WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 84


__ADS_3

"Dewa...abis ini belikan es campur!!!" teriak Sebastian dari ruang kerjanya.


Dewa menghentikan suapannya.


"Es Campur????? Cobaan apalagi ini Tuhan" gumam Dewa.


Mereka yang berada di meja makan saling menatap heran, kecuali Langit yang sedang asyik menikmati makan yang terhidang di atas meja.


"Abis ini keluarlah Wa. Belikan apa yang diminta suamiku, daripada kena marah lagi" ujar Mutia.


"Baik nyonya. Tapi masalahnya..." Dewa terdiam sesaat.


"Ada masalah?" sahut Mutia.


"Masalahnya aku belum tau apa itu es campur" celetuk Dewa.


"Aduh Dewa. Percuma jabatan mentereng asisten CEO Blue Sky, tapi es campur aja nggak tau" ledek Dena.


"Ntar kalau dibelikan di resto, tuan marah lagi" imbuh Dewa.


"Kuantar aja. Payah kau" ejek Dena lagi.


"Nyonya, ngomong-ngomong apa anda sudah telat?" selidik Dewa.


"Hah???" Mutia melongo.


Karena setelah dipikir oleh Dewa, kelakuan Sebastian persis seperti enam tahun yang lalu pasca tragedi malam itu. Dewa yang sudah ikut Sebastian lama, semakin memahami karakter sang bos.


"Maaf ya nyonya. Apa anda sudah telat?" Dewa bertanya lagi.


"Maksudmu apa Wa?" imbuh Mutia.


"Telat haid maksudnya nyonya" tukas Dewa.


"Ah, nggak sopan kau Dewa" Dena meninju lengan laki-laki yang berada di sampingnya.


"Eh, aku hanya ingin memastikan saja. Karena kelakuan tuan saat ini persis seperti kejadian enam tahun lalu. Minta hal-hal yang aneh. Bentar lagi tuan pasti mengalami mual muntah hebat" tebak Dewa.


"Aku belum telat Wa, emang belum waktunya siklus tamu bulananku datang. Masih minggu depan" jelas Mutia.


"Tapi bisa saja kan nyonya, adiknya Langit sudah hadir. Apalagi tuan kelihatannya selalu kejar tayang" ungkap Dewa tanpa filter.


Dan seperti biasanya, Mutia malu menanggapi. Jangankan kejar tayang. Dosis obat saja kalah sama jam tayang seorang Sebastian.


"Sayang, ke sini sebentar" panggil Sebastian.


"Iya sebentar" jawab Mutia.


"Tuh Wa, abis makan langsung cari es campur. Maafin suamiku yang selalu buat repot ya" ujar Mutia beranjak menuju ruang kerja. Dewa mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Langit, siang ini ditemani bik Sumi ya tidurnya" pesan Mutia.


"Bun, boleh ikut Om Dewa sama aunty Dena?" sela Langit.


Mutia mengangguk, "Tapi abis itu tidur siang loh".


Langit, Dewa dan Dena keluar apartemen untuk mencari apa yang menjadi permintaan Sebastian.


Bik Inem juga telah turun ke apartemen Mutia setelah membersihkan meja makan.


Mutia menemui Sebastian yang berada di ruang kerja dengan mode ngambek.


"Dewa sudah berangkat belum?" tanyanya menengok ke sang istri.


"Sudah, barusan mereka berangkat" jelas Mutia.


"Tolong bilang ke Dewa, es campur nya harus ada toping durian" kata Sebastian.


"Sekarang kan lagi nggak musim durian sayang" tukas Mutia. Sebastian diam tak mau menanggapi, karena memang saat ini dia sangat ingin es campur dengan durian. Membayangkan saja membuatnya menelan ludah.


Alamat Dewa akan kesulitan lagi mencari permintaan suamiku. Batin Mutia.


Mutia mengirimkan pesan ke Dewa sesuai permintaan Sebastian.


Sementara di dalam mobil, Duo D dan Langit sedang bernyanyi bersama lagu anak-anak yang Langit bisa.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Dewa. "Dena, tolong kau buka. Barangkali penting" ucap Dewa karena sedang fokus menyetir.


"Dari kak Mutia" ulas Dena.


"Buka aja" Dewa membelokkan mobilnya ke arah jalan yang dia tau di sana ada beberapa penjual es campur.


