
"Halo Daddy" terdengar suara anak kecil yang sangat dirindukannya.
"Hallo sayang, kok Langit yang pegang ponsel? Bunda di mana?" tanya Sebastian. "Bunda di toilet Dad. Dad, video call dong" tukas Langit. Wah, kesempatan buat interogasi Langit nih, Sebastian pun menuruti permintaan Langit putranya mengalihkan panggilan ke video call. Sementara batin Sebastian tertawa. Terlihat wajah Langit yang sedang rebahan di sebuah kamar hotel. "Langit, lagi di mana? Tadi Daddy jemput Langit di sekolah lho. Tapi Langit nya sudah pulang duluan" cerita Sebastian.
Langit pun menjawab dengan jujur apa yang ditanya daddy-nya. "Kena kau Mutia" ucap lirih Sebastian sambil menaikkan sudut bibirnya. Nyatanya Langit bisa juga diajak kerjasama. Terdengar suara Mutia di belakang Langit. "Langit, kok ponsel bunda nyala? " tanya Mutia heran. Tadi kan ponselnya sudah dimatikan. "Aku yang nyalain bun, abis aku bosan cuma nonton kartun terus" Langit terlibat obrolan dengan Mutia dengan mengesampingkan panggilan daddy-nya.
Sementara Sebastian hanya melongo melihat Mutia yang memakai kimono mandi nya dengan rambut digulung handuk. Muka segar tanpa riasan. Bagi Sebastian, itu hal terseksi yang dilihat dari seorang Mutia. Mutia belum menyadari ulah putranya yang ternyata sedang melakukan video call itu. Mutia ikut berbaring tengkurap di samping Langit, tak sengaja dua gundukan kembar itu malah sedikit terpampang di depan Sebastian. Oh my God, batin Sebastian. Godaan apa lagi ini.
Mutia yang baru menyadari ada lelaki dewasa di layar ponselnya segera mengubah posisi. Malu, pasti. "Langit kau nelpon daddy ya? Kenapa nggak bilang bunda sih?" tanya Mutia. "Emang bunda nanya, nggak kan? Lagian yang nelpon daddy duluan bukan Langit" sergah Langit. Sebastian hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.
"Langit, mau nggak daddy jemput sekarang?" tanya Sebastian. "Nggak usah Tian, nanti malah merepotkan" cegah Mutia.
"Kamu memang sudah merepotkan ku dari tadi siang Mutia" jawab jujur Sebastian.
"Hah????" Mutia melongo mendengar penuturan Sebastian.
__ADS_1
Akhirnya Sebastian menceritakan apa yang telah dilakukannya dari tadi siang sampai malam ini. Mutia hanya terdiam melongo mendengarkannya. "Jadi, jangan kau ulangi lagi ya. Cukup sekali saja kalian membuatku cemas" jelas Sebastian.
Tak berapa lama terdengar ketukan pintu kamar Mutia. Langit yang belum tertidur, "Siapa Bun?" tanya Langit. Mutia mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu, selanjutnya bergegas membukakan pintu. Alangkah terkejutnya Mutia, terlihat sosok tampan yang tersenyum ke arahnya. Andai tidak ada trauma di dirinya, Mutia pasti akan terpesona melihatnya.
"Daddy....." Langit langsung menghambur ke pelukan daddynya. Sebastian menciumi Langit, seperti sudah berbulan-bulan tidak ketemu. "Dad, kata bunda, Langit mau diajak liburan. Makanya Langit sekarang berada di sini" celoteh Langit. Mutia hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Gagal sudah rencana Mutia yang ingin ketenangan beberapa hari ini. Langit sungguh belum bisa diajak kerjasama. Huft.
"Kenapa nggak ngajakin daddy" sahut Sebastian. "Kata bunda, daddy sibuk kerja. Perusahaan daddy kan buesar sekali" ucap polos Langit. Sebastian beralih memandang Mutia. Nampak semburat merah di pipi Mutia. "Benar bun?" tanya Sebastian dengan memanggil Mutia seperti panggilan Langit. Kali ini tak kan kulepas lagi kau Mutia, ucap janji Sebastian sekali lagi.
Mutia mendongak malu, ucapan bohongnya ke Langit terciduk oleh empunya. "He..he...emang kan kau lagi sibuk Tian?" Mutia mencoba beralasan.
