WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 136


__ADS_3

Tania membukakan pintu mobil untuk Janetra.


Dengan dibantu oleh security, Janetra dipapah masuk mobil Tania.


"Siapa yang nemenin nih? Mana aku berani setir sendirian, kalau kondisinya seperti ini" tukas Tania.


"Kenapa kau selalu buat kita susah sih" gerutu Tania.


Mutia menghampiri sahabat Sebastian dan Dewa yang baru dikenalnya.


"Nggak boleh gitu Tania. Anggap aja Janetra sedang butuh rasa kemanusiaan kita" Mutia mengusap bahu Tania yang sedang menggerutu.


"Beruntung sekali Sebastian mendapat wanita baik seperti engkau" tukas Tania.


"Kudoakan juga kau akan dapat laki-laki baik" sahut Mutia.


"Aamiin" celetuk Tania.


"Kalian jadi berangkat nggak?" kata Sebastian yang baru mendekat.


"Lihat tuh" lanjutnya.


Semua melihat ke arah Janetra. Dan tiba-tiba dari arah kaki Janetra keluar cairan bening.


"Apaan ini?" keluh Janetra.


Mutia mengkerutkan dahi, "Sepertinya Janetra benar-benar mau melahirkan. Tania ayo lekas berangkat" ujar Mutia hendak masuk mobil Tania.


"Aduh..duh...mobilku. Kreditan belum lunas juga" gerutu Tania.


Sebastian meninju gadis bar-bar itu, "Ayo lekas!!!"


"Dewa, kau yang nyetir. Kau ajak Dena sekalian" teriak Tania.


"Mobilku gimana dong?" jawab Dewa yang sebenarnya enggan ikutan.


Tapi pelototan dari Sebastian membuyarkan keengganan Dewa.


"Iya...iya...aku yang nyetirin" Dewa ikutan menggerutu.


Janetra berteriak karena kesakitan menahan kontraksi.


"Kau bisa tenang nggak sih?" gertak Tania sedikit tak sabar. Mungkin karena kelakuan Janetra sewaktu dulu.


"Maafin aku Tania. Tapi ini memang sakit" ucap Janetra. Bahkan air mata keluar dari kedua netranya.


"Sudahlah Tania, sekarang bukan waktunya mengumpat. Nanti setelah dia melahirkan aja" celetuk Dewa dengan bercanda.


"Ah kalian ini bisa diam nggak sih? Aku aja miris mendengar keluhan Janetra" sela Dena.


Mereka bertiga terdiam, hanya kadang rintihan Janetra masih terdengar kala dia merasakan kontraksi.


"Janet, sakit banget ya?" telisik Tania. Janetra hanya mengangguk lemah.


Tak sampai setengah jam mereka telah sampai IGD rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Suster...suster...tolongin. Ini ada yang mau melahirkan" panggil Tania dengan keras ke petugas jaga di sana.


Dua orang menghampiri mereka dengan membawa kereta dorong. Dengan susah payah Janetra berhasil dipindahkan.


"Keluarga pasien atas nama nyonya Janetra?" panggil salah satu perawat.


Tania, Dewa dan Dena hanya berdiri mematung di sana.


"Keluarga nyonya Janetra?" perawat memanggil ulang.


Dewa hendak mendekat, tapi di tahan oleh Dena. "Emang kamu bapak bayinya?" Dena melotot ke arah Dewa.


"Tania, kesanalah!" suruh Dewa.


"Idih, ogah. Saudara bukan, temen juga bukan" elak Tania.


"Beri saja pelayanan terbaik di rumah sakit ini kak. Kita yang akan menanggung semuanya" ucap Mutia yang barusan tiba.


Tania dan Duo D terbengong mendengar kata Mutia.


Dia ini berhati manusia apa malaikat sih? Pikir Tania.


Tania menghampiri, "Jangan bilang karena rasa peri kemanusiaan kau melakukan ini?" tanya Pengacara cantik tapi tidak anggun itu.


"Memang itu alasannya" tukas Mutia.


