
Sesuai rencana, Sebastian mengajak Mutia untuk periksa kehamilan ke prof Abraham. Seorang dokter obgyn konsultan khusus feto maternal. Beliau adalah seorang dokter spesialis senior di kota itu, yang juga merupakan seorang guru besar. Bisa mendapatkan langsung nomer antrian pada hari yang sama saja sudah merupakan kesempatan langka. Biasanya pasien yang mau periksa harus daftar tiga hari sebelumnya.
Sampai di klinik prof. Abraham telah banyak yang datang untuk mengantri. "Sayang, segini banyak hamil semua kah?" bisik Sebastian.
"Hhmmm, kalau nggak hamil ngapain juga ke sini" imbuh Mutia.
Mutia duduk di depan kursi pendaftaran. "Sudah reservasi nyonya?" tanya bagian pendaftaran.
Mutia mengangguk, "Atas nama nyonya Sebastian apa ada?"
Petugas itu meneliti satu persatu nomer urut pandaftar.
"Bentar ya nyonya, saya teliti kembali" ucapnya sopan. Karena sebelumnya tidak menemukan atas nama yang dimaksud.
"Coba cari juga atas nama saya sendiri mba. Nyonya Mutia Arini" pinta Mutia.
Petugas itu tersenyum, "Nah ini baru dapat nyonya" ucapnya dengan sumringah.
"Ternyata anda masuk ke pendaftar VIP" imbuhnya.
"Emang beda ya mba?" tanya heran Mutia.
"Hanya berbeda di waktu daftarnya aja nyonya, kalau untuk pemeriksaan dokter Abraham tak pernah membedakan pasien-pasiennya" jelasnya lagi.
Mutia hanya mengangguk tanda mengerti.
"Maaf nyonya, akan saya data dulu untuk identitas dan biodata pasien" pintanya menunggu persetujuan.
"Baiklah" Mutia kembali membenarkan posisi duduknya.
Saat menyebut nama lengkap sang suami, petugas itu menatap Mutia. "Wah, anda adalah nyonya Mutia yang hari ini jadi trending topik ya? Selamat ya nyonya" ucapnya.
Mutia hanya mengangguk, karena setahu dia yang jadi trending topik semua stasiun tv maupun sosmed adalah suaminya.
"Bisa diteruskan pendaftarannya mba?" pinta Mutia sedikit tak nyaman.
"Baik nyonya" ujar petugas daftar itu.
Mutia mendekati Sebastian yang duduk di bagian depan kursi tunggu pasien.
"Kok lama?" tanya dia heran.
"Biasa, kalau pasien datang pertama kali harus begitu. Banyak informasi yang digali untuk kelancaran pemeriksaan hari ini maupun selanjutnya" jelas Mutia.
"Paham sekali istriku" tanpa malu Sebastian mencium pipi sang istri beberapa kali.
"Jangan gitu ah, tuh dilihatin yang lain" rajuk Mutia.
"Biarin, mereka kan juga punya yang di sampingnya masing-masing" ucap Sebastian tak perduli.
Setelah menunggu tiga puluh menit, nama nyonya Mutia Arini pun dipanggil masuk.
"Selamat sore Om Abraham" sapa Sebastian.
__ADS_1
"Kok Om?" heran Mutia.
"Jangan heran nak, suamimu ini sudah kenal lama denganku. Sejak bayi malah...he...he..." Prof. Abraham terkekeh. Karena proses persalinan Cathleen dulu dia lah yang menolong nya.
"Begitu ya prof? Senang bisa mengenal anda" tukas Mutia.
"Silahkan duduk dulu" ucap Abraham, sambil menelaah rekam medis Mutia yang baru dibacanya.
"Jadi sudah telat nih? Nak Mutia silahkan baring di meja pemeriksaan!" ucap prof. Abraham.
Mutia beranjak seperti yang diminta dokter senior itu.
Saat sang asisten prof. Abraham hendak menyibak baju Mutia ke atas, secepat kilat Sebastian menghalangi. "Mau diapakan istriku?"
"Drama CEO posesif" celetuk dokter Abraham.
"Jadi periksa nggak nih?" tatap dokter Abraham ke Sebastian.
"Lagian ya Tian, kalau nggak dibuka mana bisa probe USG ini menampilkan gambar yang kau inginkan" ujar dokter Abraham sambil mengacungkan probe ke arah Sebastian.
"Cucuku sudah empat, masak kau takut kalah saing denganku...ha...ha..." imbuhnya lagi.
"Om konyol ah" sergah Sebastian.
"Kamu itu yang konyol" tukasnya tak mau kalah.
Sebastian akhirnya merelakan perut sang istri untuk ditempeli probe USG nya dokter Abraham.
