
Sebastian mengantar Langit dan Mutia sampai apartemennya. Apalagi Langit dengan gampangnya telah tertidur sewaktu di perjalanan tadi. "Boleh langsung ke kamar???" ijin Sebastian ke sang empunya apartemen. Mutia mengangguk dan membukakan pintu kamarnya. Sementara Dena hanya bisa menutup mulutnya untuk tidak berteriak karena melihat big bos Blue Sky itu sedang menggendong Langit. "Wowwwww, sungguh hot daddy" ucapnya lirih. Mutia bahkan sampai menyentil kening Dena. Dena hanya bisa mendengus kesal.
Sebastian menghampiri Mutia setelah menidurkan Langit di kamarnya. "Selepas ini jangan coba menghilang lagi!!!!" bisiknya di telinga Mutia. Mutia hanya mencebik kesal mendengarnya. Sebastian berlalu setelah mengelus rambut bunda Langit itu.
Melihat itu Dena sampai heboh sendiri. "Kak, apa ada yang kulewatkan?" ungkap Dena penasaran. "Nggak ada" singkat Mutia. "Pelit amat cerita" gerutu Dena.
"Bik, abis ini siap-siap kita tinggal berdua aja" seloroh Dena saat bik Sumi lewat di dekat mereka. "Kok bisa?" tukas Bik Sumi. "Iya, soalnya kak Mutia dan juga Langit mau pindah kesono no" ujar Dena menunjuk atap. Apartemen lantai teratas maksudnya Dena. "He..he...bisa aja kau Non Dena" jawab bik Sumi
Mutia kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Setelah mengantarkan Langit ke sekolah, dia dan Dena melajukan mobilnya ke Mutia Bakery. Para karyawan menyambut Mutia setelah dua hari sang bos menghilang...he..he... Para karyawan ikut heboh mencari keberadaan Mutia, karena melihat Dena yang kebingungan saat itu. "Ada apa dengan mereka?" tanya Mutia penasaran. "Ya mereka semua senang lah, karena bos telah kembali dari acara pelariannya" gurau Dena dan selanjutnya tertawa lepas. Mutia meninggalkan Dena yang menertawakan dirinya.
Mutia menghela nafas panjang, saat sudah duduk di kursi kebesarannya. Mulai saat ini aku nggak akan memikirkan hal-hal yang tak perlu. Yang penting Langit bahagia, perusahaan tetap berjalan. Karyawan-karyawan terjamin. Janji Mutia dalam hati. Slowly but sure.
Mutia terkaget saat ponselnya berdering. Beautiful in white mengalun merdu. "Halo" sapa Mutia. "Kalau nanti siang kamu repot, Langit biar aku yang jemput saja" suara Sebastian terdengar. "Aku nggak repot, lagian serepot-repotnya aku pasti aku menyempatkan waktu untuk Langit" tukas Mutia. "Iya..iya...baiklah kalau begitu. Pagi Mutia" Sebastian menutup panggilan telponnya.
"Huh, hanya segitu saja usahanya. Dasar laki-laki aneh" gerutu Mutia. Sementara Sebastian yang juga sedang berada di kantornya, tersenyum senang telah berhasil menggoda Mutia. Semakin galak, semakin ingin kukejar. Pasti dia saat ini sedang mengumpatiku, batin Sebastian dan itu tak salah. Dewa yang sedang masuk ke ruangan Sebastian merasa aneh melihat sang bos tertawa sendiri. "Bos, lupa minum obat?" tanya Dewa. Alhasil timpukan berkas mengenai muka Dewa.
__ADS_1
"Tuan, hari ada ada rapat dengan perusahaan Bumi Perkasa dari kota A. Pembebasan lahan di sana kayaknya kesendat" jelas Dewa. "Hmmmm..." Sebastian hanya berdehem saja menanggapi.
Tuan Dika yang memimpin rombongan telah duduk di ruang rapat menyambut kedatangan Sebastian. Berdasarkan laporan yang diberikan oleh Dewa kemarin, pembebasan lahan kesendat karena ada beberapa makelar tanah yang menghasut warga untuk menolak harga yang ditawarkan oleh perusahaan Bumi Perkasa itu. Perusahaan Bumi Perkasa digaet oleh Blue Sky karena perusahaan itu menunjukkan track record yang baik. Tuan Dika juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Blue Sky. Nilai investasi yang dikucurkan Blue Sky yang tidak main-main, sehingga tuan Dika tidak mau menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan Tuan Sebastian kepada perusahaannya.