"Setelah semua yang dia lakukan kepadamu dan suamimu?" tandas Tania.


Seorang perawat kembali mendatangi mereka. "Maaf nyonya dan tuan, kami membutuhkan beberapa tanda tangan persetujuan untuk pasien nyonya Janetra. Kira-kira siapa yang bisa mewakili?" tanya perawat itu.


"Benar nyonya, tapi pasien mengaku tidak punya keluarga. Karena dia bilang kalau suaminya berada di penjara dan tidak punya orang tua" cerita perawat itu.


"Baiklah kalau begitu, saya cukup minta tanda tangan pasien saja" lanjut perawat itu meninggalkan Mutia.


"Ayo kita pulang sayang!" ajak Tian.


"Terus, gimana Janetra?" sela Mutia.


"Sudahlah, di sini pasti ada yang akan mengurusnya. Apalagi kau telah membayar depe pembiayaan" jelas Tian.


Mutia nampak masih berat meninggalkan rumah sakit.


"Sudahlah kak, biar kita saja yang di sini. Kakak sama tuan sebaiknya pulang saja" ujar Dena.


"Dewa, jika ada tambahan lain-lain. Kau bayarkan semua" suruh Sebastian. Dewa mengangguk.


"Aku juga ikutan pulang" kata Tania dan beringsut berdiri.


Dengan kompak Dewa dan Dena menahan lengan Tania.


"Kalian mau menahanku di sini? Ogah gue bersama kalian! Bisa jadi obat nyamuk buat kalian" celetuk Tania.


Cubitan Dewa dan Dena mendarat dengan indah di lengan kanan dan kiri Tania.


"Tian, tuh sahabat-sahabatmu menganiaya diriku" Tania mengadu ke Sebastian.

__ADS_1


"Lanjutin Wa. Semoga dengan cubitan kalian, cewek bar-bar ini dideketin jodohnya" canda Tian.


Tania semakin dibuat melotot oleh ucapan Tian.


Sebastian dan Mutia hendak pergi. Tapi tangisan bayi menghentikan langkah kaki keduanya.


"Sudah lahir???" tanya Mutia. Sementara yang lain memilih terdiam.


Satu orang perawat yang tadi tadi keluar dari ruang persalinan.


"Maaf hanya memberitahu kalau bayi nyonya Janetra telah lahir" jelas perawat itu.


"Alhamdulillah" tukas semua orang yang berada di sana.


"Sayang boleh aku masuk?" pamit Mutia.


"Mau ngapain?" selidik Tian.


"Hanya memberi ucapan selamat saja buat Janetra" sahut Mutia.


Acara makan bersama sekaligus reunian antara Sebastian, Dewa dan juga Tania berujung di IGD rumah sakit.


Tiga puluh menit kemudian, Mutia diperbolehkan masuk setelah semua tindakan selesai dikerjakan.


Mutia menghampiri Janetra yang terlihat menggendong bayinya.


"Tampan apa cantik?" tanya Mutia antusias saat melihat muka bayi Janetra.


"Cantik" jawab Janetra.


"Makasih Mutia. Entah apa yang terjadi jika tidak ada budi baikmu. Aku minta maaf atas semua polahku kepadamu" ujar Janetra.


Mutia hanya mengangguk.


Setelah memastikan Janetra dipindah ke ruang rawat inap, dan bayi ditaruh di ruang bayi, Mutia pamit ke Janetra.


"Apa kau tak berniat menghubungi papa dan mamamu?" kata Sebastian yang baru nimbrung.


"Mereka ternyata bukan orang tua kandungku. Untuk apa aku menghubungi mereka" jawab Janetra dengan muka ditekuk.


"Kalau begitu terserah kau sajalah" potong Sebastian.


"Tian, jaga Mutia. Dia wanita baik!!!" kata Janetra sebelum Sebastian dan Mutia keluar dari ruangannya.


"Pasti" tegas Tian.


Semua berjalan ke arah parkir, meninggalkan Janetra bersama bayinya sendirian.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝


To be continued, happy reading.

__ADS_1


__ADS_2