
Selepas menerima uang sebesar lima puluh juta, Supranoto dan Martha ke rumah sakit untuk menjemput Janetra dan putrinya.
Uang lima belas juta sekian, habis untuk biaya rumah sakit. Karena sebagian ternyata telah terlanjur dibayarkan oleh Mutia selaku uang muka rawat inap. Dan Sebastian masih punya hati untuk tidak menarik uang yang terlanjur dipakai istrinya untuk membayarkan biaya rumah sakit Janetra.
"Kita naik apa Pah untuk pulang?" tanya Janetra.
"Taxi saja" jawab Supranoto.
Mereka menuju taxi yang memang banyak berjejer di depan rumah sakit untuk menunggu penumpang.
"Pak, ke jalan xxx gang IV" beritahu tuan Supranoto.
Saat di dalam taxi, "Kau ini kenapa jadi nggak berguna banget sih Janet. Abis ini carilah kerja!" hardik nyonya Martha.
"Idih, aku kan masih punya bayi Mah. Lagian jahitan luka ku juga belum kering" tukas Janetra.
"Atau cari saja Frans, minta tanggung jawab sana. Statusmu ini masih sah lho menjadi istrinya" sela tuan Supranoto.
"Gimana mau minta tanggung jawab, dia saja ada di bui" seloroh Janetra.
"Pergilah ke keluarganya, bilang kalau cucunya sudah lahir" mama Martha menambahi.
"Waktu hamil aku pernah ke sana Mah. Mereka akan dengan senang hati membiayai semua asal bayi yang kukandung ini benar-benar anak Frans" beritahu Janetra.
"Terus?" telisik papa Janetra.
"Aku juga ragu ini anak Frans atau Ardian? Kalian kan juga tahu waktu itu aku melakukannya agar bisa menjebak Sebastian, tapi dia dengan yakinnya mengelak kalau yang kukandung bukan anaknya. Bahkan dia juga punya bukti konkret untuk itu" lanjut Janetra.
"Kau buat hasil pemeriksaan palsu saja, kalau bayi ini adalah anak kandung Frans" saran nyonya Martha. Saran yang menyesatkan.
"Biaya nya pasti tak murah Mah" jawab Janetra sengit.
"Ya bagaimana caranya lah. Kenapa kau sekarang jadi oon banget sih Janet?" tuding nyonya Martha.
Dan sekarang sampailah mereka di rumah kontrakan yang selama hampir sebulan terakhir mereka tempati.
Hunian yang lumayan enak sebenarnya.
Di depan rumah sudah ada tuan pemilik kontrakan dengan berkacak pinggang.
"Hei, kalian. Tidak tahu apa kalau aku sudah menunggu kalian sedari pagi?" hardiknya dengan muka ketus.
"Ada apa tuan?" jawab Supranoto.
"Jangan pura-pura tak tahu. Aku sudah begitu baik menunggumu melunasi uang sewa yang kau janjikan sebulan yang lalu" imbuhnya.
"Baik tuan, akan saya lunasi hari ini" kata suami nyonya Martha.
"Pelunasan hari ini jadi tiga puluh juta" kata orang itu.
"Hah? Bukannya sebelum ini anda bilang lima belas juta tuan?" sela nyonya Martha.
__ADS_1
"Itu satu bulan yang lalu nyonya, sekarang naik jadi tiga puluh juta" kata orang itu dengan tetap berkacak pinggang.
"Orang kok nggak bisa dipegang omongannya" umpat nyonya Martha.
"Apa kau bilang nyonya? Bilang aja kalian tak punya uang" ledek si juragan kontrakan itu.
Nyonya Martha mulai emosi, tapi tuan Supranoto mencoba rasional.
"Kita pindah saja. Kita bisa kontrak di sini, tapi nggak ada untuk biaya hidup" kata Supranoto.
Dengan mengendong bayi, mereka mencari tempat tinggal.
Gerutuan demi gerutuan selalu mereka ucapkan dalam setiap langkahnya.
"Pah, aku capek" kata Janetra dengan nafas ngos-ngosan.
Ibu pasca melahirkan yang harusnya banyak istirahat, seharian ini Janetra malah sibuk mengikuti papa dan mamanya.
"Istirahat saja di poskamling depan itu" seloroh Supranoto.
Mereka bertiga mengistirahatkan tubuhnya di sebuah poskamling.
