WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 117


__ADS_3

Apes bener nasib gue hari ini, umpat Dewa masih berada di sana dan membuang muka ke arah lain.


Salah sendiri juga loe Wa, ngapain nggak ketuk pintu. Gumam Dewa sambil memukul kepalanya yang tak pening.


Sudah gue ini Jones, dua kali ketemu adegan live terus. Dewa terus saja menggerutu, sebal dengan dirinya sendiri.


Sebastian yang baru tersadar kalau Dewa berada di sana, tertawa menanggapi.


"Ngapain nggak ketuk pintu?" tanyanya.


Sementara Mutia tersenyum kikuk, karena ketahuan Dewa.


"Buru-buru" Dewa beralasan.


"Buru-buru mau ke mana?" tandas Sebastian.


"Buru-buru menemuimu Tuan" sambung Dewa.


"Bicara kok muter-muter seperti kemudi puter. Bikin pusing tau nggak?" sungut Tian.


Aku juga pusing tuan, sedari tadi lihat tuan live terus. Umpat Dewa sekali lagi.


"Cepetan, mau ngomong apa. Aku mau keluar nih" celetuk Tian.


"Keluar aja. Silahkan. Di lobi bawah sudah ditungguin tuan Frans" sahut Dewa.


"Frans???" taut alis Sebastian.


Dewa mengangguk.


"Kenapa tak kau tolak?" hardik Sebastian.


"Sudah, tapi sepertinya memang ada hal penting yang ingin disampaikan kepada tuan langsung" sambung Dewa.


Mutia menyimak setiap ucapan Dewa.


Apa memang benar aku masih punya keluarga kandung yang lain? Pikiran Mutia berkecamuk.


Tapi melihat betapa menggebunya Frans untuk menemui dirinya dan sekarang mencari suami, bukan tak mungkin kalau hal yang dibicarakan Frans benar adanya, batin Mutia.


"Sayang, kamu istirahat lagi aja ya. Aku menemui Frans sebentar. Baru nanti barengan mampir mansion papa" kata Tian kepada sang istri.


"Wa, ajak dia ke ruanganmu atau di ruang rapat aja. Aku nggak mau Frans menginjakkan kakinya di ruanganku" perintah Dewa.


Dewa menelpon ke resepsionis bawah untuk mengantar Frans ke ruang rapat.


Sebastian melangkah ke ruang rapat, sementara Dewa melangkah mengikuti arah kaki tuannya.


"Selamat siang menjelang sore tuan Sebastian" Frans menyambut kedatangan Sebastian dan juga Asistennya.


"Ada apa tuan Frans yang super sibuk, menyempatkan mampir ke Blue Sky?" selidik Sebastian.


"Ha...ha...jangan berprasangka buruk padaku Tian. Bukannya dulu kita ini teman seangkatan waktu kuliah" Frans terbahak.


"Kukira kalian tak sedekat itu" tegas Dewa di antara keduanya.


"Oh iya, aku sampai lupa. Kita kan dulu juga teman seangkatan tuan Dewa" Frans semakin terbahak.

__ADS_1


"Alangkah baiknya kita reunian sekarang" lanjut Frans.


"Apa yang kau inginkan?" hardik Sebastian.


"Santai Tian. Sabar dulu dong" tukas Frans malah duduk di kursi rapat membuat Sebastian dan Dewa jengah bersamaan.


"Duduklah!" ucap Frans.


"Ada yang ingin kusampaikan" imbuh Frans.


Sebastian mengikuti saja ucapan Frans.


"Akan aku katakan hal penting kepada kalian, tapi satu syarat yang akan aku ajukan. Blue Sky mau bekerjasama dengan perusahaanku" kata Frans panjang lebar.


"Ha...ha...jadi kau ke sini mau menekanku. Begitukah?" gantian Sebastian tertawa.


"Kau akan terkejut kalau kau tau siapa istrimu yang sebenarnya" ucap serius Frans.


"Ooooo...aku tahu maksudmu. Setelah kau tak berhasil menemukan istriku, sekarang kau berusaha membujukku" ucap sinis Sebastian.


"Kita tahu akal bulusmu Frans. Dengan politik adu domba yang kau jalankan semenjak kuliah, kukira tak akan berhasil buat membujuk tuan Sebastian kali ini" tandas Dewa.


"Kalau tak ada yang disampaikan lagi, silahkan keluar. Pintu di sebelah sana" tunjuk Dewa ke arah tulisan 'exit' itu.


"Kau akan menyesal Tian" ancam Frans.


Sebastian malas membalas ucapan Frans.


.


Sebastian kembali ke ruangannya untuk memanggil sang istri.


