celetuknya.


"Pak...pak...ke sini" panggil Sebastian ke arah penjual.


"Pak, ini namanya makanan apa?" tanya Sebastian mencocokkan apa nama makanan itu.


"Kembang gula tuan" jawabnya yakin.


"Kubeli semua" tandas Sebastian.


Bahkan Sebastian menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah untuk membayar makanan itu.


"Ini terlalu banyak tuan" celetuknya.


"Nggak papa, anggap saja rejeki" imbuh Sebastian.


"Pak, boleh minta tolong. Masukin aja di mobil kedua dari kanan" pinta Sebastian sambil menekan remot untuk membuka pintu mobil yang terkunci.


"Baik tuan" angguk bapak-bapak penjual itu.


Sebastian melanjut acara makannya yang tertunda karena beli makanan yang diminta sang istri.


Sebuah pesan dari Dewa masuk ke ponsel Sebastian.


"Asal usul tuan Aminoto ternyata berasal dari kota ini tuan" bunyi pesan dari Dewa.


"Apa ada kaitan dengan keluarga Baksono?" balas Sebastian.


"Belum sampai sana tuan penyelidikanku" ketik Dewa.


Aku tanya istriku saja, apa punya saudara di kota ini.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


Ke Korea beli ramen, up datang yukk komen 😅🤗


💝


__ADS_2