
Janetra berbalik sambil menghentakkan kakinya. Dena tertawa selepas Janetra keluar dari ruangan Mutia.
Kejadian di Mutia Bakery pagi ini tak lepas dari pengamatan Sebastian. Kamera pengawas yang telah dipasang beberapa hari sebelumnya sangat berguna kali ini.
Sebastian menyeringai senang karena wanita yang merupakan bunda dari putranya itu dengan mudah mengatasi sepasang suami istri yang Sebastian yakini akan terus menganggu dirinya dan juga istri di kemudian hari.
Terpaan cobaan dan kesulitan yang telah dilalui seorang Mutia tentu saja membuat benteng pertahanan dalam diri seorang Mutia lebih kuat dan kokoh. Jangankan hanya seorang Janetra, sepuluh Janetra pun Mutia akan bisa mengatasinya. Hari ini adalah kesekian kalinya Sebastian melihat Mutia bisa mengatasi gangguan-gangguan itu.
Ponsel Sebastian berdering kembali, dari tuan Bagus sang aparat dengan dua bintang di pundak. "Selamat pagi tuan Bagus" sapa Sebastian.
"Pagi juga Tuan. Saya hanya menginformasikan atas laporan yang dilakukan oleh Nona Dena tentang penggelapan dana kantor itu. Berkas sudah kami limpahkan ke pejabat berwenang selanjutnya.Tapi kalau mengenai suap yang diberikan kepada manager dari orangnya saudara A itu akan kita selidiki lebih lanjut. Karena kasus itu sampai sekarang masih mentok di orang dengan inisial 'A' itu" jelas panjang lebar tuan Bagus.
"Terima kasih tuan Bagus" ucap Sebastian menutup panggilan itu.
Sebastian mengusap wajahnya kasar. Apa kasus ini akan berhenti lagi di Ardian? Gusar Sebastian. Bahkan kasus yang sebelumnya sampai aku di rawat inap hanya berhenti sama orang yang memberiku makanan itu. Siapa orang yang berada di balik semua ini? Beribu tanya Sebastian dalam benaknya.
Dewa memasuki ruangan Sebastian saat bos nya itu tengah melamun.
"Tuan, pagi-pagi sudah melamun saja" ucap Dewa sambil menyerahkan setumpuk berkas ke Sebastian.
"Apa ini?" Sebastian mendongak.
"Kelanjutan kerjasama dengan perusahaan rekanan di kota A. Proses kelanjutan pembangunan mall dan hotel di sana itu lho" jelas Dewa.
"Apa ada masalah?" imbuh Sebastian.
"Sementara aman tuan" jawab Dewa.
"Wa, Minggu depan saat aku honeymoon. Perkuat kinerja perusahaan. Jangan sampai orang-orang tak jelas mengganggu kesinambungan Blue Sky" perintah Sebastian.
"Emang jadi honeymoon nya. Nyonya Mutia mau? Bukannya sudah tiap hari kejar tayang tuan?" goda Dewa.
"Ha...ha...kok tau?" Sebastian terbahak.
"Semua orang juga tau tuan. Lihat rambut basah tiap hari" imbuh Dewa.
"Yang tau cuma kamu ya Wa.. ingat itu!!! Bahkan sekretaris genit di depan itu tak tahu kalau aku sudah menikah" intimidasi Sebastian.
"Kalau sampai dia tau, berarti kamu lah yang membocorkan" tandas Sebastian.
"Kalau gitu uang tutup mulutnya" ucap Dewa sambil menodongkan telapak tangannya ke arah Sebastian.
"Hhmmm...uang tutup mulut akan aku transfer kalau kau sukses menjaga perusahaan selama aku honeymoon, menjaga Langit dan sukses menggelar pesta ulang tahunku yang berbarengan dengan Langit di akhir bulan ini. Bagaimana?" Sebastian sengaja mengedipkan sebelah matanya ke Dewa untuk menggoda sang asisten.
__ADS_1
"Ih...gelay. Aku masih normal tau" balas Dewa yang melihat Sebastian genit kepadanya.
Sebastian pun terbahak.
"Tuan, beneran itu tadi adalah semua tugas yang akan kau limpahkan padaku?" tanya Dewa dijawab anggukan Sebastian.
"Matih gue, itu namanya kerja rodi tuan. Mana week end pasti nggak dibolehin libur. Kalau kayak gitu, kapan asistenmu yang ganteng ini akan dapat jodoh" tukas Dewa sok pasrah.