"Tuan Dika, apa perlu aku turun tangan?" tanya Sebastian setelah tuan Dika menjelaskan kesulitan yang dialaminya. "Kayaknya memang harus begitu tuan" sanggah Dewa sebelum tuan Dika menjawab. "Benar tuan. Sebaiknya begitu. Karena ulah para makelar itu, harusnya minggu depan kita sudah mulai peletakan batu pertama akhirnya harus molor sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan" jelas tuan Dika. "Baiklah..Dewa rescedule semua jadwalku!!!!" perintah Sebastian. "Siang ini kita berangkat?" tanya Dewa. Sebastian mengangguk menyetujui.
Tuan Dika berserta stafnya kembali ke kota A terlebih dahulu. Rencana Sebastian akan menyusul. Proyek pendirian mall dan hotel di kota A sebenarnya mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah setempat, dengan tujuan untuk mendatangkan wisatawan di kota tersebut. Hal itu secara tidak langsung akan menambah income daerah itu. Tapi karena ulah beberapa orang yang tak bertanggung jawab, membuat proyek kesendat.
"Tuan selepas makan siang, heli sudah disiapkan" beritahu Dewa. "Tunda dua jam, aku mau jemput Langit terlebih dahulu" sanggah Sebastian. Dewa hanya geleng kepala. Tuan yang sebelumnya gila kerja dan tak begitu suka anak kecil, nyatanya sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Sebastian melirik pergelangan tangannya melihat jam berapa sekarang. "Wa, kau siapkan saja keberangkatan kita. Aku pergi dulu" kata Sebastian berlalu tanpa menghiraukan teriakan sang asisten.
Sebastian tentu saja ke Mutia Bakery. Usahanya untuk menggandeng owner perusahaan itu sungguh sangat serius kali ini. Sebastian tak mau ditinkung oleh orang lain, seperti ucapan tuan besar Baskoro kemarin. Sebastian yang melihat Dena sedang sibuk di outlet menghampirinya, "Dena...Mutianya ada???" Dena terperangah mendengar suara yang bisa menghipnotis semua orang itu. Seorang CEO perusahaan besar mengingat namanya, bagi Dena itu suatu kebanggaan tersendiri. "I...I...iya Tuan. Kak Mutia ada di pantry ni tadi" jelas Dena.
Sebastian pun menuju tempat yang disebutkan oleh Dena. Meski belum hafal benar tata letak outlet itu, Sebastian tetap mencarinya berdasarkan penjelasan Dena tadi. Saat sampai di pantry, dilihatnya seorang wanita yang dikaguminya itu sedang memakai apron putih dan segala atribut seorang chef. Sebastian semakin terpesona melihatnya. Bertepatan Mutia juga melihat ke arah pintu pantry yang terbuka. Alhasil mereka pun saling bertatapan dan malah saling terdiam. (He..he...bayangin aja seperti adegan drakor).
"Kok malah diam tuan? Katanya mau ketemu kak Mutia?" ucap Dena di belakang Sebastian. "I...iya" gantian Sebastian yang tergagap. Mutia melepas apron dan mendekat ke arah Sebastian. "Ke ruanganku aja" ajak Mutia. Bahkan tanpa menjawab, CEO Blue Sky itu mengekori langkah Mutia. "Ada perlu apa? Apa kamu nggak sibuk?" tanya Mutia saat telah berada di ruangannya. Mutia bahkan dibuat heran, tiap hari musti bertemu dengan Sebastian. "Mulai sekarang kau harus biasa dengan kedatanganku" ucap enteng Sebastian. "Hah...????" Mutia melotot tajam ke arah daddy Langit itu.
__ADS_1
"Ayo, bersiaplah. Kita jemput Langit bersama" ajak Sebastian. Sudut bibir Mutia sedikit terangkat saat tak terlihat oleh Sebastian. Ternyata ini salah satu usahanya, setelah menutup panggilan telpon seenak jidatnya tadi pagi, batin Mutia.
Sebastian menoel kening Mutia yang malah melamun itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
*bunga sepatu bunga matahari, othor usahakan up tiap hari
Bunga matahari indah warnanya, setelah up jangan lupa vote-nya
Bunga lily ditaruh ember, kasih like komen biar karya ini populer
😊😊😊😊😊*
__ADS_1