"Pah, nasib kita jadi begini?" ada nada kesal dalam kata nyonya Martha.
"Ini semua karena ulah orang tua itu" geram tuan Supranoto.
"Apa kita besok ke panti. Kita cari saja orang tua itu, kalau perlu kita culik" sarkas nyonya Martha.
"Kau kan juga menikmati hasilnya?" sela tuan Supranoto.
"Apa perlu kita ancam orang tua itu, yang dengan senaknya mengalihkan semua asetnya atas nama Mutia Arini" gerutuan nyonya Martha semakin menjadi.
"Kita cari kontrakan di daerah sini aja Pah. Capek aku kalau harus jalan lagi" celetuk Janetra.
"Kalian di sini saja dulu. Aku aja yang nyari kontrakannya" imbuh tuan Supranoto.
Tuan Supranoto bergegas untuk mencari tempat tinggal untuk mereka berempat, yang terjangkau menyesuaikan isi dompet yang tersisa.
Janetra duduk membenarkan posisi bayinya yang mulai rewel.
"Nasib kita kok jadi gini amat ya Mah?" kata Janetra dengan keluhan yang sama. Sementara nyonya Martha membuang nafasnya kasar.
"Ini semua karena ulah Opa Winardi. Yang mengalihkan semua milik kita ke Mutia" muka nyonya Martha bahkan merah padam karena menahan amarah.
"Kita harus balas dendam pada mereka Mah" tukas Janetra.
Saat sedang asyik ngobrol, bahkan ada orang gila yang menghampiri Janetra dan nyonya Martha.
"Mah aku takut, gimana kalau kita lari aja" celetuk Janetra.
"Papahmu gimana nanti?" sahut nyonya Martha yang mengkhawatirkan keadaan suaminya.
__ADS_1
"Nanti kan juga ketemu Mah, tinggal kita telpon aja" kata Janetra memberi solusi.
Saat orang gila itu hendak menjamah bayinya, Janetra menghardik dan membuat orang gila itu marah.
Diapun bersiap mengejar Janetra dan nyonya Martha yang telah lari tunggang langgang.
Nafas mereka berdua terengah-engah dan berhenti untuk mengambil nafas.
Saat menoleh ke belakang dilihatnya orang gila itu masih mengejar. Mereka pun kembali berlari.
"Mah, kita sembunyi di sini aja. Jahitanku belum kering Mah, nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" ujar Janetra.
"Aku telpon papa dulu" tukas Nyonya Martha.
Saat telpon tersambung, tuan Supranoto menyebutkan sebuah alamat tempat dia mendapatkan rumah kontrakan.
"Ayo Janet, papa sudah mendapatkan rumah untuk kita tinggali sementara" jelas nyonya Martha.
Ternyata tuan Supranoto hanya mendapatkan rumah sangat sederhana. Hanya ada dua kamar tidur kecil, sebuah ruang tamu sempit dan juga dapur ala kadarnya.
"Beneran kita mau tinggal di sini?" celoteh Janetra.
"Panas banget Pah" lanjutnya.
"Kalau mau tinggal di apartemen, sana pakai uangmu sendiri" hardik tuan Supranoto.
"Mana aku ada uang Pah" gumam Janetra.
"Makanya, terima aja. Sekalian kita susun rencana balas dendam kepada keluarga Winardi itu" kata tuan Supranoto.
Nyonya Martha dan Janetra manggut-manggut.
"Dan juga kita pikirkan bagaimana kita hidup selanjutnya. Uang yang kupegang tinggal lima belas juta. Yang dua puluh juta kupakai ngontrak rumah ini tadi" imbuh tuan Supranoto.
"Rumah jelek begini kenapa sewanya mahal amat" tukas nyonya Martha menelisik seluruh ruangan rumah.
"Daripada kena panas dan hujan, mendingan bisa berteduh" imbuh Janetra.
Mereka bertiga tidak tahu, segala gerak gerik mereka masih dalam jangkauan CEO Blue Sky.
Bahkan orang gila yang mengejar Janetra dan Nyonya Martha tadi pun orang suruhan Sebastian.
Orang yang punya kontrakan sebelumnya pun membatalkan uang sewa dari Supranoto juga karena perintah Sebastian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
😊
Nyenin, waktunya vote. Secangkir kopi juga boleh loh 🤗💝
__ADS_1