Sedetik dua detik, tak ada yang menyahut. Sebastian membuka pintu yang menghubungkan antara ruang kerja dan ruang istirahat itu.


Dia terkaget, didapatinya sang istri yang tergeletak di lantai depan toilet.


"Sayang...sayang...kau ini kenapa?" Sebastian mengangkat sang istri ke atas tempat tidur.


Tak sengaja Sebastian melihat aliran darah di kaki sang istri.


"Dewa, siapkan mobil. Istriku perdarahan" teriak Sebastian saat panggilan ke Dewa tersambung.


Sebastian mengangkat tubuh sang istri yang pingsan. Sampai di lobi, Dewa telah menyiapkan mobil.


"Wa, ke rumah sakit yang sebelumnya istriku dirawat. Cepat" Sebastian sangat cemas dengan keadaan sang istri yang masih saja pingsan.


"Nyonya kenapa tuan?" Dewa ikutan cemas.


"Fokus saja lihat jalan" sergah Tian dan membentak Dewa.


Dewa terkicep diam tak menyanggah bentakan sang bos yang sedang cemas itu. Dewa tau seberapa kuatirnya Sebastian saat ini.


.


Sampai di IGD, brankar sudah disiapkan saat mobil yang dilajukan Dewa berhenti.


Sebastian dibantu perawat wanita memindahkan tubuh sang istri ke brankar pasien.

__ADS_1


"Selamat sore tuan, apa keluhan istri anda?" sapa seorang dokter jaga IGD menghampiri Sebastian dan Mutia.


"Periksa saja dokter, saya tak tahu keluhan istri saya. Karena saat aku melihat, istriku sudah seperti ini" jelas Sebastian.


"Pernah dirawat di sini?" imbuh dokter itu.


"Tiga minggu yang lalu" singkat Tian.


"Permisi, ijin saya periksa dulu istri anda" dokter wanita itu memeriksa Mutia secara menyeluruh.


Sebastian terus mengamati dokter yang memeriksa istrinya.


"Tuan, boleh duduk di sebelah sana?" ucap sang dokter seakan meminta Sebastian mengikuti langkahnya.


Sebastian pun duduk di depan dokter jaga itu.


"Tuan, saya hanya ingin memastikan kondisi istri anda. Apa sebelum ini, istri anda meminum obat peluruh kehamilan?" selidik dokter jaga.


Sebastian memicingkan netranya, mencari jawaban di mata sang dokter.


"Nggak mungkin dok. Tadi saya hanya meninggalkan dia sendirian tak lebih dari lima belas menit. Saat aku kembali istri saya sudah tergeletak di lantai" terang Sebastian.


"Baik tuan, untuk selanjutnya nyonya Mutia akan saya konsulkan dengan prof. Abraham. Dokter yang terbiasa menangani istri anda" jelasnya.


"Kapan Om Abraham datang?" tanya Sebastian tak sengaja menyebut prof. Abraham dengan sebutan Om.


"Anda kenal dengan beliau? Biasanya beliau visite selepas praktek sore. Kadang datang sudah jam sepuluh malam tuan" lanjutnya.


"Lama sekali dokter?" Sebastian tak sabar karena ingin memastikan kondisi Mutia dan janinnya.


Sebastian pun akhirnya mendial nomor prof. Abraham yang disimpan di memori ponsel. Ada nada sibuk terdengar.


Sebastian mencoba sekali lagi setelah beberapa menit.


"Halo Tian, pasti tentang istrimu kan?" tanya Om Abraham di seberang.


"Kok tahu Om?" tanya Tian.


"Ya tahulah. Barusan dokter jaga konsultasi ke Om. Sudah tenang saja. Istrimu sudah dapat penanganan terbaik. Ntar jam tujuh malam aku ke sana" jelas Om Abraham.


"Kondisi bayinya?" masih ada kecemasan di wajah Tian.


"Nanti akan ku USG dulu. Baru bisa dipastikan" lanjut prof. Abraham.


"Tapi mendengar penjelasan dari dokter jaga tentang kondisi istrimu, aku rasa janinnya tak apa-apa" prof. Abraham menambahi penjelasannya.


Kata-kata Om Abraham sekiranya bagai oase yang menyejukkan Sebastian saat ini.


"Oke Om. Makasih. Aku tunggu kedatangannya" Sebastian menutup panggilan ke Om Abraham.


Sebastian termangu, apa benar istrinya minum obat itu. Tidak mungkin seorang Mutia melakukannya. Apa ada orang lain yang sengaja memberikan obat itu. Pikir Sebastian menerka-menerka.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Nasi hangat lauk rendang #kasih komen saat up datang

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


💝


__ADS_2