"Dad, tidur sini ya? Langit ingin ditemani Daddy dan bunda" ujar Langit. Mati aku, ucap Mutia dalam hati. Sementara Sebastian terdiam, bagaimana cara menjelaskannya ke anak kecil ini. "Langit, untuk malam ini Langit tidur dulu ya sama bunda. Daddy janji dech, pagi-pagi sekali Daddy ke sini lagi" ucap Sebastian. "Daddy sama bunda jahat, Langit kan cuma ingin ditemani berdua" tukas Langit dengan mata berkaca-kaca. Mutia sungguh tak tega melihatnya. Langit yang dari kecil memang kurang bonding dengan daddynya.
"Tian, temanilah Langit" ucap Mutia tiba-tiba. Senyum langsung menyembul dari bibir Langit. "Yeeiiiìiii" teriak Langit.
Sebastian terbaring di sisi Langit, dan mendengarkan Langit berceloteh. Sementara Mutia hanya duduk di sofa, sambil melihat ponselnya. Banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Dena. Beberapa kali juga panggilan dari Sebastian. Mutia menatap kembali interaksi putra dengan daddy nya itu. Langit yang nampak antusias mendengarkan cerita pengantar tidur yang dibacakan oleh daddynya semakin tak tega untuk memisahkan mereka. Aku memang egois, ucap Mutia dalam hatinya.
__ADS_1
Sambil menunggu Langit tertidur dengan Sebastian, Mutia membuka sosmed di ponselnya. Ternyata banyak berita yang menampilkan kecelakaan kereta tadi. Mutia berhenti di gambar yang menampakkan wajah Sebastian sedang membantu mengevakuasi korban-korban kecelakaan itu. Ternyata semua yang diceritakannya tadi benar adanya, batin Mutia.
"Mutia, Langit sudah tidur. Aku pergi dulu ya. Jangan coba kabur lagi. Sangat susah untuk mencarimu" ucap gurau Sebastian.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua" bisik Sebastian di telinga Mutia dan langsung pergi begitu saja. Sementara Mutia masih termangu di tempatnya.
Tak lama setelah kepergian Sebastian, ponsel Mutia kembali berdering. "Kak Mutia" teriak Dena begitu Mutia menggeser icon hijau poselnya itu. "Pelan dikit dong Dena...pekak ni telingaku" sahut Mutia. "Sapa suruh ninggalin aku tanpa pesan, pake matiin ponsel lagi. Kirain aku nggak cemas apa" sergah Dena. "Maaf...maaf...aku hanya ingin menenangkan diri Dena" tegas Mutia. "Tapi ketenanganmu membuat cemas semua orang kak. Kamu tau tuan Sebastian sampai memblokir bandara, stasiun bahkan sampe terminal, hanya untuk mencarimu dan Langit. Oh Kak, jangan kau ulangi lagi yaa...Plissssss" ucap Dena. Mutia belum tahu kalau Sebastian sampai melakukan hal itu. Yang dia ceritakan cuma sibuk mencari keberadaan mereka dari tadi siang. "Sebastian sudah di sini tadi, ketemu Langit" celetuk Mutia. "Whatttt...????? Really....????" sela Dena yang terkejut. "Kak, semoga kau bisa membuka hatimu" ucap Dena selanjutnya. Mutia hanya tersenyum menanggapi ucapan Dena.
Saat termenung sendiri, Mutia kembali teringat sosok wanita cantik yang menemuinya sebelum Mutia pergi. "Apa benar dia mengandung anak Sebastian? Tapi kenapa Sebastian malah meninggalkannya? Apa Langit memang benar anaknya? Masa lalumu seperti apa Sebastian, hinga kau berhasil menanam benih di mana-mana?" gumam Mutia.
Tring...terlihat notifikasi pesan di ponselnya. "Lekas tidur, besok aku ceritakan semua yang ingin kamu tahu" bunyi pesan yang ternyata berasal dari Sebastian. Kayak ahli nujum, tau aja kalau banyak pertanyaan di otakku. Mutia membatin. Mutia akhirnya melakukan apa yang dibilang oleh pesan itu. Berbaring di samping Langit, kemudian menarik selimut. Mutia tertidur sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu kamar hotel yang ditempati Mutia.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued
__ADS_1