WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 64


__ADS_3

Bahkan Mutia cukup kaget melihat baju wanita juga telah banyak di sana. Bahkan logo dari masing-masing baju juga masih setia menempel di sana. Semuanya baru. "Kapan dia nyiapkan semuanya??" batin Mutia. Mutia tak menyangka sebegitunya Sebastian prepare untuk semuanya.


Saat asyik memilih baju yang akan dipakainya, tiba-tiba saja Sebastian masuk ke ruangan itu dan menguncinya dari dalam "Loh kok malah belum ganti, sengaja menunggu kah?" goda Sebastian. "Aku masih penasaran sama yang itu" tatap matanya ke arah dada Mutia. "Ih mesum" tukas Mutia. "Benaran, pasti kamu sekarang belum pakai apa-apa kan?" Sebastian masih nyari kesempatan. Bahkan Mutia juga tidak tau kalau tongkat panjang Sebastian mulai menegang.


"Langit di mana?" selidik Mutia. "Takut keganggu ya enak-enaknya?" ucap Sebastian semakin absurd. "Langit sedang asyik di kamar barunya. Aku sengaja nelpon Dewa untuk menemaninya sebentar" jelas Sebastian. "Sampai sebegitunya usaha mu" perjelas Mutia. "Iya lah mana mau aku kehilangan moment" Sebastian mendekat dan Mutia pun mundur. "Ayolah sayang, kita mulai lagi yang tertunda tadi" tatap mata Sebastian bahkan mulai berkabut gair4h. Mutia bisa apa, kewajiban istri memenuhi hak suami. Sebastian langsung menyambar bibir ranum Mutia saat Mutia mengangguk memberi persetujuan. Sebastian membimbing Mutia yang bahkan belum berpengalaman itu. Dia sentuh tubuh sang istri penuh kelembutan, biar respon tubuh Mutia tidak seperti sebelumnya.


Sebastian susuri setiap jengkal tubuh sang istri kali ini, bahkan beberapa jejak Sebastian tinggalkan. Mutia dia rebahkan di sebuah kursi panjang yang ada di ruangan wardrobe yang telah dikunci saat dia masuk tadi. Sungguh persiapan yang matang Sebastian. Bahkan Sebastian telah menemukan gundukan kembar 36B yang telah menjadi miliknya sekarang. Sebuah lenguh*n Mutia lolos begitu saja. "Terus sayang...jangan kau tahan" ucap Sebastian menyesap puncaknya dan bermain di sana dengan lidahnya. Entah rasa apa yang dirasakan, Mutia bahkan sangat menikmatinya.


Tak cukup bermain disitu, tangan Sebastian sekarang mulai bermain cantik di inti tubuh istrinya. Mutia semakin tak tahan dibuatnya. Bahkan tangan Sebastian menuntun tangan Mutia untuk membelai tongkat sakti miliknya. Mutia membelalak, "Besar sekali???" tanyanya heran. "Kau pasti akan senang dibuatnya, percaya dech. Ayo elus kepalanya" pinta Sebastian membimbing tangan Mutia melakukan seperti yang dipintanya. Sebastian kembali ke hobinya yang baru, bermain buah ceri dengan lidahnya. Mutia semakin tak tahan. Setelah di rasa siap, Sebastian mulai menggesek dan berusaha memasukkannya. Mutia melotot kesakitan saat punya Sebastian sukses mendobraknya, "Tahan sayang, sedikit lagi" Sebastian kembali *****4* bibir Mutia. Sesuatu yang begitu mengganjal di inti tubuh Mutia itu mulai bergerak maju mundur seirama dengan pergerakan Sebastian. Mutia bahkan mencakar punggung Sebastian, karena rasa sakit tetapi nikmat itu.

__ADS_1


Sebastian mencium kening Mutia, "Terima kasih karena telah memberikan hak ku" bisik Sebastian. "Ayo mandi lagi, habis itu kita makan malam" ajak Sebastian. Sementara Mutia kesal karena disuruh mandi lagi. "Come On Sayang" gandeng Sebastian yang melihat Mutia masih belum beranjak dari tempatnya. Mutia merasa aneh saja, trauma nya bahkan dengan mudahnya hilang. Dan saat adegan itu tadi, Mutia begitu menikmati. Jadi malu sendiri, batin Mutia. "Mandi atau mau sekali lagi?" Sebastian balik mendekat ke istrinya. Mutia segera beranjak dan memakai kembali jubah mandi yang sudah lepas sedari tadi. Meski agak kesulitan berjalan, Mutia segera menyembunyikan dirinya di kamar mandi. Sebastian tertawa melihat polah istrinya yang masih nampak malu-malu itu. Bahkan mereka melakukan untuk kedua kalinya di ruang wardrobe. Yang pertama dulu dan jadi Langit tetap masuk dalam hitungan ya...he