Sebastian semakin terbahak. "Tuh di depan ruangan juga ada yang seksi. Di Mutia Bakery juga ada Dena. Mereka berdua cantik lho" tandas Sebastian.
"Tapi tetap kalah cantik dari nyonya Mutia" jawab Dewa.
"Apa kau bilang???" suara Sebastian mulai menaik.
"Ampun tuan. Siap salah" ujar Dewa melihat Sebastian mulai cemburu. Dasar tuan bucin, umpat Dewa dalam hati.
"Jangan suka mengumpat, mau uang tutup mulutmu kupending???" Sebastian mulai membuka berkas di depannya.
Melihat itu Dewa pun keluar dari ruangan Sebastian.
Sebastian semakin sibuk berkutat dengan berkas di meja. Berkas-berkas itu perlu ketelitian yang tinggi untuk membuka lembar per lembarnya.
Sebastian meregangkan badannya yang mulai kaku karena terlalu serius dengan berkas-berkas tadi. Dilihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Waktunya makan siang ternyata. Makanya kok perut sudah berdemo sedari tadi" gumamnya.
"Ke Mutia Bakery dong" tukas Sebastian.
Dewa hanya bisa menepuk jidatnya. Kalau sudah begitu, alamat dia makan siang sendirian di kantin perusahaan yang sangat ramai di saat jam makan siang.
"Mau ikut?" Sebastian menawari.
"Emang boleh?" tanya Dewa heran.
"Boleh, asal nanti kau makan siang sama Dena. Aku sama istri dan anakku" imbuh Sebastian tertawa.
"Mau nggak?" ulang Sebastian.
"Mau tuan. Daripada antri di kantin. Keburu laper duluan" ulas Dewa.
Sebastian melempar kunci mobil ke Dewa, "Kamu yang setir!!!"
Di jalan Sebastian menelpon sang istri, "Sayang ku tunggu di resto XX ya? Kita makan siang di sana. Ajaklah Dena sekalian! Nanti biar nemenin Dewa" kata Sebastian saat Mutia menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Langit gimana? Ini dia perjalanan ke Mutia Bakery" imbuh Mutia.
"Nggak apa-apa tunggu Langit datang aja. Ntar sekalian minta anter Pandu ke resto" sahut Sebastian.
"Oke sayang" tukas Mutia
"Love you my wife" Sebastian menutup panggilan setelah mendapat jawaban yang sama dari Mutia.
"Tuan, kalau sudah menikah memang harus begitu ya? Mengucapkan kata cinta terus?" tanya Dewa.
"He...he...menurutmu?" Sebastian membalikkan pertanyaan ke Dewa.
"Tuan itu nyindir aku yang jomblo ya?" tukas Dewa.
"Jangan begitu, aku kan juga baru saja sold out Wa. Tapi kubilangin Wa, nyesal banget aku menikah sekarang" kata Sebastian dengan mimik serius.
"Kok bisa tuan? Mau kubilang nyonya Mutia ntar?" sahut Dewa sambil fokus mengemudi mobil.
"Menyesal, karena menikahnya kenapa nggak dari dulu aja...ha...ha..."Sebastian tertawa karena melihat wajah konyol Dewa.
Sebastian bahkan pamer ke Dewa, kalau sudah menikah bisa setiap saat peluk istri, cium istri bahkan makan sudah disiapin, segala keperluan tinggal pakai.
"Stop tuan. Jiwa jomblo ku meronta sekarang. Tuan tanggung jawab, segera carikan jodoh buatku" potong Dewa di saat Sebastian masih bicara.
"Gampang, bisa diatur" tukas Sebastian
Sampailah mereka di sebuah resto mewah. Bahkan karyawan di sana langsung mengosongkan sebuah ruangan VIP yang menjadi langganan tempat sang CEO Blue Sky itu.
"Mas, nanti kalau ada wanita yang mencariku
tolong antar langsung ke ruanganku" perintah Sebastian ke karyawan yang berada di depan itu.
Dewa melangkah mengiringi sang tuan menuju ruang VIP.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
matahari di saat siang, malam ada bulan # up baru datang, hanya untuk kalian
Matahari panasnya terik, kalau malam ada bintang #othor siap ketak ketik, meski badan meriang
#efekboosterkedua#🥺
__ADS_1
makasih dukungan readers tercintakuh, love bunga sekebun untuk kalian
💝