"Tuan Sebastian meminta es campur yang ada duriannya" ucap Dena setelah membuka pesan itu.


"Apa sekarang sedang musim durian?" tanya Dewa, dijawab gelengan Dena.


"Matih gue...terus nyarinya di mana dong? Nggak mungkin penjual pinggir jalan jualan dengan toping lengkap kalau buahnya saja sedang tidak musim" gumam Dewa.


"Kita harus berusaha. Figting" tukas Dena memberi semangat.


Dewa berpikir, kira-kira di mana dia mendapatkan es campur dengan toping lengkap. Sang tuan benar-benar mengerjai dirinya hari ini.


"Dewa, di foodcourt mall Dirgantara kayaknya ada deh. Kita coba aja" celetuk Dena yang baru teringat.


"Kau juga, kenapa nggak bilang dari tadi sih. Putar balik dong. Mana ini jalan searah semua" ketus Dewa lengkap dengan gerutuannya.


"Namanya juga baru ingat" sungut Dena.


"Om, aunty masih lama kah?" tanya Langit yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1


"Iya Langit, ini juga lagi putar balik" jelas Dena.


Sementara di apartemen, Sebastian lebih gelisah lagi. Es campurnya kenapa nggak datang-datang. Dia berjalan mondar mandir di ruang kerja.


"Sayang, duduklah. Dewa juga lagi usaha tuh" ucap Mutia.


"Dewa lama sekali ya yank?" Sebastian menghampiri Mutia.


"Kalau nggak pake durian mustinya sudah dapat dari tadi. Tapi kan inginnya yang ada toping durian. Mana sekarang nggak musim. Dewa dan Dena pasti kesulitan sekarang" kata-kata Mutia penuh penekanan. Jengkel juga dengan kelakuan Sebastian yang dirasa tidak jelas itu.


"Ya sudah, bilang Dewa kalau gitu. Nggak usah pake toping durian nggak apa-apa. Tapi bungkusin bakso di abang yang jualan depan parkiran Blue Sky. Bilang aja super pedas" tukas Sebastian.


Mutia pun kembali mengirim pesan ke Dewa, menulis apa yang menjadi ralat permintaan Sebastian.


Dewa pun menyuruh Dena untuk membuka kembali pesan yang masuk.


"Dari kak Mutia" bilang Dena ke Dewa.


"Baca aja" suruh Dewa.


"Tuan bilang, kalau nggak ada durian yang biasa aja nggak apa-apa. Tapi tuan juga ingin bakso yang dijual di depan parkiran Blue Sky. Super pedas katanya" jelas Dena.


Dewa hanya melongo. "Terus es yang kita dapat dengan toping lengkap itu buat apa dong? Berarti kita putar balik lagi ni ke Blue Sky??" Dewa seakan terpaku. Sungguh terlalu. Batin Dewa.


Dengan penuh perjuangan, karena harus mengukur jalan. Putar balik...putar balik...Dewa akhirnya mendapat pesanan Sebastian. Dewa juga akhirnya membeli es campur yang tanpa durian. Daripada suruh balik, bisa berabe dong.


Sebastian sudah tak sabar menunggu kedatangan Dewa.


Saat Dewa masuk, Sebastian telah menyilangkan tangannya di dada. "Lama kali kau ini" ujarnya.


"Maaf tuan" hanya itu yang bisa diucapkan Dewa.


Belum hamil aja sudah merepotkan seperti ini, apalagi kalau nyonya Mutia hamil. Bisa repot seisi dunia, gerutu Dewa.


Dena menyerahkan beberapa bungkusan tas plastik yang dibawanya ke Mutia.


"Ini kak, pesanan tuan" ucap Dena.


"Makasih ya semuanya" senyum tulus menghiasi bibir Mutia.


"Dewa, Dena duduk dulu! Kalau ada yang salah dengan pesananku tadi. Siap-siap saja untuk menghabiskan" perintah Sebastian.


Tanggapan berbeda dari duo D. Jika Dewa mendengus kesal, beda lagi sama Dena. Dena malah berdoa, semoga pesanan yang didapat tidak sesuai selera sang tuan. Jadi dirinya ikut kecipratan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Alpukat kedondong, vote nya dong πŸ€—

__ADS_1


Salam sehat πŸ₯°


πŸ’


__ADS_2