"Nih, baru terlihat kantongnya aja Mutia. Untuk janinnya belum kelihatan nih. Tapi sebentar-sebentar" Abraham memutar arah probe untuk mendapatkan lokasi yang pas.
Abraham menunjukkan kantong kehamilan dengan tanda panah hijau di layar monitor.
"Duduk dulu kalian, habis ini kujelaskan" tutur dokter Abraham.
"Tian, kehamilan istrimu sudah mencapai usia kehamilan tujuh sampai delapan minggu. Janin masih belum kelihatan. Tapi yang aku lihat sekilas di pemeriksaan tadi telah terbentuk dua kantong kehamilan. Ada kemungkinan kehamilan kembar di sana" jelas dokter Abraham.
"Karena janin belum nampak, sebaiknya dua minggu lagi kalian balik sini untuk evaluasi" saran dokter Abraham.
"Oh ya Mutia, banyak istirahat. Aku dengar kamu juga sibuk kan. Mulai saat ini nikmatilah saja harta suamimu itu. Kau gesek beberapa banyak kali pun, aku yakin angka nol nya tak bergeser" canda dokter itu.
"Khusus buat kamu Tian, jangan sering-sering tengok bayi mu di awal-awal kehamilan ini" nasehat om Abraham.
Sebastian manyun, karena dokter di depannya seolah sudah tau jalan pikirannya.
"Baik Om, terima kasih saran-sarannya" tukas Sebastian.
"Sama-sama. Nih hasil pemeriksaannya dan ini kutuliskan resep untuk penguat kandungan sama asam folat" Dokter Abraham menyodorkan sebuah buku periksa dan resep yang telah ditulisnya.
Tak disangka mereka kembali bertemu dengan pasangan Frans dan Janetra.
Melihat pasangan yang baru go public itu keluar dari ruangan prof. Abraham, Janetra memastikan kalaulah Mutia sedang hamil. Tak mau membuang kesempatan, Janetra menggandeng sang suami untuk mendekat ke arah mereka.
"Selamat sore nyonya Mutia" sapanya.
__ADS_1
Sebastian jengah juga melihat pasangan yang menghampiri mereka.
"Wah, ternyata sudah hamil saja anda nyonya Mutia. Apa anda juga menggunakan trik seperti saya untuk menggaet seorang CEO Blue Sky?" sindir Janetra.
"Ha...ha...untuk apa aku gunakan trik yang jelas-jelas gagal" imbuh Mutia.
Sebastian sengaja diam, memberi kesempatan sang istri untuk membalas sindiran telak ke wanita ul4r di hadapan mereka.
Ponsel Sebastian berbunyi dan ada panggilan dari bapak K4pold4. "Sayang, papa sudah menunggu" ajak Sebastian dan menggandeng mesra sang istri.
Sepeninggal pasangan bucin itu, Janetra semakin kesal dibuatnya. Sementara tangan Frans semakin mengepal erat.
"Mereka suka usil sekali" celetuk Mutia saat mobil mulai berjalan.
"Siapa yang kau maksud?" tukas Sebastian.
"Tadi, yang di parkiran" kata Mutia tanpa menyebut nama.
"Ha....ha...apa istriku cemburu???" seloroh Sebastian.
Moodnya menurun drastis semenjak bertemu Janetra tadi. Meski bisa mengatasi ucapan-ucapan Janetra dengan telak, tapi masih juga tersisa rasa cemburu di hati Mutia.
"Sayang, jangan cemberut aja dong" genggam erat tangan Sebastian.
"Hhmmmm" tak ada kata keluar dari mulut Mutia.
Saat mereka melewati penjual rujak buah pinggir jalan. "Stop, minggir dulu" kata Mutia tiba-tiba.
Sebastian menepikan mobil sport mewahnya dengan mendadak. Entah berapa umpatan yang dia dapat karena menepikan mobil dengan tiba-tiba.
"Ada apa?" tengok Sebastian.
"Ingin yang disana" ungkap Mutia sambil menengok ke arah penjual rujak buah yang ternyata lokasinya sudah cukup jauh dari lokasi mobil terparkir.
"Itu pedagang apaan?" tanya Sebastian.
"Rujak buah" celetuk Mutia. Bahkan Sebastian melihat bagaimana sang istri telah meneguk ludahnya beberapa kali.
"Oke, kamu di sini aja. Biar aku belikan" Sebastian beranjak dari duduk dengan pintu mobil yang sudah terbuka itu.
Mutia menahan Sebastian. "Sayang, banyakin kedondongnya ya?" rajuk Mutia.
Sebastian hanya mengangguk. Kedondong, makanan apa lagi itu? Batin Sebastian dengan tetap melangkah ke arah penjual rujak itu.
Sabar...sabar...istri ngidam.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Pagi hari ini berangkat renang #kalian masih di sini othor senang
Makasih yang masih stay tune
__ADS_1
Lope-lope dech 💝💝💝