WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 60


__ADS_3

Sebastian menggenggam erat tangan Mutia seakan tak ingin dia lepaskan. "Itulah salah satu alasan aku memilihmu untuk menemaniku sampai tua nanti" mulai terlihat senyum di wajah Sebastian. Emosinya mulai mereda mendengar ucapan-ucapan Mutia. "Idih, mulai gombal lagi" celetuk Mutia tertawa. "Love You Mutia" kata Sebastian. Mutia dibuat terdiam mendengarnya.


"Kok diam?" tanya Sebastian. "Nggak kok, cuma aku masih merasa aneh aja. CEO Blue Sky ternyata pintar juga ngegombalin cewek" tukas Mutia. "Hanya denganmu ku berani begini. Suerrrrr" ucap Sebastian sambil mengerlingkan matanya. "Tuh kan tambah genit" utas Mutia.


Sebenarnya Mutia juga sudah tau akan hal itu. Catherine sebelumnya sudah banyak bercerita tentang diri Sebastian. Sebastian kalau sudah melakukan hal-hal konyol pastilah dirinya sudah merasa nyaman dengan orang itu. Seperti saat ini.


Mutia menyunggingkan senyumnya sedikit. Walau sedikit, semua tak luput dari pandangan Sebastian. "Ngapain senyum-senyum? Suka ya kugoda?" celetuk Sebastian lagi. "Sapa juga yang senyum" elak Mutia.


Ponsel Sebastian berdering, "Halo Wa???" jawab Sebastian dengan mode loudspeaker karena sedang fokus menyetir. "Siang Tuan, untuk berkas pernikahan sudah lengkap. Cuma untuk wali nikah nyonya Mutia bagaimana?" tanya Dewa. Kau atur sajalah" tukas Sebastian. "Tapi aku belum tahu silsilah keluarga nyonya Mutia dengan detail" jelas Dewa di sana. "Kakek ku dari ayah sudah meninggal. Sementara ayah juga tidak punya saudara laki-laki. Aku juga anak tunggal" sela Mutia di antara pembicaraan dua laki-laki itu. "Kau dengar Dewa????" tegas Sebastian. "Baik tuan.... Siapa yang menikah siapa yang repot" gumam Dewa. Tak tau kalau panggilannya masih tersambung. "Dewaaaaaa.....besok nggak usah masuk kerja lagi" ancam Sebastian. "Ampun tuan...saya tetap ingin kerja. Baik akan saya konsultasikan dengan petugas KUA" tukas Dewa dengan menutup pangilannya. "Urusan KUA beres" gumam Sebastian. "Siapa yang membereskan?" tanya Mutia. "Dewa dong...he...he..." ungkap jujur Sebastian.


Sebastian membelokkan mobil mewahnya di sebuah butik yang penampakan luarnya sudah kelihatan ekslusif. Pasti pelanggannya kelas menengah ke atas, batin Mutia. "Ayo turun. Mama Cathleen sudah menunggu di dalam" beritahu Sebastian. "Loh, ada mama?" tanya Mutia. "Iya lah. Butik ini langganan mama. Kalau aku ke sini sendiri, ogah. Yang ada hercules ku ketemu tongkat sakti" celetuk Sebastian. Hercules? Tongkat sakti? Apalagi yang dibahas ini, batin Mutia.

__ADS_1


"Sudah jangan dipikirin hercules dan tongkat sakti. Ntar kalau kita sudah ijab kabul kukasih tau hercules itu apa" ucap Sebastian semakin absurd. Mutia hanya geleng kepala mendengarnya.


Mama Cathleen sudah menunggu di dalam butik. Setelah cipika cipiki sebentar dengan mama, "Mutia pilihlah salah satu diantaranya buat ijab kabul besok" tunjuk mama Cathleen ke arah sederet kebaya modern di depannya. Mutia menurut dan mulai memilahnya. "Jeng Cathleen, ini calon menantunya??? Kalau ini mah, sainganku terlalu berat" suara orang di belakang Mutia dengam suara berat. "Sebastian mana mau dengan kau" kilah mama Cathleen. "Siapa namamu cantik?" tanyanya ke arah Mutia. "Mutia Om" tukas Mutia bingung mau manggil bagaimana. "Om....??? Jangan Om dong. Cantik begini dipanggil Om. Panggil madam saja" celotehnya. "Madam RIO" sela Sebastian. "RIO...RIO...kalau sudah begini namaku menjadi Chandra tau.." tolak madam dipanggil dengan nama aslinya. "Ha...ha..." Sebastian terbahak.