Dan benar yang diucapkan oleh Sebastian, kali ini cukup sekali dulu merasakan nikmatnya dunia. Sebastian tak berjanji untuk tak mengulangnya. Saat Mutia sibuk kembali membersihkan diri, Sebastian malah asyik berenang. Dia panggil Dewa dan Langit yang sedang asyik main game bersama. "Dad, malam-malam kok berenang?" tanya Langit. "Iya sayang, biar badan bugar" jelas Sebastian. "Lain kali, Langit juga mau berenang lagi sama Daddy" ucap Langit lagi. Sementara Dewa yang melihat aura beda dari sang tuan, berusaha meledeknya. "Kayaknya sudah ada yang sukses nih" ledek Dewa. "He...he...pasti dong" Sebastian menimpali. "Berapa ronde?" Dewa penasaran. "Kepo" Sebastian kembali masuk ke kolam renang. Dan byurr, Dewa pun kena imbas cipratannya. Sumpah serapah dalam hati Dewa. Mau bersuara tapi Langit ada di sampingnya. Jadilah dia hanya mengumpat sambil membatin.


"Tuan, jangan bilang kalau menyuruhku kemari juga karena kau ingin anu-anu dengan nyonya Mutia, sementara kau menyuruhku menemani Langit???" tanya Dewa kembali. "Cerewet kau ah" Sebastian naik ke pinggiran kolam renang dan segera memakai jubahnya. Dengan santainya Sebastian kembali ke kamar, "Langit sama Om Dewa dulu. Daddy mau mandi" bilang Sebastian. "Oke Dad" tukas Langit masih fokus ke tab nya.


Dan sesuai janji Sebastian, mereka bertiga makan malam di sebuah resto mewah. Sementara Dewa sudah ngacir duluan. Dia nggak mau gangguin acara keluarga baru itu. "Langit, pesan aja menu yang kau suka" ucap Sebastian ke putra yang duduk di sampingnya. "Oke Dad" Langit memilih-milih menu yang tercatat di sebuah buku menu itu. "Langit, pesan yang benar-benar kamu inginkan. Mubadzir membuang makanan. Oke???" Mutia mengingatkan. "Siap bun" Langit benar-benar melakukan apa yang menjadi perintah bunda nya. "Padahal sekali-kali aku juga ingin menyenangkan kalian lho" imbuh Sebastian berbisik di telinga Mutia. "Ini sudah cukup menyenangkan bagiku dan Langit. Lagian sayang aja kalau menghamburkan uang percuma" imbuh Mutia. Bahkan dia lupa siapa suaminya, batin Sebastian.


Mutia mampir ke apartemen miliknya. Dia sengaja mampir ke martabak langganannya, dan memberikan oleh-oleh buat Dena dan bik Sumi. "Makasih kak, makasih masih ingat kita-kita yang kalau malam suka kelaparan ini..he..he... Betewe tuan Sebastian mana sama Langit?" tanya Dena penasaran. "Mereka sudah naik duluan. Langit sudah ngantuk tadi. Aku pamit ya. Capek bener aku hari ini. Mau lekas tidur" celetuk Mutia. "Kakak ini aneh, yang punya apartemen malah pamit sama kita yang nebeng ini. Benar nggak bik?" tukas Dena. Bik Sumi hanya mengangguk saja. "Jangan capek-capek kak, kejar tayangnya bisa dimulai besok lagi" tukas Dena meledek Mutia. "Heleh, kayak sudah pengalaman aja" Mutia melangkah keluar dari apartemennya. "Emang beneran enak ya kak? Bikin nagih nggak sih?" Dena bener-bener kepo. "Buangetttttt" Mutia berlalu dari hadapan Dena dan menertawakan Dena yang bahkan bengong mendengar jawaban dari Mutia.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Like, komen, vote dong...buat naikkan imun menulisnya othor


Video iklan juga boleh di klik kok 😊😊


Lope lope semua. Dukungan kalian, sangat berarti bagiku 💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2