"Mutia...kuceritain ya. Baru kali ini loh Sebastian mengajak cewek ke sini. Ke sinipun paling cuman nganter mamahnya. Sebastian itu cowok pelit, ke sini nggak pernah ngeborong" ujar madam Chandra mulai menggibah. "Eh madam, cepat layani calon istriku. Kalau nggak gitu, aku pindah aja" celetuk Sebastian. "Urusan wanita, laki-laki dilarang bicara" tukas madam Chandra. "Kalau kau ngaku wanita, tongkat saktimu kau pinjamkan siapa?" ledek Sebastian. "Haissss...bisa nggak sih jaga rahasia" Madam Chandra sewot. "Jadi yang kau bicarakan tongkat sakti sama hercules tadi????" sela Mutia yang baru mengetahui maksud Sebastian. Semburat merah nampak di pipinya. "Husstttt, nggak usah diperjelas lagi dech" tandas Sebastian. "Tunggu besok, Hercules sudah bisa kau lihat" bisik Sebastian. Dan blusssshhhh merah kembali pipi Mutia.


"Jangan malu jeng, Sebastian kalau ngomong memang tidak ada filter. Aku juga heran, kenapa tuan Baskoro yang gagah bisa punya putra tengil seperti dia" ledek Madam Chandra. "Eh, kenapa bawa-bawa nama suamiku nih. Cepat bantuin Mutia calon menantuku pilih gaun" celetuk mama Cathleen. "Ampun nyonya besar, hamba siap melaksanakan perintah" tukas Madam Chandra menirukan gaya mbok emban. Mutia berasa mendapat hiburan gratis kali ini.


Sebastian mulai asyik dengan tab nya. Tak lupa dia cek email yang masuk. Ternyata banyak laporan yang masuk dari beberapa anak perusahaan. Bahkan rekanan yang dipercayanya di kota A juga melaporkan kalau pembangunan hotel dan mall yang beberapa hari lalu Sebastian datangi telah berjalan lancar. Sebastian tersenyum puas melihatnya tab nya.


Sebuah notifikasi pesan masuk dari Dewa. Dewa mengirimkan sebuah gambar di mana Janetra, Frans dan juga nyonya Martha tengah duduk bersama di sebuah resto. "Ngapain kau kirim gambar ini????" balas Sebastian. Di lihat dari situasi sekeliling resto pasti mereka masih berada di mall yang tadi. Mall Dirgantara, milik teman Sebastian yang seorang dokter anesthesi itu. "Maaf tuan, aku tak sengaja mendengar obrolan mereka. Kayaknya mereka ada maksud ke Mutia Bakery" balas Dewa. "Maksudnya??" ketik Sebastian. "Nanti coba anda tanya nyonya Mutia langsung saja. Kayaknya ada kaitan dengan pemesanan wedding cake atau gimana gitu. Soalnya nggak begitu jelas juga pembicaraan mereka" jelas Dewa dalam pesan itu. "Oke, makasih Dewa" balas Sebastian. "Sama-sama Tuan" balas Dewa lagi.

__ADS_1


Sebastian terpana melihat Mutia yang telah memakai gaun yang dibuat Madam Chandra. (Gak papa ya sedikit copas novel yang lain..he...he....???).


"Tian, gimana? Bagus nggak?" Madam Chandra menyenggol Sebastian yang masih menatap Mutia. Mutia yang ditatap sebegitunya jadi menunduk. "Hello...Mutia jangan nunduk dong" tukas Madam Chandra. "Kenapa sih kau ini? Serah Mutia dong. Jangan pandangi istriku seperti itu" sergah Sebastian. "Sudah...sudah...kalian ini dari tadi malah saling cela. Gimana sih?" mama Cathleen menengahi. "Rio, aku ambil yang ini saja. Untuk bill urusan Sebastian" kata Mama Cathleen. "Siap nyonya Bosss. Jangan lupa ntar malam harus sudah masuk rekening" pandangan madam beralih ke Sebastian. "Perhitungan kali kau ini madam" tandas Sebastian. "Ya iyalah, apalagi dengan CEO Blue Sky nggak ada ya yang namanya diskon. Ingat gaun yang kau bawa itu limited edition" tekan madam Chandra di akhir kalimatnya. "Bukan gaunnya yang limited edition, tapi yang mau makai gaun besok itu yang benar-benar limited" kata Sebastian yang sebenarnya memuji calon istrinya.


Setelah melepas gaun, Mutia pamit dengan mama Cathleen dan juga Madam Chandra. "Eh Mutia, abis ini ajak Sebastian tuh ke spa. Calon pengantin musti perawatan atuh" saran Madam Chandra. "Dan jangan lupa gesek terus kartunya Sebastian, biar berkurang tuh nolnya yang berbaris rapi" lanjutnya sambil tertawa.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


#operasi caesar pake spinal anesthesi #yang sudah ngikutin othor ucapkan terima kasih 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2